Istana Sawarga

Bismillahirrahmanirrahiem....
            Baru kali ini aku mengalami kejadian dahsyat yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Ya, gempa kali ini telah meluluh – lantahkan semua bangunan dan jalan - jalan yang ada di daerahku. Bahkan hampir semua rumah, termasuk gedung tempatku tinggal ambruk di telan bumi.
           Tidak ada pikiran lain dalam benakku selain dari lari sekencang – kencangnya. Entah ke mana arah yang kutuju yang jelas aku hanya ingin berlari, terus berlari. Yang penting aku terhindar dari gempa ini. Aku masih ingin hidup, aku belum siap untuk mati. Amalku masih sedikit. Masih banyak cita – cita dan rencana hidupku yang belum tercapai. Bagaimana dengan ibu dan keluargaku jika tahu aku diterpa gempa yang membabi buta. Tidak mempedulikan siapapun yang ada di atasnya. Kulihat jalan raya di sampingku , terbelah dengan sangat cepat. Seluruh kendaraan di atasnya anjlok ke bawah tanah. Semua orang berteriak histeris tidak karuan, dan entah kemana mereka akan mengngsi. Akupun tidak tahu kemana aku harus menyelamatkan diri. Beberapa kali kakiku terjebak lubang dan terpeleser hampir masuk ke dalam bumi. Ya salaaaaaaaaam....gema takbir, tahmid, tahlil terdengar mengiringi suara runtuhan bangunan dari orang – orang yang masih selamat.
           Aku serasa ingin menangis melihat kejadian ini, tapi aku tidak mau menyerah dengan keadaan seburuk apapun. Pasti masih ada jalan keluar, pasti aku masih bisa selamat. Dengan tekad ini aku teruskan kakiku untuk berlari sekencang – kencangnya. Tidak terasa celanaku basah tidak kuasa menahan dahsyatnya gempa yang mendadak ini. Air mataku tak karuan mengalir sambil terus – menerus meneriakkan takbir.
“ allaahu akbarrr......!!! Allaaahu akbarr...!! “
          Entah kemana aku harus berlabuh, melihat semua daerah di depanku sedang ambruk. Ini bukan filem kiamat 2012 yang sempat aku saksikan beberapa bulan kebelakang. Kini aku sendiri yang mengalami kejadian serupa. Ya robb...selamatkan diri hamba robb...!!
Sungguh kalau sekiranya aku dipanggil hari ini, bekalku manalah cukup untuk kehidupan akhirat nanti. Ya robb...selamatkan aku robb...selamatkan aku robb...tolong hamba robb....!! tolong hamba...!! keluargaku masih di Indonesia, aku ingin mereka menyaksikan keberhasilanku robb..!!
           Air mataku seakan tidak pernah ada habisnya. Akupun semakin menjadi – jadi untuk menangis, tak ubahnya seperti anak kecil tidak diberikan mainan. Berteriak sekencang – kencangnya. Memohon semampunya, sembari sesengukkan namun tetap, mulutku tidak pernah alfa menyerukan takbir.
          Betapa kerdilnya mausia yang selama ini senang menyombongkan diri dengan kekuasaan dan hartanya. Hari ini sungguh ketentuan allah telah datang.Tidak ada yang dapat menyelamatkan jiwanya masing – masing kecuali Allah seorang. Sungguh tiada gunanya rasa bangga , sombong, dan takabur yang dahulu diagung – agungkan tatakala dalam keadaan aman. Kusaksikan sendiri hari ini, bagaimana anak kecil tidak berdosa harus mati dalam satu detik saja ketika seluruh badannya tertimpa tidang listrik di pinggir jalan. Atau kakek tua yang tidak bisa lari itu tertumpuk kendaraan dan masuk ke dalam lubang di telan bumi. Subhanallaaaah....!!
          Hanya sekitar dua menit gempa ini berlangsung tapi, sungguh telah merubah seluruh peradaban di atasnya. Aku masih tetap menangis di pinggir sebuah padang luas. Sambil mengingat kejadian yang baru saja aku alami di negri� ini. Aku ingin pulang sekarang juga. Aku ingin bertemu dengna keluargaku. Aku tidak mau mati di sini. Tapi bagaimana, semua kendaraan dan jalan telah lenyap di telan bumi. Ya robb....jangan siksa hamba lagi..
