Kaca mata kebesaran islam

          Dalam keseharian kita sering menemukan berbagai kendala dan masalah bahkan disepanjang mata memandang. Kita lihat di terminal beberapa orang yang merokok seenaknya, membuang sampah di sembarang tempat, bahkan sampai di dalam bis kita harus rela berdesak – desakan. Belum lagi ternyata


Melayang di atas Kairo 1


         Sore ini, pemandangan di kota kairo masih terlihat ramai seperti hari – hari sebelumnya. Dari asrama aku langsung menuju daerah darasa’ melewati gerbang polisi yang megah itu. Di arah kiri kulihat beberapa orang polisi melempar senyum khasnya seperti yang sering aku dapatkan setiap pagi ketika pergi kuliah.
“ ‘amil eh y a gama’ah ?”


Melayang di atas Kairo2

          Ya di sampingku kini berdiri kokoh gedung tua universitas al – Azhar yang telah melahirkan berjuta – juta ulama di seluruh penjuru dunia. Ah, aku jadi teringat Dr. Yusuf qardhawi tokoh legendaris abad ini, yang banyak disalah artikan sebagian fatwa – fatwa beliau.


Berjuang tiada akhir...

Ahad, 02 Mei 2010



S

uasana kegembiraan kini menyelimuti kelabut hatiku di tengah – tengah pengapnya atmosfer kota Kairo yang sedang dilalui musim panas. Selepas shalat dzuhur tadi aku langsung pergi ke kuliah. Kupakai kemeja made in egypt yang sudah kupotong lengannya dari panjang menjadi shorthand.

Celana hitam ini kupikir cocok mendampingi corak kemeja yang bergaris lurus ke bawah. Kusisir rambut lurusku perlahan dengan dilumuri minyak zaitun agar tampak mengkilau dan tidak cepat kering. Kuoleskan pula shavinggell tepat di atas kumisku yang setengah tumbuh setelah beberapa hari lalu aku potong. Ku sisir dengan silet dari ujung bibir kanan ke ujung kiri. Dari atas hingga bawah bibir mendekati jenggot. kemudian kulambatkan gerakanku agar tidak mengkurud jenggot dan tidak melebihi batas.

Kuambil sisir kecil dan kuletakkan menempel ke jenggot. Di atasnya kupotong rapi dengan gunting kecil. Ya, jenggotku sekarang hanya sekitar satu centimeter, atau satu sisir. Bukan apa2 aku hanya ingin terlihat rapi dan enak dilihat. Di sisi lain aku tidka berani kalau harus mengkurud bersih jenggotku.

Kubuka lemari kecil tempat sepatu pantopleku. Kuambil kaus kaki putih pendek ukuran mata kaki dan sepatu hitam mungil pavoritku untuk kuliah. Kuambil pula jam tangan berwarna keemasan yang kubeli tahun lalu dekat kampus al azhar sebelum mengambil tas hitam yang biasa kuselendangkan menemani hari2ku kuliah. Kumasukkan buku tafsir tahlili yang belum habis kubaca. Selepas dari kampus nanti aku akan sempatkan diri untuk melanjutkan membaca di serambi mesjid azhar, pikirku.

           Setelah kutitipkan kamar ke mang Jajang yang sedang memakai komputerku, kuoleskan minyak kasturi putih ke seluruh kemejaku. Sambil melangkahkan kaki meninggalkan kamar kupanjatkan doa tanda tawakkalku hari ini kepada Allah swt.

           Baru beberapa langkah meninggalkan gerbang asrama internasional azhar dari arah kanan datang bis delapan puluh coret menuju darasa. Sangat tepat sekali pikirku. Baru saja aku keluar gerbang, langsung datang bis tujuan darasa. Biasanya harus kulalui sekitar setengah jam atau lebih untuk menunggu di halte.

Sangat sempit sekali suasana di dalam bis. Orang2 mesir terlihat bergelantungan memegang besi diatas. Panas, pengap, dan berdesak2an sudah menjadi tradisi sendiri di kota seribu satu menara ini.

“ masr..!.hakadza fi masr..”

           Kata seorang pemuda mesir di sampingku yang berdiri di pinggir pintu belakang.

