Pesona Gadis Mesir ( 1 )

  Bismillahirrahimanirrahiem....
         Mukanya bersih berseri, hidung yang bangir mancung menambah pesona tersendiri bagi pemuda yang sedang berdiri di hadapanku. Bodi atletis dibalut jubah stelan khas ala Afghanistan. Walau berjenggot lebat, tapi tampak rapi dan manambah wibawa. Siapapun yang melihatnya akan merasakan ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari sinar wajahnya. Senyum hangat senantiasa tersampul dari kedua bibirnya.
“ namaku Hutsam “ sambil mengulurkan tangan padaku.
“ Ismi Faruk, Ahlan wa marhaban fi Mashr..” jawabku.
         Hutsam adalah kawan baruku dari Afghanistan. Dia baru seminggu tiba di Mesir berdua dengan kawannya Wahid. Dia senang sekali ketika kusalami dan kubantu merapikan kamar barunya.

“ Orang Indonesia baik  - baik dan ramah. Kami sangat senang sekali. kamu adalah orang pertama yang menyalami kami. “

“ Subhanallah, berarti dari pagi tidak ada yang peduli kepada mereka  berdua. ” batinku berkata. Sedari pagi Hutsam dan Wahid membenahi kamar baru mereka, di sampingnya terdapat kamar orang Nigeria dan Somalia. Dipinggirnya lagi kamar orang  Cote Divore, setelahnya kamar orang maroko di susul kamarku dan kamar orang India. Mungkin mereka sedang sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Tidak ada salahnya aku membantu kawan baruku. Lagian mereka pastinya sangat membutuhkan uluran dan sambutan dari penghuni asrama ini. Ditambah ba’da isya ini aku tidak punya kegiatan. Aku hanya tergerak oleh jiwa kepedulianku terhadap sesama. Bukannya merupakah salah satu kewajiban umat muslim untuk saling meringankan beban orang lain. “ man naffasa an mukminin kurbatan ..... “ man Farroja an mukminin...” dan sederet lain hadist yang mengusung nilai – nilai sosial. Tapi entahlah, selama di sini memang seakan yang mampu bertahan dan berdikarai atas kemampuan sendirilah yang mampu mengarungi kehidupan seterusnya. Maka celakalah orang – orang yang mudah tergantung kepada orang lain. Tidak mampu mengatur pribadi sendiri hingga keadaannya terombang – ambing dibawa arus masa.
      
          Sejak kejadian itu, mereka berdua sering mengunjungi kamarku. Sekedar untuk bersilaturrahmi dan mengajakku menghadiri haflah yang diadakan oleh kawan2 afghanistan yang lain. Tidak jarang aku diajak jalan – jalan memutari peradaban kota Mesir dari mulai piramid hingga ke Alexandria. Tapi selama ini tawaran mereka belum bisa aku terima melihat satu dan dua hal kegiatan yang kumiliki.

       Tampaknya Hutsam lebih supel dibanding Wahid. Dia lebih mudah bergaul dan lebih cepat berkawan dengan siapapun. Dari bahasapun, hutsam lebih lancar dari wahid. Tidak heran tatkala suatu hari aku bertemu di mesjid Al Azhar.  Ketika kutanya , dia ternyata sudah mulai menyetorkan hafalan kepada Syeikh Nabil di mesjid Husein. Karena waktu setornya sama denganku  kami sering berangkat bersama dari buuts menuju Darasa setiap pagi.
         Mungkin karena seringnya berjalan bersama, Hutsam semakin akrab denganku. Acapkali dia berman ke kamar sekedar untuk menanyakan pelajaran atau berbincang – bincang. Tak jarang dia datang sambil membawa banyak makanan dan buah – buahan. Hinga aku kenal watak dan kepribadian dia yang ramah dan sopan.

         Orang – orang Afghanistan memang terkenal sangat keras dan multazim sekali dalam menjalankan syariat. Mereka sangat bersemangat dalam urusan akhirat. Sepertimana yang kulihat dari semangat yang terpancar dari kawanku yang satu ini. Padahal umurnya masih di bawahku tapi semangatnya sangat jauh sekali.

         Sudah hampir setengah tahun aku tidak melihat Hutsam al afghani, baik di mesjid maupun di kuliah. Terakhir kubertemu dengannya ketika dia berkunjung ke kamar Wahid. Waktu itu dia menyampaikan sudah sampai juz delapan belas. Dan rencananya akan meneruskan ke qiro’ah Asyrah kepada  syeikh Nabil.

“ subhanallaah...” hatiku tak kuasa menahan haru ketika melihat anak baru yang sudah memiliki semangat seperti dia. Aku saja tidak berani mengambil Qiro’ah Asyroh langsung setelah kuselesaikan Qiro’ah Hafs an ‘Ashim kepada syeikh Asyraf. Aku lebih memilih untuk melanjutkan membaca dengan bacaan riwayat Imam Warsy. Disamping memantapkan hafalan juga supaya terbiasa ketika menyetorkan hafalan dengan berbagai riwayat. Jika hafalannya belum kuat, bisa repot sekali ketika membaca dengan regam sepuluh bacaan. Karena disamping hfalan alquran juga harus hafal matan syatibiyah, karya Imam As Syathibi. Dua tahun aku menyetorkan hafalan dengan bacaan imam Hafs an ‘Ashim kepada syeikh Asyraf di Darasa. Tahun ini aku melanjutkan kepada bacaan imam Warsy masih kepada beliau di serambi mesjid ja’farie.

          Mungkin karena sudah mendekati musim ujian akhir tahun, Hutsam sedang tarkiz membaca muqorror kuliah. Akupun sedang gencar – gencaranya membantai diktat kuliahku di tahun ketiga ini. Madah imtihan akhir sanah kali ini cukup lumayan, sekitar sebelas maddah. Aku harus konsentrasi penuh dalam memahami dan menguasai setiap madahnya. Mudah – mudahan tahun ini lulus, supaya tahun depan bisa pulang ke tanah air.

Pesona Gadis Mesir( 2 )



      “ Owh....jadi kamu sudah punya calon istri ?. hebat sekali kamu Hutsam, baru setahun di sini sudah dapat gadis Mesir. Pantas saja penampilanmu berubah seperti ini. kamu tidak lagi seperti orang Afghanistan yang lain. Kamu sama seperti orang – orang India dan Bangladesh. “
         Lama dia bercerita di kamarku dari sebada isya tadi hingga hampir jam satu malam. Barulah aku faham kenapa dia berubah total dari penampilan aslinya. Rupanya ada seseorang yang telah merubah dirinya. Tidak heran kalau dia rela merubah penampilan dan gaya khasnya. Karena yang merubahnya adalah keturunan siti Zulaikha, istri al aziz raja di zaman nabi Yusuf yang kemudian menjadi istrinya. Juga keturunan siti Asiyah, istri raja mesir ( Fir’aun ) zamannya nabi Musa dan Harun A.S.
          Yang menurut masisir ( mahasiswa indonesia di Mesir ) jika ada 5 orang gadis mesir berjalan maka yang tampak cantik sepuluh orang. Karena bayang – bayangnya juga masuk kategori cantik.
“ besok lusa rencananya aku mau ngajak kamu ke rumah dia. Tentunya kalau kamu tidak sibuk. Hanya sekedar jalan – jalan saja biar tidak suntuk berlama – lama di bu’uts. Apalagi sekarang musim liburan. “

“ hmmmmm....sebenarnya aku sedang ada proyek. Aku harus menyelesaikannya sebelum akhir bulan ini. “ jawabku
“ ayolah Faruk, aku hanya minta satu hari saja “
“ asal konsumsi dan kesejahteraan kamu yang tanggung ya. Aku tidak mau kelaparan selama di sana. Dan dikarenakan ini acara kamu, maka ongkospun otomatis kamu yang ngeluarin “ jawabku sambil tertawa...
“ mesyi...! mesyi..! “ sahut dia sambil ikut tertawa.
    Malam berikutnya dia datang lagi ke kamarku sekitar pukul sepuluh malam.
“ gimana, besok harus jadi ya. Aku sudah sampaikan ke dia bahwa aku datang berdua sama kamu. “
“insyaallah, tapi besok pagi aku ada acara jalan2 ke sungai nile dengan kawanku. Mungkin pulang sebelum dhzuhur “
“ iya tidak apa – apa. Kita berngkat dari sini ba’da dhzuhur saja, sekitar jam dua siang. “
“ nanti apa yang aku lakukan di rumah calon istrimu..? aku kan bukan siapa – siapanya. ? “
“ kamu tenang saja, terserah kamu di sana mau apa. Mungkin di sana juga akan ada kawannya lagi “
“ perempuan juga ? “
“ iya , namanya Hana. Kamu bisa sama Hana atau sama Nida, terserah kamu mau sama siapa. Biar nanti saya yang bayar. “
“ hah....!! bayar apa? Berapa ? saya sama Hana maksudnya ngapain..? “ tanyaku mulai penasaran. Aku menangkap sinyal tidak baik dari kata – katanya.
“ ya, nanti biar aku bayar mereka berdua, paling sekitar 400 pound. Masing – masing 200 pound. Kamu berdua sama Hana masuk ke kamar dia, terserah kamu mau berbuat apa. Aku sama Nida masuk ke kamar lain “
         Aku semakin tidak karuan mendengar penuturannya. Jangan – jangan dia mengajakku berbuat maksiat. Kenapa dia harus bayar mereka, bukanya Nida calon istri dia. Lalu kenapa aku masuk kamar sama Hana .? ah ...ada yang ganjil.
“ maksud kamu apa Hutsam...? jelaskan yang benar..! aku tidak faham, kamu mau apa..? kita mau ngapain..? kenapa kamu bayar..? 400 pound kan lumayan banyak? siapa mereka..? “
      “ ya, seperti biasa ruk, gadis - gadis mesir kalau sudah masuk kamar dia akan melepaskan semua pakaiannya. Tidak akan tersisa sehelai benangpun di tubuhnya. Di luar saja mereka berpenampilah tertutup setelah di dalam kamar, kamu akan tahu sendiri. Nanti kamu terserah mau berbuat apa saja sama dia. Mau memeluk dia, mencium dia bahkan kamu mau melakukan hubungan badan dengan gaya apapun tidak apa – apa. Nanti dia juga sudah ngerti sendiri, dia akan langsung memeluk dan mencium kamu setelah di dalam kamar. Karena baru pertama kali, makanya sengaja aku yang bayarin. kalau kamu tidak mau ya sudah, tapi lain kali kalau kamu mau, kamu yang bayar sendiri. Bagiku uang segitu tidak seberapa. Aku banyak uang di bank, tinggal ngambil saja. “

“ Astaghfirullaahaladhziim....”


Pesona Gadis Mesir ( 3 )

Bismillahirrahmanirrahiem....




Sedang dalam proses...................................