           Beberapa menit gempa ini berhenti, tidak lama kemudian tanah tempatku duduk mendadak bergoyang lagi. Semakin lama semakin cepat. Rasa takut dan kaget mendadak menyelimuti seluruh tubuhku. Aku tidak mau mati sekarang..!! aku harus berlari..!! harus berlari...!!
“ praakkkk.....”
“ Allaaahuakbarr...!!! allaaahu akbarr..!!! “
           Penglihatanku mulai kabur, kesadaranku mulai melemah. entah berapa persen lagi ingatanku yang masih brjalan normal. Aku seakan sudah tidak ingat lagi siapa diriku. Bahkan aku tidak ingat sedang dimana aku berada dan apa yang sedang aku perbuat. Bukit – bukit kecil yang mengelilingi daerah ini mendadak pecah mengelaurkan cairan panas berwarna merah . Keadaan semakin bertambah buruk saja. Inikah yang namanya kiamat kubra..?? aku semakin histeris melihat kejadian yang sangat dahsyat . Benar – benar tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Kesadaranku kini telah lenyap...
            Tiba – tiba entah dalam keadaan sadar atau tidak aku mendengar ada panggilan dari arah atas. Panggilan agar aku bergabung dengan golongan mereka yang terlihat sedang berkumpul di atas awan. Kulihat banyak orang sedang berkumpul di sana. Semuanya memakai pakaian putih, entah jubah atau pakaian lainnya. Tapi menurutku menyerupai pakaian ihram.
“ bergabunglah wahai engkau..! tidka ada lagi tempat untuk melarikan diri kemanapun engkau berlari..”
             Otak normalku mengatakan kalau mereka adalah arwah – arwah yang barusaja ditelan bumi. Aku tidak mau bergabung dengan mereka, aku masih punya banyak cita – cita dan belum siap untuk menghadap Allah. Amalku masih sangat sedikit, bahkan dosaku sangat bayak . sudah pasti aku akan masuk neraka jika aku bergabung dengan mereka.
            Tangisanku semakin menjadi – jadi di tengah kesadaran yang redup – redam itu. Yang ada dalam pikiranku masih berlari dan menyelamatkan diri berusaha terhindar jauh dari bangunan dan lubang – lubang yang dihasilkan oleh gempa.
Suara tadi terdengar kembali di telingaku, malah semakin terasa dekat saja.
“ bergabunglah dengan yang di atas...!! kami tidak bisa pergi sebelum kamu ikut dengan kelompok kami..!! “
“astaghfirullaaah.. aku belum siap matii....!!! “ teriakku dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri. Semua kesadaranku benar – benar telang hilang sama sekali. Aku benar – benar seperti orang sawan atau orang gila.
                                                      *****
                Bumi seakan tidak lagi bergoyang, semua keadaan sudah terasa aman dan gempa dahsyat hari ini sepertinya sudah selesai. Aku tidak lagi dalam keadaan ketakutan seperti tadi. Pakaianku juga sudah tidak basah lagi. Seluruh badanku sudah bersih dan semerbak wewangian yang sangat harum keluar dari tubuh dan pakaianku. Tapi sebentar, mengapa pakaianku tampak putih semua..?? bukannya tadi aku mengenakkan kaus hijau dan celana abu – abu..?? dimana sebenarnya aku sekarang..?? jangan – jangan kelompok tadi..?
“ ya salaaaam....!! “
                Benar saja, ketika kulihat ke sekitar ternyata aku sudah bergabung dengan orang – orang yang tadi kulihat sedang berkumpul di atas awan. Mereka tampak ramah mengumbar senyum sambil mendekapku satu persatu. Pertamakali memelukku orang yang mungkin pemimpin mereka. Dia tampak agak beda dengan orang – orang di sampingnya.
“ ya Robb, benarkah aku sudah menjadi arwah korban gempa tadi pagi..?? “
                  Hatiku berbisik, memastikan kalau aku benar – benar sudah mati atau belum. Kulihat ke bawah. Suasana bumi sangat kacau sekali. Semuanya tampak semrawut dihantam gempa yang sangat dahsyat. Tidak ada tempat yang terlihat selamat dari keganasannya. Kulihat semuanya hancur dan porak – poranda.
“ mungkin aku benar – benar sudah mati “
                   Tiba – tiba hatiku kembali dihantui rasa cemas yang teramat sangat. Mengingat amal ibadahku yang masih sangat sedikit. Sementar aku harus menghadap sang Raja untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah aku lakukan selama hidup di dunia. Umurku, hartaku, ilmuku dan yang paling menakutkan dosa – dosaku. Tapi kemudian hatiku kembali tenang tatkala melihat salah seorang dari mereka.