“ la ah! ‘adi ya ‘aam...” jawabku

          Kuambil uang lima puluh piester di kantong kecil tas hitamku. Kemudian kuberikan kepada kernet yang duduk dekat pintu belakang. Setelah menerima karcis dari si kernet ku raba semua kantongku dari kantong belakang hingga depan tidak terlepas kantong kemejaku. Aku memang terbiasa memastikan kantong2ku jika aku sedang berada di bis umum. Setelah dirasa aman dan tidak ada yang hilang kucari posisi di dekat pintu belakang dekat orang2 mesir yang tadi menyapaku.

“ inta sanah kam ? “ kata dia

“ sanah tsalisah , tafsir ...inta sanah kam ? tanyaku balik

“ ana fi kuliah tigaroh “ jawabnya.

“ ib’a inta basya ! “

         Obrolan kecil menemani perjalananku kali ini ke kuliah. Banyak hal yang kita obrolkan salah satunya, memperdalam kemampuan bahasa arab. Walaupun aku tahu bahasa arab dia masih kacau tapi aku dengarkan saja. Beberapa bait dia bacakan sebagai ta’kid dari faedah belajar bahasa arab. Dibelakang kudengar salah seorang kawan dia membenarkan kata qudsah yang dia katakan menjadi qudsiyah. Aku mencoba pura2 tidak paham sambil terus mendengarkan dia. Setelah dia selesai baru aku balas. Aku bilang kalau di mesir bisa dibilang susah untuk mempelajari bahasa arab, bahkan untuk orang pribumi sekalipun. Masalahnya di sini jarang2 halaqoh yang menggunakan bahasa penyampaian dengan bahasa arab fusha. Rata2 semua menggunakan bahasa ‘amiyah.

         Tidak lama aku mengobrol ria dengna orang mesir yang sama2 mahasiswa itu kemudian tidak terasa aku sudah sampai di terminal darasa. Kuturun dengan sigap dan terus berjalan menuju mustasfa husein. Kulangkahkan kakiku dengan pasti dan tegap. Kupastikan kantong2ku masih aman sambil bergumam mengulang hafalan juz dua.

          Di pertengahan jalan, tepatnya di depan tukang tho’miyah aku berpapasan dengan dua orang sahabatku yang sama2 qism tafsir. Mereka memberitahukan kalau duktur Farmawi sebentar lagi mau mengajar. Dengan spontan aku semakin mempercepat langkah kakiku bahkan sesekali ku iringi dengan berlari. Setelah melalui mustasfa Husein kucoba berlari, berlari dan berlari hingga tiba di depan gedung fakultas ushuluddin.

          Kuambil saputangan dari kantong kemejaku. Kuusap dahiku yang sudah mulai berkeringat sambil mempercepat irama langkahku menuju kantor qism tafsir di lantai tiga. Lantai satu, telah kulalui. Sesampainya dilantai dua, aku berhenti sejenak. Kucoba untuk mengatur nafas dan merapikan pakaianku. Setelah terasa agak tenang aku langsung menuju ruangan duktur qism tafsir dengan setengah tergesa. Sesampainya di sana kulihat tidak ada orang yang antri. Awalnya aku mencoba untuk memberanikan diri masuk tapi ku lihat kawanku Rahmanan, bersama kerumunan teman2 di depan kamar lain. Akhirnya aku dan dia masuk bersama menghadap duktur Farmawi sambil memberikan kerneh kepadanya.

= = = = =

         Kuambil lagi saputangan abu2 dari saku kemejaku. Kususut keringat di dahi dan leher yang tidak henti2nya mengalir. Musim panas memang banyak membuat manusia bercucur keringat walau tanpa melakukan hal2 berat sekalipun. Aku teringat dengan zainul yang sewaktu aku memasuki gerbang kampus tadi dia sempat memanggilku. Tapi aku tidak sempat menghampirinya, karena takut dr. Farmawi keburu mengajar. Akhirnya sambil menunjuk ke arah gedung fakultas ushuluddin aku bilang “ ngambil uang dulu nul..! “.

          Aku berdiri di bawah pohon rindang dekat gerbang masuk alazhar. Kucoba telpon zainul.

“ salamualaiku...! halo..ust. musyfik..! antum dimana neh?”