Istana Sawarga

Bismillahirrahmanirrahiem....
            Baru kali ini aku mengalami kejadian dahsyat yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Ya, gempa kali ini telah meluluh – lantahkan semua bangunan dan jalan - jalan yang ada di daerahku. Bahkan hampir semua rumah, termasuk gedung tempatku tinggal ambruk di telan bumi.
           Tidak ada pikiran lain dalam benakku selain dari lari sekencang – kencangnya. Entah ke mana arah yang kutuju yang jelas aku hanya ingin berlari, terus berlari. Yang penting aku terhindar dari gempa ini. Aku masih ingin hidup, aku belum siap untuk mati. Amalku masih sedikit. Masih banyak cita – cita dan rencana hidupku yang belum tercapai. Bagaimana dengan ibu dan keluargaku jika tahu aku diterpa gempa yang membabi buta. Tidak mempedulikan siapapun yang ada di atasnya. Kulihat jalan raya di sampingku , terbelah dengan sangat cepat. Seluruh kendaraan di atasnya anjlok ke bawah tanah. Semua orang berteriak histeris tidak karuan, dan entah kemana mereka akan mengngsi. Akupun tidak tahu kemana aku harus menyelamatkan diri. Beberapa kali kakiku terjebak lubang dan terpeleser hampir masuk ke dalam bumi. Ya salaaaaaaaaam....gema takbir, tahmid, tahlil terdengar mengiringi suara runtuhan bangunan dari orang – orang yang masih selamat.
           Aku serasa ingin menangis melihat kejadian ini, tapi aku tidak mau menyerah dengan keadaan seburuk apapun. Pasti masih ada jalan keluar, pasti aku masih bisa selamat. Dengan tekad ini aku teruskan kakiku untuk berlari sekencang – kencangnya. Tidak terasa celanaku basah tidak kuasa menahan dahsyatnya gempa yang mendadak ini. Air mataku tak karuan mengalir sambil terus – menerus meneriakkan takbir.
“ allaahu akbarrr......!!! Allaaahu akbarr...!! “
          Entah kemana aku harus berlabuh, melihat semua daerah di depanku sedang ambruk. Ini bukan filem kiamat 2012 yang sempat aku saksikan beberapa bulan kebelakang. Kini aku sendiri yang mengalami kejadian serupa. Ya robb...selamatkan diri hamba robb...!!
Sungguh kalau sekiranya aku dipanggil hari ini, bekalku manalah cukup untuk kehidupan akhirat nanti. Ya robb...selamatkan aku robb...selamatkan aku robb...tolong hamba robb....!! tolong hamba...!! keluargaku masih di Indonesia, aku ingin mereka menyaksikan keberhasilanku robb..!!
           Air mataku seakan tidak pernah ada habisnya. Akupun semakin menjadi – jadi untuk menangis, tak ubahnya seperti anak kecil tidak diberikan mainan. Berteriak sekencang – kencangnya. Memohon semampunya, sembari sesengukkan namun tetap, mulutku tidak pernah alfa menyerukan takbir.
          Betapa kerdilnya mausia yang selama ini senang menyombongkan diri dengan kekuasaan dan hartanya. Hari ini sungguh ketentuan allah telah datang.Tidak ada yang dapat menyelamatkan jiwanya masing – masing kecuali Allah seorang. Sungguh tiada gunanya rasa bangga , sombong, dan takabur yang dahulu diagung – agungkan tatakala dalam keadaan aman. Kusaksikan sendiri hari ini, bagaimana anak kecil tidak berdosa harus mati dalam satu detik saja ketika seluruh badannya tertimpa tidang listrik di pinggir jalan. Atau kakek tua yang tidak bisa lari itu tertumpuk kendaraan dan masuk ke dalam lubang di telan bumi. Subhanallaaaah....!!
          Hanya sekitar dua menit gempa ini berlangsung tapi, sungguh telah merubah seluruh peradaban di atasnya. Aku masih tetap menangis di pinggir sebuah padang luas. Sambil mengingat kejadian yang baru saja aku alami di negri� ini. Aku ingin pulang sekarang juga. Aku ingin bertemu dengna keluargaku. Aku tidak mau mati di sini. Tapi bagaimana, semua kendaraan dan jalan telah lenyap di telan bumi. Ya robb....jangan siksa hamba lagi..
           Beberapa menit gempa ini berhenti, tidak lama kemudian tanah tempatku duduk mendadak bergoyang lagi. Semakin lama semakin cepat. Rasa takut dan kaget mendadak menyelimuti seluruh tubuhku. Aku tidak mau mati sekarang..!! aku harus berlari..!! harus berlari...!!
“ praakkkk.....”
“ Allaaahuakbarr...!!! allaaahu akbarr..!!! “
           Penglihatanku mulai kabur, kesadaranku mulai melemah. entah berapa persen lagi ingatanku yang masih brjalan normal. Aku seakan sudah tidak ingat lagi siapa diriku. Bahkan aku tidak ingat sedang dimana aku berada dan apa yang sedang aku perbuat. Bukit – bukit kecil yang mengelilingi daerah ini mendadak pecah mengelaurkan cairan panas berwarna merah . Keadaan semakin bertambah buruk saja. Inikah yang namanya kiamat kubra..?? aku semakin histeris melihat kejadian yang sangat dahsyat . Benar – benar tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Kesadaranku kini telah lenyap...
            Tiba – tiba entah dalam keadaan sadar atau tidak aku mendengar ada panggilan dari arah atas. Panggilan agar aku bergabung dengan golongan mereka yang terlihat sedang berkumpul di atas awan. Kulihat banyak orang sedang berkumpul di sana. Semuanya memakai pakaian putih, entah jubah atau pakaian lainnya. Tapi menurutku menyerupai pakaian ihram.
“ bergabunglah wahai engkau..! tidka ada lagi tempat untuk melarikan diri kemanapun engkau berlari..”
             Otak normalku mengatakan kalau mereka adalah arwah – arwah yang barusaja ditelan bumi. Aku tidak mau bergabung dengan mereka, aku masih punya banyak cita – cita dan belum siap untuk menghadap Allah. Amalku masih sangat sedikit, bahkan dosaku sangat bayak . sudah pasti aku akan masuk neraka jika aku bergabung dengan mereka.
            Tangisanku semakin menjadi – jadi di tengah kesadaran yang redup – redam itu. Yang ada dalam pikiranku masih berlari dan menyelamatkan diri berusaha terhindar jauh dari bangunan dan lubang – lubang yang dihasilkan oleh gempa.
Suara tadi terdengar kembali di telingaku, malah semakin terasa dekat saja.
“ bergabunglah dengan yang di atas...!! kami tidak bisa pergi sebelum kamu ikut dengan kelompok kami..!! “
“astaghfirullaaah.. aku belum siap matii....!!! “ teriakku dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri. Semua kesadaranku benar – benar telang hilang sama sekali. Aku benar – benar seperti orang sawan atau orang gila.
                                                      *****
                Bumi seakan tidak lagi bergoyang, semua keadaan sudah terasa aman dan gempa dahsyat hari ini sepertinya sudah selesai. Aku tidak lagi dalam keadaan ketakutan seperti tadi. Pakaianku juga sudah tidak basah lagi. Seluruh badanku sudah bersih dan semerbak wewangian yang sangat harum keluar dari tubuh dan pakaianku. Tapi sebentar, mengapa pakaianku tampak putih semua..?? bukannya tadi aku mengenakkan kaus hijau dan celana abu – abu..?? dimana sebenarnya aku sekarang..?? jangan – jangan kelompok tadi..?
“ ya salaaaam....!! “
                Benar saja, ketika kulihat ke sekitar ternyata aku sudah bergabung dengan orang – orang yang tadi kulihat sedang berkumpul di atas awan. Mereka tampak ramah mengumbar senyum sambil mendekapku satu persatu. Pertamakali memelukku orang yang mungkin pemimpin mereka. Dia tampak agak beda dengan orang – orang di sampingnya.
“ ya Robb, benarkah aku sudah menjadi arwah korban gempa tadi pagi..?? “
                  Hatiku berbisik, memastikan kalau aku benar – benar sudah mati atau belum. Kulihat ke bawah. Suasana bumi sangat kacau sekali. Semuanya tampak semrawut dihantam gempa yang sangat dahsyat. Tidak ada tempat yang terlihat selamat dari keganasannya. Kulihat semuanya hancur dan porak – poranda.
“ mungkin aku benar – benar sudah mati “
                   Tiba – tiba hatiku kembali dihantui rasa cemas yang teramat sangat. Mengingat amal ibadahku yang masih sangat sedikit. Sementar aku harus menghadap sang Raja untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah aku lakukan selama hidup di dunia. Umurku, hartaku, ilmuku dan yang paling menakutkan dosa – dosaku. Tapi kemudian hatiku kembali tenang tatkala melihat salah seorang dari mereka.
                  Beberapa orang yang mungkin sebagai pembimbing mengajak kami berjalan menapaki tangga berukuran lebar dan sangat luas. Entah tertuju kemana. Ada satu hal yang masih tidak kumengerti. Mengapa hatiku tidak merasakan ketakutan yang teramat sangat seperti yang kualami ketika gempa tadi. Padahal aku akan berhadapan dengan Allah dalam waktu dekat ini. Justru yang kurasakan adalah ketenangan berada dengan kelompok mereka.
                 Satu persatu kaki kami menapaki tangga yang tampak bening berkilauan hingga kami sampai di depan gerbang besar. Ya, tidak lama dari tempat kami berkumpul tadi, kini sudah sampai di tempat yang benar – benar asing sekali. Aku tidak tahu apa nama tempat ini. Dari depan gerbang , aku tidak lagi melihat bumi yang porak – poranda. Semuanya tampak gelap dan yang bersinar hanya gerbang ini saja. Terdapat banyak pintu disepanjang� gerbang ini. Gerbang tinggi yang menjulang dan terbentang sangat panjang. Tidak diketahui ujung yang satu dan ujung yang lainnya. Berwarna seperti perak silver yang berkilau – kilau. Sungguh sangat mempesona, saking indahnya aku sendiri tidak bisa melukiskan apa warna sebenarnya dan suasana� yang terasa.
              Aku mencoba bertanya kepada salah – seorang pengawal yang dari tadi menuntun kelompok kami.
“ tempat apa ini syeikh...? sedang berada di mana sebenarnya kami ini..? “
“ ini adalah gerbang syurga, sebentar lagi kalian akan masuk ke dalamnya “
“ subhanallaaaah...!! benarkah ini Istana syurga.? “ gumamku
              Kamipun digiring memasuki gerbang indah itu oleh beberapa orang yang tadi menuntun kami. Penjaga gerbang membuka pintu dan menyalami kami satu persatu. Kami benar – benar memasuki gerbang syurga ini. Betapa indah dan sangat menakjubkan sekali. andai rangkaian kata mampu melukiskan keindahannya tentu aku gambarkan di sini. Benar – benar tempat yang tidak bisa diungkapkan keindahannya oleh mulut dan kata – kata. Tidak bisa digambarkan oleh pandangan mata. Tidak bisa dirasa oleh seluruh panca indera. Kedamaian, ketenangan, keindahan merasuk perlahan ke dalam jiwa..
             Masing – masing dari kami dibimbing oleh dua orang yang pembimbing. Merekalah yang akan mengajak berjalan – jalan ke seluruh kebun yang ada di sini. Baru setelahnya diantarkan ke tempat tinggalnya masing – masing.
             Kedua pembimbingku mempersilahkanku untuk berjalan dan mengantarkanku ke sebuah taman yang sangat indah . entah taman apa namanya, hanya ada perasaan takjub dan bahagia yang kurasa.
          Tiba – tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku kalau aku ditunggu di salah – satu taman oleh bunda Maryam. Kamipun bergegas mencari beliau di taman yang dimaksud, setelah berkeliling, akhirnya kami menjumpainya di salah satu taman yang dipenuhi oleh pesona keindahan.
             Sungguh teramat di sayangkan, aku tidak ingat samasekali apa yang beliau katakan kepadaku. Perkiraanku waktu itu beliau menyuruhku kembali ke bumi. Entah belum waktuku untuk berada di sana ataukah ada alasan lain. Entah apa isi percakapan itu, walau kupaksakan untuk mengingatnya dengan keras tetap saja tidak kutemukan.
               Aku hanya melihat beliau berbicara kepadaku dengan diiringi senyum manis dari kedua bibirnya. Tatkalau beliau selesai dari pembicaraannya, tiba – tiba aku terhentak kaget.
“ astagfirullaahaladzim....!!!! “
                Kutengok ke arah kiri, tampak kompter yang masih menyala. Terdengar suara murattal syeikh Mishari Rasyid yang sedang melantunkan doa. Kulihat di depanku tampak photoku yang sedang tersenyum, seakan sedang menertawakanku yang terbangun kaget. Ke arah atas kulihat rentetan kitab – kitabku yang berjajar rapi. Ternyata ini benar – benar kamarku di imaroh empat ba empat.