                  Beberapa orang yang mungkin sebagai pembimbing mengajak kami berjalan menapaki tangga berukuran lebar dan sangat luas. Entah tertuju kemana. Ada satu hal yang masih tidak kumengerti. Mengapa hatiku tidak merasakan ketakutan yang teramat sangat seperti yang kualami ketika gempa tadi. Padahal aku akan berhadapan dengan Allah dalam waktu dekat ini. Justru yang kurasakan adalah ketenangan berada dengan kelompok mereka.
                 Satu persatu kaki kami menapaki tangga yang tampak bening berkilauan hingga kami sampai di depan gerbang besar. Ya, tidak lama dari tempat kami berkumpul tadi, kini sudah sampai di tempat yang benar – benar asing sekali. Aku tidak tahu apa nama tempat ini. Dari depan gerbang , aku tidak lagi melihat bumi yang porak – poranda. Semuanya tampak gelap dan yang bersinar hanya gerbang ini saja. Terdapat banyak pintu disepanjang� gerbang ini. Gerbang tinggi yang menjulang dan terbentang sangat panjang. Tidak diketahui ujung yang satu dan ujung yang lainnya. Berwarna seperti perak silver yang berkilau – kilau. Sungguh sangat mempesona, saking indahnya aku sendiri tidak bisa melukiskan apa warna sebenarnya dan suasana� yang terasa.
              Aku mencoba bertanya kepada salah – seorang pengawal yang dari tadi menuntun kelompok kami.
“ tempat apa ini syeikh...? sedang berada di mana sebenarnya kami ini..? “
“ ini adalah gerbang syurga, sebentar lagi kalian akan masuk ke dalamnya “
“ subhanallaaaah...!! benarkah ini Istana syurga.? “ gumamku
              Kamipun digiring memasuki gerbang indah itu oleh beberapa orang yang tadi menuntun kami. Penjaga gerbang membuka pintu dan menyalami kami satu persatu. Kami benar – benar memasuki gerbang syurga ini. Betapa indah dan sangat menakjubkan sekali. andai rangkaian kata mampu melukiskan keindahannya tentu aku gambarkan di sini. Benar – benar tempat yang tidak bisa diungkapkan keindahannya oleh mulut dan kata – kata. Tidak bisa digambarkan oleh pandangan mata. Tidak bisa dirasa oleh seluruh panca indera. Kedamaian, ketenangan, keindahan merasuk perlahan ke dalam jiwa..
             Masing – masing dari kami dibimbing oleh dua orang yang pembimbing. Merekalah yang akan mengajak berjalan – jalan ke seluruh kebun yang ada di sini. Baru setelahnya diantarkan ke tempat tinggalnya masing – masing.
             Kedua pembimbingku mempersilahkanku untuk berjalan dan mengantarkanku ke sebuah taman yang sangat indah . entah taman apa namanya, hanya ada perasaan takjub dan bahagia yang kurasa.
          Tiba – tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku kalau aku ditunggu di salah – satu taman oleh bunda Maryam. Kamipun bergegas mencari beliau di taman yang dimaksud, setelah berkeliling, akhirnya kami menjumpainya di salah satu taman yang dipenuhi oleh pesona keindahan.
             Sungguh teramat di sayangkan, aku tidak ingat samasekali apa yang beliau katakan kepadaku. Perkiraanku waktu itu beliau menyuruhku kembali ke bumi. Entah belum waktuku untuk berada di sana ataukah ada alasan lain. Entah apa isi percakapan itu, walau kupaksakan untuk mengingatnya dengan keras tetap saja tidak kutemukan.
               Aku hanya melihat beliau berbicara kepadaku dengan diiringi senyum manis dari kedua bibirnya. Tatkalau beliau selesai dari pembicaraannya, tiba – tiba aku terhentak kaget.
“ astagfirullaahaladzim....!!!! “
                Kutengok ke arah kiri, tampak kompter yang masih menyala. Terdengar suara murattal syeikh Mishari Rasyid yang sedang melantunkan doa. Kulihat di depanku tampak photoku yang sedang tersenyum, seakan sedang menertawakanku yang terbangun kaget. Ke arah atas kulihat rentetan kitab – kitabku yang berjajar rapi. Ternyata ini benar – benar kamarku di imaroh empat ba empat.