“ ana lagi di maktabah turumdzi, antum di mana? “

“ ana di tempat antum tadi “

“oh..ya udah ana sekarang ke sana. Tunggu ya! ‘

“ ya..waskum “

           Tidak lama kemudian zainul muncul di depan gerbang dan langsung memelukku. Kita memang seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Padahal kita tidak bertemu sekitar sebulan seetngahan. Pertama kali kenal dengannya ketika aku bekerja di salah satu restoran milik orang malaysia. Itupun setelah aku bekerja beberapa bulan di sana. Artinya zainul pekerja yang baru. Sebelum aku keluar pertengahan maret kemaren dia masih bekerja di sana. Semenjak keluar itulah aku dan dia tidak pernah bertemu lagi. Baru sekarang kita bertemu di kuliah alazhar. Selama ini dia memang masuk pagi, jadi tidak bisa menyempatkan diri untuk pergi kuliah. Sekalipun masuk sore terkadang pulang hingga larut malam dan tidak bisa tidur kecuali setelah shalat subuh.

           Aku sengaja memanggil dia dengan ust. Musyfik. Dulu sebelum dia berangkat ke Mesir, dia sempat mengabdi di salah – satu pondok modern At Tawazun Kalijati – Subang. Mudir dari ma’had itu bernama ust. Musyfik lc. Oleh karena itulah aku memanggilnya dengan nama mudir ma’had sebagai tanda penghormatan untukknya. Begitupun sebaliknya, dia memanggilku dengan kiyai Marwan. Beliau adalah salah – satu pimpinan pesantren salaf atau tradisional di dekat pesantren at tawazun nya ust. Musyfik. Panggilan ini juga dia maksudkan sebagai panggilan penghormatan bagiku. Karena waktu masih di Indonesia dulu, aku pernah belajar dan mondok di pesantren Assyafi’iyyah milik kiyai marwan untuk beberapa lama.

Setelah saling menghilangkan rasa rindu yang melanda dua sahabat ini. Aku diajak berkunjung ke rumahnya di kompleks belakang azhar. Sambil menuju rumah kediaman dia dan kawan2nya aku lalui dengan menanyakan berbagai perkembangan dia dan kisah - kasih yang terjadi dengannya. Sebelumnya dia sering memintaku pesan dan saran saat kita masih bekerja di restoran malayasia. Entah mengapa dia menaruh kepercayaan tinggi padaku untuk berbagi dengannya dalam berbagai permasalahan hingga hal2 yang dianggap pribadi sekaligus. Kisah dia dengan keluarganya, tunangannya, kawan2nya bahkan rencana setelah kembali di indonesia kelak.

           Rupanya dia sudah tidak bekerja lagi di restoran milik orang malaysia, sehingga memiliki banyak waktu dan bisa bertemu di hari ini. Sambil bercerita kita sempatkan mampir ke toko2 buku di belakang azhar. Niatnya, uang yang diberikan Dr. Farmawi tadi akan aku belikan buku tafsir miliknya imam Ibnu Jarir At Thobari, atau Majmu’ Fatawa – nya Imam Ibnu Taimyah. Awalnya aku pikir bulan ini sudah tidak ada lagi beasiswa bulanan untuk para Mutafawwiqin, karena sekitar akhir bulan ini akan dimulai ujian akhir tahun. Akhirnya aku pikir lebih baik kubelikan kitab saja. Namun setelah tanya sana – sini, juga dikarenakan harga yang kita jumpai diatas budget yang aku punya. Terpaksa aku undur rencana membeli kitabku nanti selepas dari rumahnya saja. Melihat adzan ashar sebentar lagi akan tiba. Aku juga penasaran dengan kondisi teman2 yang menyewa rumah di belakang azhar. Seperti apa dan bagaimana keadaan mereka, karena selama ini aku tinggal di asrama al azhar. Jadi kurang begitu tahu dengan kehidupan kawan2 di luar. Pernah beberapa kali aku berkunjung ke rumah kawan2 di kawasan hay ‘asyir dan melihat bagaimana keadaan mereka di sana. Hanya saja yang di sekitar husein aku belum pernah.

            Tiba – tiba zainul menarik tanganku memasuki toko makanan has ala Mesir. Dengan sergap dia langsung memesan togin dua porsi sambil mengambil tempat di sebelah pojok kanan. Aku sungkan untuk menerimanya, dan serba salah dengan sikapnya. Aku sudah berkata kepadanya agar tidak usah repot2. ” Untuk kiyai Marwan masa ane ga sopan “ katanya.

Setelah makan, kita pergi ke maktabah ibnu Hazm untuk membeli kitab Mughnil Muhtaj pesanan calon kakak iparnya di Indonesia. Dari sana kita melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah dia sambil diiringi dengan obrolan2 hangat.