Madinet el boutse el islamea
Kamis, 23 September ‘10

Bus Misterius

Bismillahirrahmanirrahiem....
           Pagi ini, seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Entah mengapa, seakan selimut yang sudah berlapis dua tak mampu membendung ganasnya cuaca musim dingin. Sungguh musim yang paling aku khawatirkan selama di Mesir. Semua penyakitku mandadak kambuh. Kaus kaki, kupluk, celana monyet bahkan selimut yang sangat tebalpun tak berguna dijadikan pelindung. Kutengok jam bekkerku yang masih berbunyi. Waktu menunjukan pukul empat pagi. Setengah jam lagi adzan subuh akan tiba. “ Ah, andai saja ada pemanas ruangan “, batinku menggerutu. Kubuka kedua kaus kaki tebalku, Sambil berlalu ku ambil sikat gigi dan pasta sighnal menuju hamam. Ketika pintu kamar kubuka mendadak rasa kantuk yang masih remang – remang menggelayuti mataku kabur terbirit – birit, diterpa udara pagi kota Kairo.
“ Wuuuuhhhsss...!! “
         Gigiku gemertak, menggigil kedinginan, sengaja kupercepat irama langkahku agar tidak berlama - lama berada di luar. Sudah kuduga air kran pagi ini akan menyiksaku lagi, tapi biarlah seluruh tubuh yang terbasuh menjadi saksi di hadapan – Nya kelak. Tidak berapa lama aku sudah berada lagi di kamar dengan kondisi yang lebih segar. Ku ambil handuk untuk menyapu habis sisa2 air yang masih membasahi tangan dan kaki. Masih ada sekitar lima belas menit lagi untuk shalat tahajud.
“ Allaaaahu akbar....!! “
        Dengan mengenakan sarung dan celana monyet, ditambah baju koko berlapiskan jasket almamater kemudian dililit sorban hadiah bangdha, kuangkat kedua tanganku dengan mantap. Semilir harum kasturi merembah mengisi seluruh ruang pengap kamarku. Tidak pernah terlepas dari ritual sakralku aroma sedap dari misk abyadh yang sudah kuidap sedari Indonesia dulu. Bibirku bergeming, bergerak, perlahan dan dengan nada teratur mengikuti syeikh mishari rasyid. Kubaca awal surat Hud dengan penuh penghayatan, semakin lama aku semakin terlarut dalam alur kisah dan surat cinta dari sang Pencipta. Semakin bertambah larut ketika kisah itu menggambarkan kaum yang tidka pernah mensyukuri nikmat Allah. Seakan sedang menceritakan keburukan diriku sendiri. Astaghfiruka ya robb....
Adzan subuh sudah berkumandang, kututup lembaran mushaf yang sedang kubaca sambil berlalu menuju mesjid yang terletak di tengah asrama. Mulutku tidak berhenti bergumam, mengulang hafalan yang akan aku setorkan pagi ini kepada syeikh Asyrof di darasa. Pagi ini, kusetorkan rubu’ ke dua dari ayat wamaa min daabbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquha . Semoga lancar dan bisa mlenjutkan ke ayat selanjutnya. Cuaca di luar kamar seakan tidak mau berkompromi lagi dengan kulit manusia. Hanya kekuatan iman yang mampu menggerakan gumpalan daging ini untuk beribadah kepada – Nya. Bahkan segala macam pelapis tidak mampu membendung rasa dingin di tulang sekujur tubuh, terlebih lagi kaki. Ya salaaaam....
Pukul lima kurang seperempat. . .
         Selepas shalat subuh aku bergegas menuju keluar asrama. Kalau berangkat pagi – pagi biasanya kita mendapatkan jatah setoran lebih banyak dari yang lainnya. Dua rubu’ sudah berhasil kuhafal dari semalam. Masih kuulang mengiringi derap langkahku yang terayuh satu persatu menuju mesjid ja’fari di depan mahattah darasa. Sesampainya di depan gerbang bu’uts kutengok ke arah kanan mungkin saja ada mobil lewat ke darasa jam segini. Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit.
“ hmmmm....sepuluh menit lah buat nunggu mobil “ bisikku dalam hati, berlalu menyebrang jalan.
          Sambil duduk di bangku terminal aku lalui dengna banyak mengulang hafalan.  Udara dingin kembali menerpa tubuhku yang semakin lama semakin bergetar tidak karuan. Sesekali aku rapatkan kaki sambil menggosok2 kedua telapak tangan agar terasa hangat. Kulihat jam tangan bersejarah yang kubeli tiga tahun silam di depan kampus al azhar. Pukul lima kurang delapan menit.
Tiba – tiba dari arah kiri kulihat bis merah delapan puluh coret.
“ alhamdulillaaah.....akhirnya datang juga. “ kulambaikan tangan kepada sopir bis untuk berhenti.
“ bismillaaah.....!!”
         Kulangkahkan kaki kananku masuk pintu bus sambil membaca doa safar dalam hati. Begitu berhasil memasuki bus, aku merasakan hal aneh dengan pemandangan sekitar. Ya, serba aneh. Semuanya aneh. Tapi masih banyak kemungkinan yang bergelayut dalam benakku sehingga mengalahkan rasa penasaran yang tiba – tiba merasuk dalam hati. Astoh dan sowaq, bus ini tampak mengenakan galabiah/ jubah berwarna putih. Pemandangan yang sebenarnya sudah terbiasa di kota Ambiya ini, tapi entah mengapa ada perasaan asing yang kurasa. Apapun itu, aku tidak ambil pusing dengan semua yang terjadi di bus ini. Aku hanya menikmati suasana baru sembari bergumam mengulangi hafalan. Kuberikan uang satu pound kepada si ammu asthoh, tapi dia malah menatapku dengan senyuman.
“ kholash,,,sibuh ‘andak habib “ katanya sambil menepuk dada.
“ mitsyakirin awi ya syeikh, barokallahu fiiku..” jawabku.
       Ada ketentraman tatkala kulihat muka sang astoh yang tersenyum memandangku, tampak tenang, berwibawa, dan bersih memancarkan cahaya. Kukira umurnya mungkin sekitar empat atau lima puluhan. Dipinggirnya ada buhur kecil yang dibakar dekat pintu masuk. Semerbak kasturi kuning kurasakan memenuhi ruangan sekitar bis. Sangat nyaman sekali, aku seakan terbius oleh suasana yang kurasakan pagi hari ini. Ada dorongan kuat dalam hati untuk bercengkrama dengan sang asthoh. Belum sempat aku memulai, dia malah bertanya duluan kepadaku.
“ masih gelap begini kamu mau kemana nak....?? “ tanya asthoh yang melihatku masih berdiri di depannya sambil mendekap mushaf.
“ mau ke darasa, syeikh. Ada mau’id  dengan Syrikh Asyrof di mesjid Ja’farie ”
“ kamu sudah hafal alqur’an..? “
“ ah..belum.  laitani kuntu ma’ahum.. anda sudah hafal.?”
“ alhamdulillaah..”
    Subhanallaah..!! pantesan bus ini nonstop dengan murottal. Aku semakin bertambah segan kepada orang yang berada dihadapanku.
“ pak supir juga hafal alqur’an...? “
“ iya, beliau juga sama.. “
“ Ya salaam....barakallahu fikum ya syiekh...” ucapku berkali – kali penuh takjub kepada mereka. Ingin rasanya aku bertanya bagaimana mereka bisa menghafal alquran. Apa saja trik dan mungkin cara cepat dan mudah dalam menghafal serta agar tidak mudah hilang. Melihat mukaku yang diselimuti pertanyaan, seakan asthoh di depanku sudah bisa membaca semua persoalanku.
“ intinya bukan cepat atau lambat. Bukan lancar atau tidak. Semuanya bermuara pada niat dan hati. Apa motivasi awal kamu untuk menghafal alquran. Semuanya bermula dari sikap dan kondisi hati yang benar. Apakah ingin mendapat popularitas, penghargaan, kedudukan atau karena tuntutan lain. Jadikanlah niatan awal kamu hanya karena Allah, semata – mata ingin mendapatkan ridho – Nya. Jika masih belium bisa menguasai hatimu maka, alquran akan semakin lari darimu. Luruskan niat, bersihkan hati dari segala urusan dunia. Berharaplah agar termasuk keluarga Allah di jagat raya ini. Jika sudah benar dan tulus hatimu, Allah akan membukakan dadamu dan mejernihkan hatimu untuk menerima kalam – Nya. Ingatlah , perumpamaan kalam Allah tidak ubahnya seperti perumpamaan Dia ( Allah ) dengan seluruh makhluknya.
Orang – orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah , maka akan dilapangkan dadanya dalam menerima ( kebenaran ) islam. Sebaliknya, orang yang dikehendaki keburukan akan dijadikan dadanya terasa sesak, sempit dan seakan sedang memanjat langit yang tiada ujungnya. “
“subhanallaaah....” hatiku bergumam mendengar penjelasannya.
“ tidak semua  hafizh teramsuk orang  - orang yang selamat dari adzab Allah. Mereka sesungguhnya dihadapkan kepada dualisme pilihan yang sangat menentukan. Jika ia beramal setelahnya, maka sudah ada jaminan baginya untuk memasuki syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bahkan diberikan kesempatan untuk menyelamatkan sepuluh keluarganya yang sedang tersiksa di neraka. Diberi penhargaan orang tuanya berupa mahkota dan pakaian yang berkilau memancarkan cahaya, sinar cahayanya melebihi segala cahaya. Akan tetapi, jika ia berpaling dan tidak mengamalkan apa yang ada di dalamnya, terjerumus ke dalam kemaksiatan dan melanggar perintah – Nya. Malaikat Jabaniyah lebih mendahulukannya untuk diseret ke neraka jahannam dari pada penyembah berhala sekalipun. “
“ naudzubillaah ya robb..!! “ tiba – tiba seluruh tubuhku bergetar. Tangan dan kakiku keringatan. Keringat dingin perlahan keluar dari kening dan hidungku. “ ya Allah jangan kau jadikan hamba termasuk golongan mereka robb...!! “ batinku merintih, berharap penuh takut akan adzab – Nya.
“ ya bunayya...” kata dia yang menyaksikan perubahan di rona wajahku.
“ aiwa ya syeikh....” sambutku menjawab pangglannya.
 “ kamu tahu kisah Bal’am bin Ba’ura..? “
“ ya, aku masih ingat. Seorang ‘alim dari bani israil murid kesayangan nabi Musa AS. “
“ Dia termasuk orang yang diberikan pemahaman oleh Allh terhadap kitab – Nya. Sekaligus salah seorang yang mengetahui ismullah al a ‘ dhzom. Setiapkali berdoa senantiasa dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi, ia melanggar perintah Allah dan nabi – Nya. Lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat. Tergoda bisikan syetan dan nafsu sesaat. Akibatnya Allah jadikan lidahnya menjulur panjang sampai ke dada. Masih terrekam dalam firman – Nya di surat al a’rof : 175 sebagai pelajaran dan agar manusia yang lain dapat mengambil ‘ibrah dari kisahnya.
Malahan Allah buat perumpamaannya seperti anjing yang terus menjulurkan lidah. Dihalau atau tidak dia tetap saja menjulurkan lidahnya. “
“ astaghfirullaaahaladhzim...na’udzubillah robb...! “
         Memang ayat ini yang paling tajam dan sangat kasar menurutku. Betapa Allah menggambarkan orang – orang yang sudah memahami kitab – Nya namun merka tetap mendustakan – Nya. Perumpamaan meraka digambarkan dalam alquran seperti seekor ANJNG yang selalu menulurkan lidahnya. Sangat tajam dan sangat menyentuh sekali. Disampaikan langsung dengan kata kalb, sehingga  terasa ada tekanan yang lebih besar.
Tapi sebentar, aku serasa heran dengan kernet bus ini. Bukannya dia seorang kernet? Tapi mengapa pengetahuannya sangat dalam sekali.?
          Tunggu dulu, bukannya sekarang musim dingin..?? lalu mengapa di dalam bus ini terasa hangat...?? malah tangan dan kakiku keringatan ?? ada yang aneh dengan suasana kali ini. Kulihat seisi ruangan bus dari belakang hingga depan. Sangat rapi dan bersih. Tidak ada sampah bekas karcis ataupun tulisan peringatan “likibari as sinn wa al mu’awwiqin “.
“ Hmmmmm.............”
“ ada yang janggal “ pikirku dalam hati. Tidak ada penumpang lain dalam bus ini kecuali aku sendiri. Bukannya ini bus baru....? delapan puluh coret merah..?? seharusnya supir dan kernet tidak mengenakan jubah, melainkan pakaian resmi warna abu – abu..??? ada buhur di sini. Tapi mengelurkan aroma kasturi. Sangat aneh, dan tidak seperti biasanya. Suara murottal dengan lantunan syeikh yang tidak kukenal. Ah, mungkin hanya murottal ini saja yang agak dapat diterima. Yang lainnya masih tanda tanya dalam benakku. Benar – benar bus yang aneh.
“ Yabni, bukannya kamu mau ke mesjid itu..? “ tanya si asthoh
“ owh...benar syeikh...! “ jawabku setengah tergesa. Tidak terasa aku sudah sampai di mahattah darasa’. Sungguh perjalanan yang tidak terasa sama sekali.
“ terimakasih banyak syeikh, anda sudah memberikan nasihat yang sangat berharga sekali buat saya. Semoga saya dapat mengamalkan nasihat antum tadi. Semoga Allah memberikan keberkahan dan taufiknya kepada anda, salamku untuk pak sopir dan seluruh keluarga anda. “ ucapku kepada kernet sebelum kuputuskan untuk turun dari bus.
“ berterimakasihlah kepada Allah “ jawabnya
“ Yabni, IttaQullaah..wa yu’allimukumullaah..! bersabarlan dan istiqomahlah dalam beramal, niscaya Allah akan membukakan rahmat dan pintu keberhasilan untukmu..”
“ terimakasih syeikh...Assalamu’alaikum “
        Kuulurkan tanganku untuk menyalaminya terakhir kali dipagi ini. Suasana di terminal masih sangat sepi sekali. Belum ada orang bahkan kendaraan di terminl  kecil ini. Alhamdulillaah aku termasuk orang yang pertama memulai aktifitas di terminal darasa, pikirku.
          Udara ganas musim dingin dengan angkuhnya kembali menampar mukaku sekeluarnya dari bus itu. Aku langsung mengigil kedinginan. Kaki terasa beku, kedua tanganku terasa semakin kaku. Gigiku kebali gemertak menahan cuaca oktober yang semakin menyiksa.
           Kuberjalan menyebrangi terminal ke arah mesjid ja’farie yang terletak tepat di seberang jalan ini. Sesampainya di depan gerbang mesjid kutengok jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang sembilan menit..
“ Hahhh....!!...Astaghfirullaahal’adziem...astaghfirullaaaah..!! “ teriakku keheranan. Bukannya aku berangkat tadi pukul lima kurang delapan menit...?? sekarang kurang sembilan menit..?? tidak mungkin perjalanan bu’uts – darasa ditempuh dalam waktu satu menit. Tidak mungkin.! Sangat mustahil..! aku yakin tadi aku tidak salah lihat. Minimal sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk peralanan normal dari bu’uts ke darasa. Aku masih ingat bagaimana perbincanganku dengan sang asthoh brlangsung sangat lama.
Kuputar tubuhku menghadap terminal darasa untuk melihat kendaraan yang baru saja menghantarkanku.
“ ya salaaaaam..! “
    Tidak ada satu kendaraanpun kulihat di sana. Tidak ada bus, tramko atau mobil lainnya. Suasana terminal kuihat masih sangat gelap dan sepi sekali. Tidak sampai satu menit aku menyebrang jalan dari terminal ke mesjid. Tidak mungkin bus itu langsung pergi meninggalkan terminal. Biasanya semua kendaraan akan menunggu dipenuhi dulu oleh penumpang, baru setelahnya meninggalkan terminal. Kalaupun sudah pergi, mestinya aku masih bisa melihat mobil itu di sepanjang jalan darasa ini.
“ benar – benar bus aneh, pagi yang aneh, hari yang aneh..”
Tiba – tiba aku mencium aroma kasturi yang sama seperti aroma di dalam bus tadi. Kucoba melihat ke arah terminal dan sepanjang jalan darasa, tapi tidak juga kulihat kendaraan itu. Muka sang asthoh yang tadi menasihatiku, bergelayutan di kepalaku. Masih tampak jelas raut muka dan garis wajahnya di dalam ingatanku. Juga seluruh nasihat berharga yang telah dia berikan mengawali pagi hari ini. Semakin terlarut aku memikirkan kejadian pagi ini, bulu kudukku sedikit demi sedikit mendadak bangun. Tanpa pikir panjang segera kuberjalan memasuki mesjid untuk menyalami syeikh Asyrof dan kawan – kawan yang sudah berada di sana.