Madinet el boutse el islamea
Kamis, 23 September ‘10

Bus Misterius

Bismillahirrahmanirrahiem....
           Pagi ini, seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Entah mengapa, seakan selimut yang sudah berlapis dua tak mampu membendung ganasnya cuaca musim dingin. Sungguh musim yang paling aku khawatirkan selama di Mesir. Semua penyakitku mandadak kambuh. Kaus kaki, kupluk, celana monyet bahkan selimut yang sangat tebalpun tak berguna dijadikan pelindung. Kutengok jam bekkerku yang masih berbunyi. Waktu menunjukan pukul empat pagi. Setengah jam lagi adzan subuh akan tiba. “ Ah, andai saja ada pemanas ruangan “, batinku menggerutu. Kubuka kedua kaus kaki tebalku, Sambil berlalu ku ambil sikat gigi dan pasta sighnal menuju hamam. Ketika pintu kamar kubuka mendadak rasa kantuk yang masih remang – remang menggelayuti mataku kabur terbirit – birit, diterpa udara pagi kota Kairo.
“ Wuuuuhhhsss...!! “
         Gigiku gemertak, menggigil kedinginan, sengaja kupercepat irama langkahku agar tidak berlama - lama berada di luar. Sudah kuduga air kran pagi ini akan menyiksaku lagi, tapi biarlah seluruh tubuh yang terbasuh menjadi saksi di hadapan – Nya kelak. Tidak berapa lama aku sudah berada lagi di kamar dengan kondisi yang lebih segar. Ku ambil handuk untuk menyapu habis sisa2 air yang masih membasahi tangan dan kaki. Masih ada sekitar lima belas menit lagi untuk shalat tahajud.
“ Allaaaahu akbar....!! “
        Dengan mengenakan sarung dan celana monyet, ditambah baju koko berlapiskan jasket almamater kemudian dililit sorban hadiah bangdha, kuangkat kedua tanganku dengan mantap. Semilir harum kasturi merembah mengisi seluruh ruang pengap kamarku. Tidak pernah terlepas dari ritual sakralku aroma sedap dari misk abyadh yang sudah kuidap sedari Indonesia dulu. Bibirku bergeming, bergerak, perlahan dan dengan nada teratur mengikuti syeikh mishari rasyid. Kubaca awal surat Hud dengan penuh penghayatan, semakin lama aku semakin terlarut dalam alur kisah dan surat cinta dari sang Pencipta. Semakin bertambah larut ketika kisah itu menggambarkan kaum yang tidka pernah mensyukuri nikmat Allah. Seakan sedang menceritakan keburukan diriku sendiri. Astaghfiruka ya robb....
Adzan subuh sudah berkumandang, kututup lembaran mushaf yang sedang kubaca sambil berlalu menuju mesjid yang terletak di tengah asrama. Mulutku tidak berhenti bergumam, mengulang hafalan yang akan aku setorkan pagi ini kepada syeikh Asyrof di darasa. Pagi ini, kusetorkan rubu’ ke dua dari ayat wamaa min daabbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquha . Semoga lancar dan bisa mlenjutkan ke ayat selanjutnya. Cuaca di luar kamar seakan tidak mau berkompromi lagi dengan kulit manusia. Hanya kekuatan iman yang mampu menggerakan gumpalan daging ini untuk beribadah kepada – Nya. Bahkan segala macam pelapis tidak mampu membendung rasa dingin di tulang sekujur tubuh, terlebih lagi kaki. Ya salaaaam....
Pukul lima kurang seperempat. . .
         Selepas shalat subuh aku bergegas menuju keluar asrama. Kalau berangkat pagi – pagi biasanya kita mendapatkan jatah setoran lebih banyak dari yang lainnya. Dua rubu’ sudah berhasil kuhafal dari semalam. Masih kuulang mengiringi derap langkahku yang terayuh satu persatu menuju mesjid ja’fari di depan mahattah darasa. Sesampainya di depan gerbang bu’uts kutengok ke arah kanan mungkin saja ada mobil lewat ke darasa jam segini. Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit.
“ hmmmm....sepuluh menit lah buat nunggu mobil “ bisikku dalam hati, berlalu menyebrang jalan.