           Tidak terasa obrolan kita membuat kita tidak menyadari jarak dan waktu. Aku sudah sampai di depan halaman rumah zainul. Kemudian kami naik ke lantai satu sebelah kiri. Ada tanda bendera merah putihnya. Inilah rumah zainul dan kawan2.

           Semakin hangat keadaan karena Fahmi yang juga kawanku ketika bekerja di restoran malaysia ikut nimbrung obrolan kami. Tadinya aku tidak mau membangunkannya karena sedang istirahat. Namun karena asyiknya kita ngobrol hingga dia mengenali suaraku dan akhirnya bergabung.

Aku sangat senang sekali dengan kehangatan mereka. Tidak ayal lagi moment seperti ini berlalu dengan banyak bercerita mengenai keadaan masing2 pasca keluar dari restoran dan selama tidak pernah berjumpa. Gelak tawa dan canda menghiasi obrolan ringan kita di ruangan sekitar tiga kali empat itu. Tidak peduli sesempit dan seperti apa ruangan itu, namun di mata kami terasa luas dan indah dengan kehangatan dan keramahan para penghuninya.

          Ketika suasana sedang hangat – hangatnya tiba – tiba ponselku berdering tanda ada telepon masuk. Setelah aku lihat, nomer baru dari Indondesia entah siapa.
“ halo....assalamualaikum...”

“ halo...jang!! jang..!! damang..?? “ kudengar suara ibuku di seberang sana

= = = = =

“ maktabah ini kayaknya ada nul..! “

“ coba masuk yuk “

           Lalu kami masuk ke maktabah daar at turoost tidak jauh dari rumah zainul. Sambil melihat – lihat kitab di sekeliling rak yang berjajar panjang di setiap sudut, ku hampiri salah seorang penjaga di sana.

“ fie tafsir ibnu Jariir..? “

“ Aiwa..!! Athobari ..?? maugud “

“ kam si’ruh..? “ tanyaku

“ miyaten wa sitin..”

“ mumkin asyuffuh..? “

“ tahta amrok “ jawabnya

           Tidak lama kemudian dia datang dengan membawa kitab yang kuminta. Setelah tawar menawar harga, akhirnya aku jadi membeli kitab yang menjadi menjadi rujukkan ulama2 mufassir bil ma’tsur ini.

Sambil memanggul kardus berisikan kitab tiga puluh jilid aku dan zainul menuju jalan raya di depan mesjid azhar sambil tetap diiringi tawa renyah dan gurauan has ala ust. Musyfik dan kiyai Marwan.

masuklah nul !! “

“ ga usah.. lain kali aja ya “

“ ya udah, syukran ya, kapan2 main ke buuts..!! “

“ iya insyaallah....!! yuk ! hati2 kiyai Marwan “ kata inul sambil melambaikan tangan kanannya.

“ ya..salamualaikum...”

Akupun berlalu dalam taksi Mesir berwarna hitam – putih meninggalkan kawanku zainul. Kurebahkan badanku dibangku belakang sambil mengatur nafas setelah mengangkat kardus seberat sekitar delapan kilo di pundakku. Kuambil saputangan yang sudah lapuk berkali2 kupakai untuk mengusap keringat hari ini. Ku keluarkan botol aqua kecil dari tas hitam. Subhanallah, alangkah nikmatnya air mineral yang ku teguk ini. Betapa nikmat Allah tidak bisa dihitung dengan kata2. Tidak bisa diukur dengan berat neraca. Aku hanya bersyukur sambil memuji asma - Nya yang telah mengusir rasa dahagaku dengan air, menyusut keringatku dengan hembusan angin dari luar taksi. Kembali mulutku bergumam menerusan hafalan surat albaqoroh yang tadi belum selesai. Sesampainya di terminal darasa aku melihat Taufik kawan seasramaku. Kelihatannya dia sedang menunggu bis untuk pulang ke buuts.