                                                Madinet el bo’utse el islamea
                                                    Cairo, 22 September ‘10

MIsykaat , Bentuk Simbolik Bulan Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahiem....

          Suasana di pinggiran jalan seluruh kota Kairo nampak berbeda dibanding bulan2 sebelumnya. Ada keceriaan tersirat di balik semua hiasan dan corak yang menghiasi sepanjang jalan. Manusia hilir – mudik dengan berbagai kegiatan dan kesibukan masing2. Tapi, nampak sekali perbedaan di wajah2 mereka. Seakan tersirat kegembiraan tiada tara. Tak ubahnya seseorang yang sedang menunggu kedatangan sang raja atau permaisuri. Semuanya bergegas, berhias, dan berlomba menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita.

          Ada satuhal yang sangat menarik perhatianku di sepanjang jalan kota peradaban ini. Kalau di hari2 biasa yang terpampang di pinggiran jalan biasanya berupa barang dagangan, dari berbagai alat rumah dan perkantoran. Maka di hari yang spesial ini banyak sekali barang – barang aneh yang tidak mungkin kita temukan di Indonesia. Atau mungkin ada tapi selama aku tinggal di negri Hijau itu belum pernah aku melihatnya. Setlah aku pikir2 selama tiga tahun ini memang barang antik nan cantik ini tidak sembarang dikeluarkan selain menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan. Ya, akhirnya aku menemukan salah satu otentitas budaya penduduk negri Musa ini.
           Namanya misykat, atau misykah. Dalam alqur’an kata ini sempat disebutkan di dalam surat an Nur ayat 35 .

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَى نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ   

          “ Allah ( pemberi ) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya – Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, ( dan ) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu ) pohon zaitun. Yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat. Yang minyaknya ( saja ) hampir – hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya ( berlapis – lapis ). Allah memberi petunjuk kepada cahaya – Nyabagi orang yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan – perumpamaan bagi manusia. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu. “ ( Q. S . an Nur : 35 )

          Dalam ayat ini misykat diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai “ sebuah lubang yang tidak tembus “ . Maksudnya lubang yang biasa terdapat di dinding2 perumahan zaman dahulu, yang tidak tembus ke dinding lain. Jadi hanya semacam lekukan saja. Kemudian di dalam lekukan lubang itu terdapat lampu dan kemudian ditutup oleh tabung kaca sehingga cahayanya semakin merambah ke segala penjuru. Menyebarkan cahaya lampu yang ada di dalamnya berkali – kali lebih bersinar dari cahaya sebelumnya. Di sini, Allah memberikan pengecualian kepada kaca itu, karena kaca yang dipakai sebagai penutup bukanlah kaca biasa, tapi kaca yang sinarnya seperti bintang yang berkerlip2 di angkasa. Pengecualian lain yang Allah sebutkan dalam ayat ini adalah minyak yang digunakan sebagai bahan bakar lampu atau pelita yang di dalam misykat tadi bukan sembarang minyak. Minyak itu tidak lain adalah minyak zaitun. Banyak sekali minyak zaitun di tanah air arab dengan segala macam dan ragamya.  Namun Allah lagi – lagi memberikan keistimewaan kepada minyak ini. Bahwa minyak ini hanya dihasilkan dari pohon yang diberkahi saja. Yang mana pohon ini, tidak tumbuh di barat, tidak pula di timur. Dalam artian pohon seperti ini bukan sembarang pohon yang mudah ditemukan oleh manusia. Semata – mata hanya mubalaghoh saja. Minyak yang dihasilkan dari pohon tadi, tidak usah disentuh api saja hampir menyala – nyala apalagi kalau dinyalakan dengan api. Subhanallaaaaah...........semakin dalam kita menghayati dan memikirkan kebesaran Allah dalam ayat ini semakin larut kita dalam lautan ilmu yang tidak pernah habis dikikis waktu dan zaman.

           Kita kembali lagi kepada kata misykat / misykah. Yang ingin aku ceritakan di sini bukan misykat dalam artian seperti tertera dalam ayat di atas. Tapi misykat dalam pemahaman adat dan keseharian masyarakat arab, khususnya Mesir. Misykat di sini diartikan sebagai “ tabung kaca “ atau dalam pendekatan lain, orang sunda biasanya menyebut “ corong lampu “ untuk lampu tempel yang menggunakan bahan bakar minyak tanah. Atau bisa juga kita gunakan pendekatan yang lebih mudah, seperti kaca yang menutupi lampu patromaks yang biasa digunakan para petani untuk pergi ke sawah.
          Namun itu hanya sebatas pendekatan saja bukan berarti sama. Karena dari segi bentuk dan rupanya sangat jauh berbeda. Hanya dalam penggunaan saja yang sedikit ada kemiripan dan persamaan. Misykat, atau kita panggil sekarang sebagai “ corong “ terbuat dari modifikasi kaca dan seng. Memiiki warna yang beraneka ragam, bentuk dan ukuranpun demikian. Paling kecil sekitar setengah meter, hingga sampai tiga meter bahkan lima meter. Bentuknya rata – rata seperti kubah yang biasa kita lihat di atas bangunan mesjid di tana air.
Untuk apa corong macam ini dipakai, atau dijual bahkan dikonsumsi banyak orang? hanya menambah sempit dan sesak saja.....???