          Sambil duduk di bangku terminal aku lalui dengna banyak mengulang hafalan.  Udara dingin kembali menerpa tubuhku yang semakin lama semakin bergetar tidak karuan. Sesekali aku rapatkan kaki sambil menggosok2 kedua telapak tangan agar terasa hangat. Kulihat jam tangan bersejarah yang kubeli tiga tahun silam di depan kampus al azhar. Pukul lima kurang delapan menit.
Tiba – tiba dari arah kiri kulihat bis merah delapan puluh coret.
“ alhamdulillaaah.....akhirnya datang juga. “ kulambaikan tangan kepada sopir bis untuk berhenti.
“ bismillaaah.....!!”
         Kulangkahkan kaki kananku masuk pintu bus sambil membaca doa safar dalam hati. Begitu berhasil memasuki bus, aku merasakan hal aneh dengan pemandangan sekitar. Ya, serba aneh. Semuanya aneh. Tapi masih banyak kemungkinan yang bergelayut dalam benakku sehingga mengalahkan rasa penasaran yang tiba – tiba merasuk dalam hati. Astoh dan sowaq, bus ini tampak mengenakan galabiah/ jubah berwarna putih. Pemandangan yang sebenarnya sudah terbiasa di kota Ambiya ini, tapi entah mengapa ada perasaan asing yang kurasa. Apapun itu, aku tidak ambil pusing dengan semua yang terjadi di bus ini. Aku hanya menikmati suasana baru sembari bergumam mengulangi hafalan. Kuberikan uang satu pound kepada si ammu asthoh, tapi dia malah menatapku dengan senyuman.
“ kholash,,,sibuh ‘andak habib “ katanya sambil menepuk dada.
“ mitsyakirin awi ya syeikh, barokallahu fiiku..” jawabku.
       Ada ketentraman tatkala kulihat muka sang astoh yang tersenyum memandangku, tampak tenang, berwibawa, dan bersih memancarkan cahaya. Kukira umurnya mungkin sekitar empat atau lima puluhan. Dipinggirnya ada buhur kecil yang dibakar dekat pintu masuk. Semerbak kasturi kuning kurasakan memenuhi ruangan sekitar bis. Sangat nyaman sekali, aku seakan terbius oleh suasana yang kurasakan pagi hari ini. Ada dorongan kuat dalam hati untuk bercengkrama dengan sang asthoh. Belum sempat aku memulai, dia malah bertanya duluan kepadaku.
“ masih gelap begini kamu mau kemana nak....?? “ tanya asthoh yang melihatku masih berdiri di depannya sambil mendekap mushaf.
“ mau ke darasa, syeikh. Ada mau’id  dengan Syrikh Asyrof di mesjid Ja’farie ”
“ kamu sudah hafal alqur’an..? “
“ ah..belum.  laitani kuntu ma’ahum.. anda sudah hafal.?”
“ alhamdulillaah..”
    Subhanallaah..!! pantesan bus ini nonstop dengan murottal. Aku semakin bertambah segan kepada orang yang berada dihadapanku.
“ pak supir juga hafal alqur’an...? “
“ iya, beliau juga sama.. “
“ Ya salaam....barakallahu fikum ya syiekh...” ucapku berkali – kali penuh takjub kepada mereka. Ingin rasanya aku bertanya bagaimana mereka bisa menghafal alquran. Apa saja trik dan mungkin cara cepat dan mudah dalam menghafal serta agar tidak mudah hilang. Melihat mukaku yang diselimuti pertanyaan, seakan asthoh di depanku sudah bisa membaca semua persoalanku.
“ intinya bukan cepat atau lambat. Bukan lancar atau tidak. Semuanya bermuara pada niat dan hati. Apa motivasi awal kamu untuk menghafal alquran. Semuanya bermula dari sikap dan kondisi hati yang benar. Apakah ingin mendapat popularitas, penghargaan, kedudukan atau karena tuntutan lain. Jadikanlah niatan awal kamu hanya karena Allah, semata – mata ingin mendapatkan ridho – Nya. Jika masih belium bisa menguasai hatimu maka, alquran akan semakin lari darimu. Luruskan niat, bersihkan hati dari segala urusan dunia. Berharaplah agar termasuk keluarga Allah di jagat raya ini. Jika sudah benar dan tulus hatimu, Allah akan membukakan dadamu dan mejernihkan hatimu untuk menerima kalam – Nya. Ingatlah , perumpamaan kalam Allah tidak ubahnya seperti perumpamaan Dia ( Allah ) dengan seluruh makhluknya.