“ ‘ala gambak suwayya astoh..!! “ pintaku pada supir

“ pik !! Taupik !! masuk sini ..!! “



* * * * * *

           Sedikit aku menaruh rasa prihatin kepada Zainul, Fahmi dan kawan2 yang tinggal serumah dengan mereka. Sebenarnya dari awal masuk, aku sudah agak heran melihat ruangan depan penuh dengan tumpukkan barang2 bekas, kitab, sepatu, lemari dan lain2. Ketika aku diajak masuk ke kamar zainul yang asalnya ruangan terbuka tapi di hijab dengan kain untuk dijadikan kamar, hatiku terenyuh. Kulihat tempat tidur dia yang seadanya dan bertingkat dua. Hatiku kembali terenyuh. Komputer yang teletak di bawah kanan ranjang untuk sekedar mencari hiburan dan menghilangkan kepenatan. Namun, tetap hatiku kembali terenyuh. Aku diajak masuk ke kamar Fahmi yang waktu itu sedang istirahat. Zainul menyalakan salah – satu komputer yang ada di sana dan setelah aku melihat keadaannya hatiku kembali terenyuh. Kulihat buku kuteib yang tersusun rapi di pinggir komputer milik Fahmi. Mungkin isinya catatan2 penting anak pikiran dan hasil kontemplasi dia.


           Perlahan kutarik nafas sambil melihat wajah kawanku Fahmi yang tengah lelap istirahat di atas ranjang seadanya.” Subhanallah....” gumamku dalam hati. Betapa sederhana sekali kehidupan kawan2ku di sini. Sungguh perjuangan mereka lebih besar dan lebih berat dariku. Suasana dan kondisi tempat tinggal mereka yang sangat sederhana dan boleh dibilang sangat sempit itu tidak mematahkan semangat dan tekad mereka untuk berjuang di negri Musa ini. Merelakan badan mereka terlahap panasnya bulan mei hingga keringat yang bercucuran menguap sebelum jatuh ke tanah atau sekedar tersusut saputangan. Tidak peduli tubuh mereka diterpa angin musim dingin saat talaqqi di beranda mesjid azhar yang tidak jarang membuat kaki dan tangan tidak bisa bergerak keram dan beku. Tidak menyerah untuk sekedar mengangkat mushaf di puncak musim dingin bahkan dengan kudua tangan sembari bergumam melantunkan ayat2 suci.

Allahumma inna hadzihi ni’mata minka wahdaka.. laa syariika laka..falaka as syukru wa laka al hamdu..Allahumma zidha ni’matan wahfadhzhaa minazzawaal...”

Tidak henti2nya hatiku melantunkan doa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Selama aku tinggal di Mesir ini, aku tidak banyak mengalami kesulitan baik materi ataupun immateri. Semenjak awal kali kakiku menyentuh tanah negri kinanah ini aku langsung masuk asrama azhar yang merupakan asrama internasional untuk berbagai mahasiswa dari berbagai negara. Fasilitas kamar, peralatan belajar, lemari, tempat tidur , selimut sudah disediakan dari pihak azhar. Makan secara Cuma2 dua kali sehari, bahkan tiga kali. Di akhir bulan diberikan beasiswa bulanan sebagai bekal tambahan bagi para mahasiswa. Alhamdulillaah, terimakasih Robb..!!

Azhar sudah memberikan fasilitas sedemikian rupa agar para mahasiswa dapat fokus kepada studinya. Tidak ada alasan lagi untuk bermalas2an dan meninggalkan bangku kuliah. Makan tinggal datang ke dapur, listrik tinggal pakai tanpa batas. Olahraga tinggal datang ke lapangan. Bahkan disediakan gedung fitness untuk mereka yang suka mengolah badan.

Sungguh kehidupanku jauh dari keadaan kawan2 yang berada di luar sana. Perjuanganku belum seberapa dibanding dengan perjuangan meraka. Bahkan tidak heran jika aku lancar masa studi dan mendapat nilai tinggi di kuliah. Karena memang rintangan dan perjuangan yang aku lalui tidak seberat dan sesusah kawan2 di luar. Lalu pantaskah jika aku tidak lancar dalam kuliah bahkan rosib berkali2 dengan keadaan dan fasilitas sedemikian rupa?. Apa kira2 alasan yang dapat diterima untuk itu semua? Aku pikir tidak ada. Tugas kita di sini hanya belajar, belajar dan terus belajar. Bukan bekerja, bukan lari dari bangku kuliah. Aktif di kegiatan lain tapi semakin jauh dari kampus bahkan minder untuk menghadiri kuliah.

           Betapa nikmat yang Allah berikan kepadaku belum sepenuhnya ku syukuri. Betapa meruginya diriku jika harus meninggal di tengah2 lumbung padi. Aku iri dengan keadaan kawan2. Aku ingin mengarungi hidup dengan penuh perjuangan dan aral rintang. Agar dapat menjadi hamba pilihan – Mu Robb. Berikan hamba kekuatan dan hidayah dalam mengarungi kehidupan ini.


********