          Ya, tidak ubahnya seperti ketupat yang diidentikan hari raya atau bulan ramadhan. Kenapa tidak dikonsumsi di bulan – bulan biasa saja..?? toh rasa dan bahannya sama saja..?? kira – kira seperti itulah analogi yang bisa kita fahami dari sebagian kecil kebudayaan masyarakat Mesir.

          misykat / corong ini biasanya dipasang dipinggir jalan atau di depan pintu masuk setiap rumah penduduk. Atau di depan pintu mesjid dan perkantoran, banyak juga yang memasangnya di atas rumah dan di pinggiran jendela. Semuanya hanya semata – mata merayakan dan menyambut kedatangan bulan suci ramadhan, bulan yang mulia. Orang mesir menyebutnya “ ramadhan kariem...” tidak heran kalau di setiap misykat tertulis kata “ ramadhan kariem “ atau “ ramadhan mubarok “ dan lain sebagainya.

          Hikmah apa kira – kira yang dapat kita ambil untuk dijadikan pemicu mobilitas keimanan kita dari sebagian kecil budaya orang arab. Bukan berarti kita menerapkan hal serupa di tanah air sebagai mana budaya arab. Dengan memasang misykat dan membuat industri misykat menelang bulan ramadhan. Bukan, bukan begitu yang aku maksud. Tapi, mari kita bersama mengambil benang merah dari apa yang telah kita baca dan ketahui sebelumnya. Kalau kita perhatikan dan kita ingat – ingat kembali dengan baik, kita akan menemukan semuanya menuju pada titik fokus “ hadis riwayat Bukhari - Muslim “. Yang artinya “ barang siapa yang bersuka – cita menyambut kedatangan buan ramadhan maka diampuni dosanya yang telah lalu “ (Muttafaq Alaih)

          Dua hal penting dan dianggap asholah atau pokok dari hadis di atas dan telah diimplementasikan oleh masyarakat arab, yaitu  al farh  dan at tathbiq. Suka – cita, kegembiraan dan realisasi dari rasa farh  kepada hal aplikatif sebagai bentuk refleksi kegembiraan. Dua hal yang masih berselang dan bahkan kurang kita hayati di masyarakat Indonesia.

           Maka tidak heran jika menganggap tidak ada hal istimewa di bulan ramadhan atau bahkan tidak pernah merasakan kegembiraan. Karena bulan ramahdan datag seperti mana bulan2 biasa, hanya orang2 yang beriman sajalah yang dapat merasakan dan mempersiapkan diri menyongsong bulan yang penuh keberkahan, pengampunan, rahmat dan pembebasan dari api neraka. Bukan bulan yang merubah kita, tapi bagaimana kita menyikapi bulan ramadhan dan menjadikannya sebagai bulan yang teristimewa dari sekian bulan yang ada. Ajarkan anak – anak kita menghargai dan menemukan perbedaan dan kegembiraan yang tidak ditemukan selain di bulan ramadhan. Dengan menghias suasana rumah dengan pita yang berwarna misalkan, atau dengan menempelkan banyak kalighrafi, atau dengan berbagai hal positif lainnya.


          Semoga bulan ramahdan kali ini memberikan sensasi tersendiri bagi diri kita. Dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkuat keimanan dan ketakwaan kita. Semakin menikmati keindahan taqosyuf dan meningkatkan intensitas ibadah selama pembinaan dalam madrasah berama ramadhan. Sehingga ketika hari kelulusan nanti kita berhasil mendapat syahadah Iman, karena ibadah puasa, hanya diserukan bagi hamba – hamba Allah yang beriman saja bukan seluruh muslim, karena muslim bukan berarti mukmin. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 183 surat albaqoroh : “ wahai orang – orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang – orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. “

@@@@ WALLAHU A’LAM @@@@


Imam Ahmad bin Hambal

bbSetiap kali membaca biografi Ahmad bin Hambal, kita akan bertemu dengan sosok yang gigih dalam membela sifat-sifat Allah yang haq, meskipun beliau disiksa bertahun -tahun lamanya. Tidak gentar, tidak berpaling, dan tidak mengerahkan murid-muridnya untuk melawan penguasa, tetapi malah selalu mendoakan pemimpin (meski mereka amat sangat zalim sekali), sebagaimana beliau pernah berkata, "Sekiranya saya memiliki doa yang pasti terkabul, tentu doa itu kutujukan untuk pemimpin".

Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Nasab beliau bertemu dengan nasab RasuluLlah sholaLlahu a'laihi wasallam pada diri Nizar bin Ma'd bin 'Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa-tempat tinggal sang ayah-, ke kota Baghdad. Di kota itulah beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi'ul Awwal 164H. Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur 3 tahun.

Masa Menuntut Ilmu

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan dua rumah untuk mereka: satu ditempati sendiri, dan satunya disewakan dengan harga sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi'i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.

Beliau mendapatkan pendidikan pertamanya di Baghdad.Setamatnya menghafal AlQuran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttan saat berusia 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Perhatian beliau saat itu tengah tertuju pada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Orang pertama tempat mengambil hadits adalah Al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah. Pada usia 16 tahun, Imam Ahmad mulai tertarik untuk menulis hadits. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim Al-Wasithy hingga syaikhnya wafat, dan telah belajar lebih dari 300.000 hadits.

Pada umur 23 tahun, beliau mulai mencari hadits ke Bashrah, Hijaz, Yaman, dan kota lain. Selama di Hijaz, beliau banyak mengambil hadits dan faidah dari Imam Syafi'i, bahkan Imam Syafi'i sendiri amat memuliakan Imam Ahmad dan menjadikan beliau sebagai rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Demikianlah ketekunan beliau, sampai-sampai beliau baru menikah di usia 40 tahun. Seseorang pernah berkata kepada beliau, "Wahai Abu Abdillah, Anda telah menjadi imam kaum muslimin". Beliau menjawab, "Bersama mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah(kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur". Beliau senantiasa seperti itu: menekuni hadits, memberi fatwa, dsb. Banyak ulama yang pernah belajar kepada beliau, semisal kedua putranya, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Abu Zur'ah, dan lain- lain.

Kitab-kitab beliau

Kitabnya yang terkenal, al-Musnad, beliau susun dalam waktu 60 tahun sejak beliau pertama kali tertarik menulis hadits. Beliau juga menyusun kitab Al-Manasik ash- Shaghir dan Al-Kabir, kitab Az-Zuhud, Ar-Radd 'ala Jahmiyyah wa az-Zindiqiyyah, kitab as-Sholah, as-Sunnah, al-Wara' wa al-Iman, al-'Ilal wa ar-Rijal,Fadhail ash- Shahabah, dan lain-lain.

Penghormatan Ulama lain kepada Beliau

Imam Syafi'i pernah mengusulkan ekpada Khalifah Harun Ar-rasyid pada hari-hari akhir hidup khalifah, agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya, dan berkata kepada Imam Syafi'i, "Saya datang kepada Anda untk mengambil ilmu, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qodhi untuk mereka". Pada masa khalifah setelahnya, Imam Syafi'i juga mengusulkan hal yang sama, lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Abdul Wahhab al-Warraq berkata, "Aku tidak pernah melihat orang seperti Ahmad bin Hambal". Orang-orang bertanya, "Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?" Al-Warraq menjawab, "Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, 'Telah dikabarkan kepada kami', atau 'Telah disampaikan hadits kepada kami'"

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapat cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah 16 tahun lamanya.

Di masa kekhalifahan Al-Makmun, ahlul-bid'ah dari golongan Mu'tazilah yang dipimpin Ibnu Abi Duad mendapat angin segar. Mereka leluasa menyebarkan pemahaman sesatnya (semisal pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam), sehingga khalifah Al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini bahwa Alquran adalah makhluk. Padahal, pada masa khalifah sebelumnya, Harun ar-Rasyid dan Al-Amin, pendapat tentang kemakhlukan AlQuran telah ditindak tegas.


IMAM ABU HANIFAH

(Ulama Yang Juga Tajir)

“Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih berakal, lebih mulia dan lebih wara' dari Abu Hanifah.” (Yazid bin Harun)

Sekilas tentang kehidupannya

Abu Hanifah memiliki wajah bagus dan rupa nan elok serta ucapan yang fasih dan manis. Ia tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, selalu memakai pakaian yang bagus dan enak dipandang, demikian juga suka memakai minyak wangi, orang akan mengetahui Abu Hanifah dari bau harum minyak wanginya sebelum ia terlihat. Itulah an-Nu'man bin Tsabit bin al-Marzuban yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, orang yang pertama kali menyingkap keutamaan dan keistimewaan yang ada dalam ilmu fiqih.

Abu Hanifah mendapati masa akhir kekhilafahan Bani Umayyah dan awal masa pemerintahan Bani Abbas. Ia hidup di sebuah masa yang mana para penguasa sering menghadiahkan harta kepada orang-orang yang berjasa kepada negara, mereka sering mendapatkan harta yang sangat banyak tanpa mereka sadari.

Akan tetapi Abu Hanifah memuliakan ilmu dan dirinya dari hal demikian, ia bertekad untuk hidup dari hasil jerih payahnya sendiri, sebagaimana ia juga bertekad agar tangannya selalu di atas (selalu memberi).

Pada suatu waktu al-Manshur memanggil Abu Hanifah ke rumahnya, maka tatkala ia sampai, al-Manshur memberi salam penghormatan dan sambutan yang sangat hangat serta memuliakannya, kemudian duduk di dekat Abu Hanifah dan mulai bertanya tentang permasalahan-permasalahan duniawi dan ukhrowi.

Di saat Abu Hanifah hendak pamit, al-Manshur memberinya sebuah kantung yang berisi tiga puluh ribu dirham –meskipun diketahui bahwa al Manshur termasuk orang yang pelit- maka Abu Hanifah berkata kepadanya, “Wahai Amirul mu'minin, sesungguhnya aku adalah orang asing di Baghdad, aku tidak memiliki tempat untuk menyimpan uang sebanyak ini dan aku takut kalau nanti ia akan hilang, maka dari itu jika boleh aku minta tolong agar ia disimpankan di Baitul Mal sehingga jika aku membutuhkan aku akan mengambilnya.”

Kemudian al Manshur mengabulkan permintaannya. Akan tetapi setelah kejadian itu, Abu Hanifah tidak hidup lama. Ketika ajal menjemput, ditemukan di rumahnya harta titipan orang banyak yang jumlahnya melebihi tiga puluh ribu dirham, maka tatkala al Manshur mendengar akan hal itu ia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, dia telah memperdayaiku. Ia telah menolak sesuatu pun dari pemberian kami.”