Orang – orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah , maka akan dilapangkan dadanya dalam menerima ( kebenaran ) islam. Sebaliknya, orang yang dikehendaki keburukan akan dijadikan dadanya terasa sesak, sempit dan seakan sedang memanjat langit yang tiada ujungnya. “
“subhanallaaah....” hatiku bergumam mendengar penjelasannya.
“ tidak semua  hafizh teramsuk orang  - orang yang selamat dari adzab Allah. Mereka sesungguhnya dihadapkan kepada dualisme pilihan yang sangat menentukan. Jika ia beramal setelahnya, maka sudah ada jaminan baginya untuk memasuki syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bahkan diberikan kesempatan untuk menyelamatkan sepuluh keluarganya yang sedang tersiksa di neraka. Diberi penhargaan orang tuanya berupa mahkota dan pakaian yang berkilau memancarkan cahaya, sinar cahayanya melebihi segala cahaya. Akan tetapi, jika ia berpaling dan tidak mengamalkan apa yang ada di dalamnya, terjerumus ke dalam kemaksiatan dan melanggar perintah – Nya. Malaikat Jabaniyah lebih mendahulukannya untuk diseret ke neraka jahannam dari pada penyembah berhala sekalipun. “
“ naudzubillaah ya robb..!! “ tiba – tiba seluruh tubuhku bergetar. Tangan dan kakiku keringatan. Keringat dingin perlahan keluar dari kening dan hidungku. “ ya Allah jangan kau jadikan hamba termasuk golongan mereka robb...!! “ batinku merintih, berharap penuh takut akan adzab – Nya.
“ ya bunayya...” kata dia yang menyaksikan perubahan di rona wajahku.
“ aiwa ya syeikh....” sambutku menjawab pangglannya.
 “ kamu tahu kisah Bal’am bin Ba’ura..? “
“ ya, aku masih ingat. Seorang ‘alim dari bani israil murid kesayangan nabi Musa AS. “
“ Dia termasuk orang yang diberikan pemahaman oleh Allh terhadap kitab – Nya. Sekaligus salah seorang yang mengetahui ismullah al a ‘ dhzom. Setiapkali berdoa senantiasa dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi, ia melanggar perintah Allah dan nabi – Nya. Lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat. Tergoda bisikan syetan dan nafsu sesaat. Akibatnya Allah jadikan lidahnya menjulur panjang sampai ke dada. Masih terrekam dalam firman – Nya di surat al a’rof : 175 sebagai pelajaran dan agar manusia yang lain dapat mengambil ‘ibrah dari kisahnya.
Malahan Allah buat perumpamaannya seperti anjing yang terus menjulurkan lidah. Dihalau atau tidak dia tetap saja menjulurkan lidahnya. “
“ astaghfirullaaahaladhzim...na’udzubillah robb...! “
         Memang ayat ini yang paling tajam dan sangat kasar menurutku. Betapa Allah menggambarkan orang – orang yang sudah memahami kitab – Nya namun merka tetap mendustakan – Nya. Perumpamaan meraka digambarkan dalam alquran seperti seekor ANJNG yang selalu menulurkan lidahnya. Sangat tajam dan sangat menyentuh sekali. Disampaikan langsung dengan kata kalb, sehingga  terasa ada tekanan yang lebih besar.
Tapi sebentar, aku serasa heran dengan kernet bus ini. Bukannya dia seorang kernet? Tapi mengapa pengetahuannya sangat dalam sekali.?
          Tunggu dulu, bukannya sekarang musim dingin..?? lalu mengapa di dalam bus ini terasa hangat...?? malah tangan dan kakiku keringatan ?? ada yang aneh dengan suasana kali ini. Kulihat seisi ruangan bus dari belakang hingga depan. Sangat rapi dan bersih. Tidak ada sampah bekas karcis ataupun tulisan peringatan “likibari as sinn wa al mu’awwiqin “.
“ Hmmmmm.............”
“ ada yang janggal “ pikirku dalam hati. Tidak ada penumpang lain dalam bus ini kecuali aku sendiri. Bukannya ini bus baru....? delapan puluh coret merah..?? seharusnya supir dan kernet tidak mengenakan jubah, melainkan pakaian resmi warna abu – abu..??? ada buhur di sini. Tapi mengelurkan aroma kasturi. Sangat aneh, dan tidak seperti biasanya. Suara murottal dengan lantunan syeikh yang tidak kukenal. Ah, mungkin hanya murottal ini saja yang agak dapat diterima. Yang lainnya masih tanda tanya dalam benakku. Benar – benar bus yang aneh.