Yang demikian itu tidaklah aneh, karena Abu Hanifah meyakini bahwasanya tidaklah seseorang makan satu suap lebih suci dan lebih mulia dari hasil jerih payahnya sendiri. Oleh karena itu, kita mendapati bahwa sebagian hidupnya adalah untuk berniaga. Ia berdagang al-Khiz (tenunan dari sutera dan bulu) dan bermacam pakaian yang terbuat darinya. Ia berdagang pulang pergi dari kota ke kota yang berada di Iraq. Ia memiliki sebuah toko terkenal yang didatangi oleh banyak pengunjung karena mereka mendapati Abu Hanifah sebagai orang yang jujur dan amanah, di samping, mereka juga mendapatkan barang yang bagus di tokonya.

Dari perdagangannya tersebut Abu Hanifah diberi anugerah oleh Allah berupa kekayaan yang melimpah.

Jika sampai masa satu tahun dari perdagangannya ia menghitung seluruh laba dan kemudian mengambil dari laba tersebut apa yang mencukupinya, setelah itu sisanya ia belikan barang-barang kebutuhan bagi para Qari, ahli hadits, ulama fiqih dan para penuntut ilmu dan juga membelikan makanan dan pakaian bagi mereka. Kemudian setiap dari mereka diberi sejumlah uang seraya berkata, “Ini adalah laba dari barang dagangan kalian yang diberi oleh Allah melalui tanganku, Demi Allah aku tidaklah memberi kalian sedikitpun dari hartaku, akan tetapi ia adalah karunia dari Allah bagi kalian melalui tanganku. Tidaklah seseorang memiliki daya untuk mendapatkan rizki kecuali dari Allah.”

Kabar tentang kedermawanan Abu Hanifah telah tersebar di timur dan barat, khususnya di kalangan para sahabat dan teman dekatnya. Sebagai suatu contoh, pada suatu hari seorang temannya pergi ke tokonya dan berkata,
“Sesungguhnya aku membutuhkan pakaian dari bahan al-Khizz, wahai Abu Hanifah.”
Abu Hanifah bertanya,”Apa warnanya?”
Orang itu menjawab, “Begini dan begini.”
“Sabar dan tunggulah sampai aku mendapatkan pakaian tersebut,” kata Abu Hanifah.
Seminggu kemudian pakaian yang dipesan telah jadi, maka tatkala temannya itu melewati toko, Abu Hanifah memanggilnya dan berkata,
“Aku punya pakaian yang kamu pesan.”
Temannya merasa gembira dan bertanya kepada Abu Hanifah,
“Berapa aku harus membayar pegawaimu?”
“Satu dirham,” jawab Abu Hanifah.
Ia merasa heran dan bertanya lagi, “Cuma satu dirham?”
“Ya,” kata Abu Hanifah
Temannya berkata, “Wahai Abu Hanifah, engkau tidak sedang bergurau bukan?”

Abu Hanifah manjawab, “Aku tidaklah bergurau, karena aku telah membeli pakaian ini dan yang satunya lagi dengan harga dua puluh dinar emas plus satu dirham perak, kemudian aku menjual salah satunya dengan dua puluh dinar emas sehingga tersisa satu dirham. Dan aku tidak akan mengambil untung dari teman dekatku sendiri.”

Pada waktu yang lain ada seorang perempuan tua datang ke tokonya dan memesan sebuah baju dari bahan al-Khizz, tatkala Abu Hanifah memberikan baju pesanannya, perempuan tua tadi berkata, “Sungguh aku adalah seorang perempuan yang sudah tua dan aku tidak tahu harga barang sedangkan baju pesananku adalah amanah seseorang. Maka juallah baju itu dengan harga belinya kemudian tambahkan sedikit laba atasnya, karena sesungguhnya aku orang miskin.”

Abu Hanifah menjawab, “Sesungguhnya aku telah membeli dua jenis pakaian dengan satu akad (transaksi), kemudian aku jual salah satunya kurang empat dirham dari harga modal, maka ambillah pakaian itu dengan harga empat dirham itu dan aku tidak akan meminta laba darimu.”

Pada suatu hari, Abu Hanifah melihat baju yang sudah usang sedang dipakai oleh salah seorang teman dekatnya. Ketika orang-orang-orang telah pergi dan tidak ada seorangpun di tempat itu kecuali mereka berdua, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Angkat sajadah ini dan ambillah apa yang ada di bawahnya.” Maka temannya mengangkat sajadah tersebut, tiba-tiba ia menemukan di bawahnya seribu dirham. Kemudian Abu Hanifah berkata, “Ambil dan perbaikilah kondisi dan penampilanmu.” Akan tetapi temannya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku seorang yang mampu (berkecukupan) dan sungguh Allah telah memberiku nikmat-Nya sehingga aku tidak membutuhkan uang tersebut.”

Imam Ibnu Taymiyah

Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh, rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa pucuk-pucuknya. Ketika siang menjelang ia dipayungi rimbunan dahan di sekitarnya. Dan saat petang beranjak, sang raja siangpun sempat menyapa selamat tinggal melalui sinarnya yang lembut. Sang tunas tumbuh dalam suasana hangat. Maka tak heran jika ia tumbuh dalam, berbuah lebat, berbatang kokoh dan berdahan rindang. Tunas itu adalah Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah.

Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz.

Lahir di harran, 10 Rabiul Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.

Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah Ta'ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda , ia telah hafal Al-qur'an.

Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.

Ibnu Taymiyyah amat menguasai rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filosof . Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.

Al-Washiti mengemukakan: "Demi Allah, syaikh kalian (Ibnu Taymiyyah) memiliki keagungan khuluqiyah, amaliyah, ilmiyah dan mampu menghadapi tantangan orang-orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatanNya."


al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah

Beliau adalah Imam, ‘Allamah, Muhaqqiq, Hafizh, Ushuli, Faqih, Ahli Nahwu, berotak cemerlang, bertinta emas dan banyak karyanya; Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak (QAYYIM) bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.
Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya

Bukanlah hal yang aneh jikalau Ibnul Qayyim tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya, sebab beliau dibentuk pada zaman ketika ilmu sedang jaya dan para ulama pun masih hidup. Sesungguhnya beliau telah mendengar hadits dari asy-Syihab an-Nablisiy, al-Qadli Taqiyuddin bin Sulaiman, Abu Bakr bin Abdid Da’im, Isa al-Muth’im, Isma’il bin Maktum dan lain-lain.

Imam Ibnu Arabi

          Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu 'Araby bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.

          Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia.

          Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.

          Meski Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry, Ibnu 'Araby sama sekali tidak bertaklid kepada mereka. Bahkan ia sendiri menolak keras taklid.

          Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran.

          Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.

Jalan tengah

          Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu 'Araby akhirnya menempuh jalan halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian ukhrawi.

          Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun, Ibnu 'Araby telah menjadi sufi terkenal.

          Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya.

          Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.

           Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma'rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya dalam pandangan 'Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan.

           Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haq. Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya. Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq, dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.

Kontroversial

          Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby, terutama kaum fuqaha' dan ahli hadis, sebagai sangat kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang dianggap condong pada pantheisme. Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu 'Araby banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap 'Araby telah kufur, misalnya Ibnu Taymiyah, dan beberapa pengikutnya yang menilainya sebaga 'kafir'.

Serakahkah diriku...

Bismillahirrahmanirrahiem.....

“  Huhhhh.......!”

          Dadaku terasa sempit setelah menerima uang dari cik Yusuf. Sudah tiga kali dia mengulur2  waktu pengambilan gajiku. Baru hari ini gajiku dibayar setelah dua bulan kebelakang aku mengundurkan diri sebagai salah – satu pekerja di kafe dia. Hatiku kembali menggerutu tidak menentu menerima gajiku yang mendadak turun dari 40 pound menjadi 25 pound saja. Sungguh tidak adil dan tidak bisa diterima. Aku bekerja sebagai 

HARI KETUJUH ( Mu'askar Iskandariyah )

Bimillahirrahmanirrahiem.....
Rabu, 07 Juli ‘10

          Bangun subuh hari ini, aku langsung mandi dan beres2 lemari. Aku pastikan agar tidak ada satupun barang yang tertinggal di sini. Semua barang2ku sudah ku masukkan tinggal sandal yang masih aku pakai. Setelah mencari plastik hitam aku masukan sandalku ke dalam tas yang sekarang semakin terasa sempit


HARI KEENAM ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem.......
Selasa 06 Juli ’10
          Bangun subuh tadi, aku kebingungan harus berbuat apa. Pasalnya semua kegiatan sudah selesai dan tidak ada lagi kegiatan yang diadakan oleh panitia. Akhirnya aku lalui dengan menambah coretan di diaryku


HARI KELIMA ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem...
Senin, 05 Juli ‘10
         Pagi ini, sekitar pukul sembilan pagi aku dan kawan – kawan sekamar tampak terlihat rapi sekali. Belajar dari kejadian kemarin yang hampir saja kita sekamar tertinggal bs untuk rilah ke maktabah. Hari ini 

HARI KEEMPAT ( Mu'askar Iskandariyah )

cBismillahirramanirrahiem....
Ahad 04 Juli ‘10
           Pagi hari selepas shalat subuh aku gunakan untuk menamatkan makalah yang sudah aku rintis dari kemarin. Untungnya karikatur sudah selesai aku buat kemarin malam. Sekarang tinggal menamatkan makalah saja. Nanti siang makalah dan karikatur harus diserahkan kepada ri’ayah syabbab. Kali ini aku mengikuti


HARI KETIGA ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem.....
Sabtu, 03 Juli ’10
          Hari ini aku merasa sangat lelah sekali. Tapi anehnya walau semalam aku kurang tidur, aku tidak bisa memenuhi waktu tidurku lagi. Mataku seakan enggan untuk tertutup kembali. Sehingga aku lalui pagi hari ini


HARI KEDUA ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem....
Jum’at 02 Juli ’10
         Pagi hari setelah sarapan, kita masih lalui dengna istirahat. Pasalnya, kita tunggu2 kabar dari panitia, ternyata hari ke 2 ini juga tidak masih tidak ada kegiatan. Akhirnya menjelang shalat jum’at nanti, kita masih berbaring di atas kasur baru. Ya, kita lalui pagi hari ini masih


HARI PERTAMA ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem...
Kamis 01 Juli ‘10
          Alarmku berbunyi dengna nada syahdu syeikh mishari rasyid yang sedang mengumandangkan doa Qunuth. Aku terbangun dan langsung menuju hamam. Setelah shalat subuh aku lalui dengan menyeruput syai pagi asli Mesir. Sambil menunggu jam setengah tujuh, aku pastikan kembali barang2 akan dibawa, takut ada yang tertiggal. Seengah tujuh kurang lima menit, aku langsung menuju gerbang bu’uts di pinggit imaroh wafa’ rajab. Sesampainya di sana aku malah tidak melihat banyak orang, hanya si Arif saja yang sedang duduk sambil baca buku. Setelah kutanya dia katanya orang2 belum pada datang dia sendri tidak ikut sekarang, karena ari itu dia ada ujian terakhir.


Weekend at Alexandria with Madinet el Bo'ust el Islamea ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem.....
              Berlibur selama seminggu penuh di pantai iskandariah, merupakan kegiatan tahunan yang diadakan asrama al azhar bagi para mahasiswa yang bermukim di dalamnya. Biasanya mereka yang ikut liburan di alexandria dibagi menjadi beberapa kloter / fauj. Setiap kloter berjumah tidak kurang dari 90 orang. Alhamdulillahnya ana termasuk asabiqunal awwalun yang mendaftar liburan kali ini. Karena sudah dua tahun ini belum sempat ada keinginan untuk menikmati udara pantai alexandria. Namun, sekarang setelah masa iqomah terasa tinggal beberapa bulan lagi, rasanya kurang lengkap jika selama di Mesir belum pernah mengunjungi kota terindah di mesir, Alexandria.

                Dua tahun sebelumnya, biasanya setiap mau mendaftar harus adu sikut dan senggol sana - senggol sini dengan orang2 Afrika yang dominan bermukim di bu’uts. Melihat persaingan dan perjuangan untuk mendapat antrian daftar begitu sulitnya, akhirnya tahun ini, aku, mahmud dan Heris sengaja mengantri di nadi kurah maktab sejak dari subuh. Ternyata setalah sampai di sana, bukan hanya kami bertiga yang sudah mengantri. Banyak lagi orang2 Afrika, Rusia, Fakistan sejenisnya sudah berkumpul menuliskan nama2 mereka di satu kertas.” Haduuuuuhh......telambat kita “


Kaca mata kebesaran islam

          Dalam keseharian kita sering menemukan berbagai kendala dan masalah bahkan disepanjang mata memandang. Kita lihat di terminal beberapa orang yang merokok seenaknya, membuang sampah di sembarang tempat, bahkan sampai di dalam bis kita harus rela berdesak – desakan. Belum lagi ternyata


Melayang di atas Kairo 1


         Sore ini, pemandangan di kota kairo masih terlihat ramai seperti hari – hari sebelumnya. Dari asrama aku langsung menuju daerah darasa’ melewati gerbang polisi yang megah itu. Di arah kiri kulihat beberapa orang polisi melempar senyum khasnya seperti yang sering aku dapatkan setiap pagi ketika pergi kuliah.
“ ‘amil eh y a gama’ah ?”


Melayang di atas Kairo2

          Ya di sampingku kini berdiri kokoh gedung tua universitas al – Azhar yang telah melahirkan berjuta – juta ulama di seluruh penjuru dunia. Ah, aku jadi teringat Dr. Yusuf qardhawi tokoh legendaris abad ini, yang banyak disalah artikan sebagian fatwa – fatwa beliau.


Berjuang tiada akhir...

Ahad, 02 Mei 2010



S

uasana kegembiraan kini menyelimuti kelabut hatiku di tengah – tengah pengapnya atmosfer kota Kairo yang sedang dilalui musim panas. Selepas shalat dzuhur tadi aku langsung pergi ke kuliah. Kupakai kemeja made in egypt yang sudah kupotong lengannya dari panjang menjadi shorthand.

Celana hitam ini kupikir cocok mendampingi corak kemeja yang bergaris lurus ke bawah. Kusisir rambut lurusku perlahan dengan dilumuri minyak zaitun agar tampak mengkilau dan tidak cepat kering. Kuoleskan pula shavinggell tepat di atas kumisku yang setengah tumbuh setelah beberapa hari lalu aku potong. Ku sisir dengan silet dari ujung bibir kanan ke ujung kiri. Dari atas hingga bawah bibir mendekati jenggot. kemudian kulambatkan gerakanku agar tidak mengkurud jenggot dan tidak melebihi batas.

Kuambil sisir kecil dan kuletakkan menempel ke jenggot. Di atasnya kupotong rapi dengan gunting kecil. Ya, jenggotku sekarang hanya sekitar satu centimeter, atau satu sisir. Bukan apa2 aku hanya ingin terlihat rapi dan enak dilihat. Di sisi lain aku tidka berani kalau harus mengkurud bersih jenggotku.

Kubuka lemari kecil tempat sepatu pantopleku. Kuambil kaus kaki putih pendek ukuran mata kaki dan sepatu hitam mungil pavoritku untuk kuliah. Kuambil pula jam tangan berwarna keemasan yang kubeli tahun lalu dekat kampus al azhar sebelum mengambil tas hitam yang biasa kuselendangkan menemani hari2ku kuliah. Kumasukkan buku tafsir tahlili yang belum habis kubaca. Selepas dari kampus nanti aku akan sempatkan diri untuk melanjutkan membaca di serambi mesjid azhar, pikirku.

           Setelah kutitipkan kamar ke mang Jajang yang sedang memakai komputerku, kuoleskan minyak kasturi putih ke seluruh kemejaku. Sambil melangkahkan kaki meninggalkan kamar kupanjatkan doa tanda tawakkalku hari ini kepada Allah swt.

           Baru beberapa langkah meninggalkan gerbang asrama internasional azhar dari arah kanan datang bis delapan puluh coret menuju darasa. Sangat tepat sekali pikirku. Baru saja aku keluar gerbang, langsung datang bis tujuan darasa. Biasanya harus kulalui sekitar setengah jam atau lebih untuk menunggu di halte.

Sangat sempit sekali suasana di dalam bis. Orang2 mesir terlihat bergelantungan memegang besi diatas. Panas, pengap, dan berdesak2an sudah menjadi tradisi sendiri di kota seribu satu menara ini.

“ masr..!.hakadza fi masr..”

           Kata seorang pemuda mesir di sampingku yang berdiri di pinggir pintu belakang.

“ la ah! ‘adi ya ‘aam...” jawabku

          Kuambil uang lima puluh piester di kantong kecil tas hitamku. Kemudian kuberikan kepada kernet yang duduk dekat pintu belakang. Setelah menerima karcis dari si kernet ku raba semua kantongku dari kantong belakang hingga depan tidak terlepas kantong kemejaku. Aku memang terbiasa memastikan kantong2ku jika aku sedang berada di bis umum. Setelah dirasa aman dan tidak ada yang hilang kucari posisi di dekat pintu belakang dekat orang2 mesir yang tadi menyapaku.

“ inta sanah kam ? “ kata dia

“ sanah tsalisah , tafsir ...inta sanah kam ? tanyaku balik

“ ana fi kuliah tigaroh “ jawabnya.

“ ib’a inta basya ! “

         Obrolan kecil menemani perjalananku kali ini ke kuliah. Banyak hal yang kita obrolkan salah satunya, memperdalam kemampuan bahasa arab. Walaupun aku tahu bahasa arab dia masih kacau tapi aku dengarkan saja. Beberapa bait dia bacakan sebagai ta’kid dari faedah belajar bahasa arab. Dibelakang kudengar salah seorang kawan dia membenarkan kata qudsah yang dia katakan menjadi qudsiyah. Aku mencoba pura2 tidak paham sambil terus mendengarkan dia. Setelah dia selesai baru aku balas. Aku bilang kalau di mesir bisa dibilang susah untuk mempelajari bahasa arab, bahkan untuk orang pribumi sekalipun. Masalahnya di sini jarang2 halaqoh yang menggunakan bahasa penyampaian dengan bahasa arab fusha. Rata2 semua menggunakan bahasa ‘amiyah.

         Tidak lama aku mengobrol ria dengna orang mesir yang sama2 mahasiswa itu kemudian tidak terasa aku sudah sampai di terminal darasa. Kuturun dengan sigap dan terus berjalan menuju mustasfa husein. Kulangkahkan kakiku dengan pasti dan tegap. Kupastikan kantong2ku masih aman sambil bergumam mengulang hafalan juz dua.

          Di pertengahan jalan, tepatnya di depan tukang tho’miyah aku berpapasan dengan dua orang sahabatku yang sama2 qism tafsir. Mereka memberitahukan kalau duktur Farmawi sebentar lagi mau mengajar. Dengan spontan aku semakin mempercepat langkah kakiku bahkan sesekali ku iringi dengan berlari. Setelah melalui mustasfa Husein kucoba berlari, berlari dan berlari hingga tiba di depan gedung fakultas ushuluddin.

          Kuambil saputangan dari kantong kemejaku. Kuusap dahiku yang sudah mulai berkeringat sambil mempercepat irama langkahku menuju kantor qism tafsir di lantai tiga. Lantai satu, telah kulalui. Sesampainya dilantai dua, aku berhenti sejenak. Kucoba untuk mengatur nafas dan merapikan pakaianku. Setelah terasa agak tenang aku langsung menuju ruangan duktur qism tafsir dengan setengah tergesa. Sesampainya di sana kulihat tidak ada orang yang antri. Awalnya aku mencoba untuk memberanikan diri masuk tapi ku lihat kawanku Rahmanan, bersama kerumunan teman2 di depan kamar lain. Akhirnya aku dan dia masuk bersama menghadap duktur Farmawi sambil memberikan kerneh kepadanya.

= = = = =

         Kuambil lagi saputangan abu2 dari saku kemejaku. Kususut keringat di dahi dan leher yang tidak henti2nya mengalir. Musim panas memang banyak membuat manusia bercucur keringat walau tanpa melakukan hal2 berat sekalipun. Aku teringat dengan zainul yang sewaktu aku memasuki gerbang kampus tadi dia sempat memanggilku. Tapi aku tidak sempat menghampirinya, karena takut dr. Farmawi keburu mengajar. Akhirnya sambil menunjuk ke arah gedung fakultas ushuluddin aku bilang “ ngambil uang dulu nul..! “.

          Aku berdiri di bawah pohon rindang dekat gerbang masuk alazhar. Kucoba telpon zainul.

“ salamualaiku...! halo..ust. musyfik..! antum dimana neh?”

“ ana lagi di maktabah turumdzi, antum di mana? “

“ ana di tempat antum tadi “

“oh..ya udah ana sekarang ke sana. Tunggu ya! ‘

“ ya..waskum “

           Tidak lama kemudian zainul muncul di depan gerbang dan langsung memelukku. Kita memang seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Padahal kita tidak bertemu sekitar sebulan seetngahan. Pertama kali kenal dengannya ketika aku bekerja di salah satu restoran milik orang malaysia. Itupun setelah aku bekerja beberapa bulan di sana. Artinya zainul pekerja yang baru. Sebelum aku keluar pertengahan maret kemaren dia masih bekerja di sana. Semenjak keluar itulah aku dan dia tidak pernah bertemu lagi. Baru sekarang kita bertemu di kuliah alazhar. Selama ini dia memang masuk pagi, jadi tidak bisa menyempatkan diri untuk pergi kuliah. Sekalipun masuk sore terkadang pulang hingga larut malam dan tidak bisa tidur kecuali setelah shalat subuh.

           Aku sengaja memanggil dia dengan ust. Musyfik. Dulu sebelum dia berangkat ke Mesir, dia sempat mengabdi di salah – satu pondok modern At Tawazun Kalijati – Subang. Mudir dari ma’had itu bernama ust. Musyfik lc. Oleh karena itulah aku memanggilnya dengan nama mudir ma’had sebagai tanda penghormatan untukknya. Begitupun sebaliknya, dia memanggilku dengan kiyai Marwan. Beliau adalah salah – satu pimpinan pesantren salaf atau tradisional di dekat pesantren at tawazun nya ust. Musyfik. Panggilan ini juga dia maksudkan sebagai panggilan penghormatan bagiku. Karena waktu masih di Indonesia dulu, aku pernah belajar dan mondok di pesantren Assyafi’iyyah milik kiyai marwan untuk beberapa lama.