“ Yabni, bukannya kamu mau ke mesjid itu..? “ tanya si asthoh
“ owh...benar syeikh...! “ jawabku setengah tergesa. Tidak terasa aku sudah sampai di mahattah darasa’. Sungguh perjalanan yang tidak terasa sama sekali.
“ terimakasih banyak syeikh, anda sudah memberikan nasihat yang sangat berharga sekali buat saya. Semoga saya dapat mengamalkan nasihat antum tadi. Semoga Allah memberikan keberkahan dan taufiknya kepada anda, salamku untuk pak sopir dan seluruh keluarga anda. “ ucapku kepada kernet sebelum kuputuskan untuk turun dari bus.
“ berterimakasihlah kepada Allah “ jawabnya
“ Yabni, IttaQullaah..wa yu’allimukumullaah..! bersabarlan dan istiqomahlah dalam beramal, niscaya Allah akan membukakan rahmat dan pintu keberhasilan untukmu..”
“ terimakasih syeikh...Assalamu’alaikum “
        Kuulurkan tanganku untuk menyalaminya terakhir kali dipagi ini. Suasana di terminal masih sangat sepi sekali. Belum ada orang bahkan kendaraan di terminl  kecil ini. Alhamdulillaah aku termasuk orang yang pertama memulai aktifitas di terminal darasa, pikirku.
          Udara ganas musim dingin dengan angkuhnya kembali menampar mukaku sekeluarnya dari bus itu. Aku langsung mengigil kedinginan. Kaki terasa beku, kedua tanganku terasa semakin kaku. Gigiku kebali gemertak menahan cuaca oktober yang semakin menyiksa.
           Kuberjalan menyebrangi terminal ke arah mesjid ja’farie yang terletak tepat di seberang jalan ini. Sesampainya di depan gerbang mesjid kutengok jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang sembilan menit..
“ Hahhh....!!...Astaghfirullaahal’adziem...astaghfirullaaaah..!! “ teriakku keheranan. Bukannya aku berangkat tadi pukul lima kurang delapan menit...?? sekarang kurang sembilan menit..?? tidak mungkin perjalanan bu’uts – darasa ditempuh dalam waktu satu menit. Tidak mungkin.! Sangat mustahil..! aku yakin tadi aku tidak salah lihat. Minimal sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk peralanan normal dari bu’uts ke darasa. Aku masih ingat bagaimana perbincanganku dengan sang asthoh brlangsung sangat lama.
Kuputar tubuhku menghadap terminal darasa untuk melihat kendaraan yang baru saja menghantarkanku.
“ ya salaaaaam..! “
    Tidak ada satu kendaraanpun kulihat di sana. Tidak ada bus, tramko atau mobil lainnya. Suasana terminal kuihat masih sangat gelap dan sepi sekali. Tidak sampai satu menit aku menyebrang jalan dari terminal ke mesjid. Tidak mungkin bus itu langsung pergi meninggalkan terminal. Biasanya semua kendaraan akan menunggu dipenuhi dulu oleh penumpang, baru setelahnya meninggalkan terminal. Kalaupun sudah pergi, mestinya aku masih bisa melihat mobil itu di sepanjang jalan darasa ini.
“ benar – benar bus aneh, pagi yang aneh, hari yang aneh..”
Tiba – tiba aku mencium aroma kasturi yang sama seperti aroma di dalam bus tadi. Kucoba melihat ke arah terminal dan sepanjang jalan darasa, tapi tidak juga kulihat kendaraan itu. Muka sang asthoh yang tadi menasihatiku, bergelayutan di kepalaku. Masih tampak jelas raut muka dan garis wajahnya di dalam ingatanku. Juga seluruh nasihat berharga yang telah dia berikan mengawali pagi hari ini. Semakin terlarut aku memikirkan kejadian pagi ini, bulu kudukku sedikit demi sedikit mendadak bangun. Tanpa pikir panjang segera kuberjalan memasuki mesjid untuk menyalami syeikh Asyrof dan kawan – kawan yang sudah berada di sana.


                                                Madinet el bo’utse el islamea
                                                    Cairo, 22 September ‘10