Setelah saling menghilangkan rasa rindu yang melanda dua sahabat ini. Aku diajak berkunjung ke rumahnya di kompleks belakang azhar. Sambil menuju rumah kediaman dia dan kawan2nya aku lalui dengan menanyakan berbagai perkembangan dia dan kisah - kasih yang terjadi dengannya. Sebelumnya dia sering memintaku pesan dan saran saat kita masih bekerja di restoran malayasia. Entah mengapa dia menaruh kepercayaan tinggi padaku untuk berbagi dengannya dalam berbagai permasalahan hingga hal2 yang dianggap pribadi sekaligus. Kisah dia dengan keluarganya, tunangannya, kawan2nya bahkan rencana setelah kembali di indonesia kelak.

           Rupanya dia sudah tidak bekerja lagi di restoran milik orang malaysia, sehingga memiliki banyak waktu dan bisa bertemu di hari ini. Sambil bercerita kita sempatkan mampir ke toko2 buku di belakang azhar. Niatnya, uang yang diberikan Dr. Farmawi tadi akan aku belikan buku tafsir miliknya imam Ibnu Jarir At Thobari, atau Majmu’ Fatawa – nya Imam Ibnu Taimyah. Awalnya aku pikir bulan ini sudah tidak ada lagi beasiswa bulanan untuk para Mutafawwiqin, karena sekitar akhir bulan ini akan dimulai ujian akhir tahun. Akhirnya aku pikir lebih baik kubelikan kitab saja. Namun setelah tanya sana – sini, juga dikarenakan harga yang kita jumpai diatas budget yang aku punya. Terpaksa aku undur rencana membeli kitabku nanti selepas dari rumahnya saja. Melihat adzan ashar sebentar lagi akan tiba. Aku juga penasaran dengan kondisi teman2 yang menyewa rumah di belakang azhar. Seperti apa dan bagaimana keadaan mereka, karena selama ini aku tinggal di asrama al azhar. Jadi kurang begitu tahu dengan kehidupan kawan2 di luar. Pernah beberapa kali aku berkunjung ke rumah kawan2 di kawasan hay ‘asyir dan melihat bagaimana keadaan mereka di sana. Hanya saja yang di sekitar husein aku belum pernah.

            Tiba – tiba zainul menarik tanganku memasuki toko makanan has ala Mesir. Dengan sergap dia langsung memesan togin dua porsi sambil mengambil tempat di sebelah pojok kanan. Aku sungkan untuk menerimanya, dan serba salah dengan sikapnya. Aku sudah berkata kepadanya agar tidak usah repot2. ” Untuk kiyai Marwan masa ane ga sopan “ katanya.

Setelah makan, kita pergi ke maktabah ibnu Hazm untuk membeli kitab Mughnil Muhtaj pesanan calon kakak iparnya di Indonesia. Dari sana kita melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah dia sambil diiringi dengan obrolan2 hangat.

           Tidak terasa obrolan kita membuat kita tidak menyadari jarak dan waktu. Aku sudah sampai di depan halaman rumah zainul. Kemudian kami naik ke lantai satu sebelah kiri. Ada tanda bendera merah putihnya. Inilah rumah zainul dan kawan2.

           Semakin hangat keadaan karena Fahmi yang juga kawanku ketika bekerja di restoran malaysia ikut nimbrung obrolan kami. Tadinya aku tidak mau membangunkannya karena sedang istirahat. Namun karena asyiknya kita ngobrol hingga dia mengenali suaraku dan akhirnya bergabung.

Aku sangat senang sekali dengan kehangatan mereka. Tidak ayal lagi moment seperti ini berlalu dengan banyak bercerita mengenai keadaan masing2 pasca keluar dari restoran dan selama tidak pernah berjumpa. Gelak tawa dan canda menghiasi obrolan ringan kita di ruangan sekitar tiga kali empat itu. Tidak peduli sesempit dan seperti apa ruangan itu, namun di mata kami terasa luas dan indah dengan kehangatan dan keramahan para penghuninya.

          Ketika suasana sedang hangat – hangatnya tiba – tiba ponselku berdering tanda ada telepon masuk. Setelah aku lihat, nomer baru dari Indondesia entah siapa.
“ halo....assalamualaikum...”

“ halo...jang!! jang..!! damang..?? “ kudengar suara ibuku di seberang sana

= = = = =

“ maktabah ini kayaknya ada nul..! “

“ coba masuk yuk “

           Lalu kami masuk ke maktabah daar at turoost tidak jauh dari rumah zainul. Sambil melihat – lihat kitab di sekeliling rak yang berjajar panjang di setiap sudut, ku hampiri salah seorang penjaga di sana.

“ fie tafsir ibnu Jariir..? “

“ Aiwa..!! Athobari ..?? maugud “

“ kam si’ruh..? “ tanyaku

“ miyaten wa sitin..”

“ mumkin asyuffuh..? “

“ tahta amrok “ jawabnya

           Tidak lama kemudian dia datang dengan membawa kitab yang kuminta. Setelah tawar menawar harga, akhirnya aku jadi membeli kitab yang menjadi menjadi rujukkan ulama2 mufassir bil ma’tsur ini.

Sambil memanggul kardus berisikan kitab tiga puluh jilid aku dan zainul menuju jalan raya di depan mesjid azhar sambil tetap diiringi tawa renyah dan gurauan has ala ust. Musyfik dan kiyai Marwan.

masuklah nul !! “

“ ga usah.. lain kali aja ya “

“ ya udah, syukran ya, kapan2 main ke buuts..!! “

“ iya insyaallah....!! yuk ! hati2 kiyai Marwan “ kata inul sambil melambaikan tangan kanannya.

“ ya..salamualaikum...”

Akupun berlalu dalam taksi Mesir berwarna hitam – putih meninggalkan kawanku zainul. Kurebahkan badanku dibangku belakang sambil mengatur nafas setelah mengangkat kardus seberat sekitar delapan kilo di pundakku. Kuambil saputangan yang sudah lapuk berkali2 kupakai untuk mengusap keringat hari ini. Ku keluarkan botol aqua kecil dari tas hitam. Subhanallah, alangkah nikmatnya air mineral yang ku teguk ini. Betapa nikmat Allah tidak bisa dihitung dengan kata2. Tidak bisa diukur dengan berat neraca. Aku hanya bersyukur sambil memuji asma - Nya yang telah mengusir rasa dahagaku dengan air, menyusut keringatku dengan hembusan angin dari luar taksi. Kembali mulutku bergumam menerusan hafalan surat albaqoroh yang tadi belum selesai. Sesampainya di terminal darasa aku melihat Taufik kawan seasramaku. Kelihatannya dia sedang menunggu bis untuk pulang ke buuts.

“ ‘ala gambak suwayya astoh..!! “ pintaku pada supir

“ pik !! Taupik !! masuk sini ..!! “



* * * * * *

           Sedikit aku menaruh rasa prihatin kepada Zainul, Fahmi dan kawan2 yang tinggal serumah dengan mereka. Sebenarnya dari awal masuk, aku sudah agak heran melihat ruangan depan penuh dengan tumpukkan barang2 bekas, kitab, sepatu, lemari dan lain2. Ketika aku diajak masuk ke kamar zainul yang asalnya ruangan terbuka tapi di hijab dengan kain untuk dijadikan kamar, hatiku terenyuh. Kulihat tempat tidur dia yang seadanya dan bertingkat dua. Hatiku kembali terenyuh. Komputer yang teletak di bawah kanan ranjang untuk sekedar mencari hiburan dan menghilangkan kepenatan. Namun, tetap hatiku kembali terenyuh. Aku diajak masuk ke kamar Fahmi yang waktu itu sedang istirahat. Zainul menyalakan salah – satu komputer yang ada di sana dan setelah aku melihat keadaannya hatiku kembali terenyuh. Kulihat buku kuteib yang tersusun rapi di pinggir komputer milik Fahmi. Mungkin isinya catatan2 penting anak pikiran dan hasil kontemplasi dia.


           Perlahan kutarik nafas sambil melihat wajah kawanku Fahmi yang tengah lelap istirahat di atas ranjang seadanya.” Subhanallah....” gumamku dalam hati. Betapa sederhana sekali kehidupan kawan2ku di sini. Sungguh perjuangan mereka lebih besar dan lebih berat dariku. Suasana dan kondisi tempat tinggal mereka yang sangat sederhana dan boleh dibilang sangat sempit itu tidak mematahkan semangat dan tekad mereka untuk berjuang di negri Musa ini. Merelakan badan mereka terlahap panasnya bulan mei hingga keringat yang bercucuran menguap sebelum jatuh ke tanah atau sekedar tersusut saputangan. Tidak peduli tubuh mereka diterpa angin musim dingin saat talaqqi di beranda mesjid azhar yang tidak jarang membuat kaki dan tangan tidak bisa bergerak keram dan beku. Tidak menyerah untuk sekedar mengangkat mushaf di puncak musim dingin bahkan dengan kudua tangan sembari bergumam melantunkan ayat2 suci.

Allahumma inna hadzihi ni’mata minka wahdaka.. laa syariika laka..falaka as syukru wa laka al hamdu..Allahumma zidha ni’matan wahfadhzhaa minazzawaal...”

Tidak henti2nya hatiku melantunkan doa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Selama aku tinggal di Mesir ini, aku tidak banyak mengalami kesulitan baik materi ataupun immateri. Semenjak awal kali kakiku menyentuh tanah negri kinanah ini aku langsung masuk asrama azhar yang merupakan asrama internasional untuk berbagai mahasiswa dari berbagai negara. Fasilitas kamar, peralatan belajar, lemari, tempat tidur , selimut sudah disediakan dari pihak azhar. Makan secara Cuma2 dua kali sehari, bahkan tiga kali. Di akhir bulan diberikan beasiswa bulanan sebagai bekal tambahan bagi para mahasiswa. Alhamdulillaah, terimakasih Robb..!!

Azhar sudah memberikan fasilitas sedemikian rupa agar para mahasiswa dapat fokus kepada studinya. Tidak ada alasan lagi untuk bermalas2an dan meninggalkan bangku kuliah. Makan tinggal datang ke dapur, listrik tinggal pakai tanpa batas. Olahraga tinggal datang ke lapangan. Bahkan disediakan gedung fitness untuk mereka yang suka mengolah badan.

Sungguh kehidupanku jauh dari keadaan kawan2 yang berada di luar sana. Perjuanganku belum seberapa dibanding dengan perjuangan meraka. Bahkan tidak heran jika aku lancar masa studi dan mendapat nilai tinggi di kuliah. Karena memang rintangan dan perjuangan yang aku lalui tidak seberat dan sesusah kawan2 di luar. Lalu pantaskah jika aku tidak lancar dalam kuliah bahkan rosib berkali2 dengan keadaan dan fasilitas sedemikian rupa?. Apa kira2 alasan yang dapat diterima untuk itu semua? Aku pikir tidak ada. Tugas kita di sini hanya belajar, belajar dan terus belajar. Bukan bekerja, bukan lari dari bangku kuliah. Aktif di kegiatan lain tapi semakin jauh dari kampus bahkan minder untuk menghadiri kuliah.

           Betapa nikmat yang Allah berikan kepadaku belum sepenuhnya ku syukuri. Betapa meruginya diriku jika harus meninggal di tengah2 lumbung padi. Aku iri dengan keadaan kawan2. Aku ingin mengarungi hidup dengan penuh perjuangan dan aral rintang. Agar dapat menjadi hamba pilihan – Mu Robb. Berikan hamba kekuatan dan hidayah dalam mengarungi kehidupan ini.


********