Cobalah anda duduk suatu saat disebelah orang yang sudah berumur sekitar dua puluh tahun. Perhatikan bagaimana gaya bicaranya yang khas, bertutur dengan ramah, sopan, penuh pertimbangan dan memiliki tujuan. Kemudian cobalah kembali perhatikan perubahannya setelah ia berumur tigapuluh tahun. Niscaya anda akn mendapatinya berubah dari hari ke hari, kemampuannya dalam bersosialisasi semakin berkembang dan meningkat. Tidak berlalu satu detikpun darinya kecuali perubahan senantiasa membawanya ke arah yang lebih baik. Semakin hari semakin terasah pribadi dan kemampuannya. Baik secara duniawi maupun ukhrawi.
Maka jika anda ingin mengetahui perkembangan dan berbagai hal ihwal tabiat dan kepribadian seseorang, lihatlah keseharian mereka. Mari kita perhatikan bersama ;
Saluran telekomunikasi dan informasi, seperti televisi misalkan. Anda lihat orang – orang yang melihat tayangan tertentu hanya yang memberitakan informasi – informasi penting, kemudian ia memperluas pengetahuannya dengan saluran tersebut. Bahkan semakin hari pemikirannya semakin tajam. Dari hari ke hari anda lihat kemampuannya terus berkembang. Bagaimana ia menarik kesimpulan positif dari berbagai perbincangan dengan orang lain, bahkan dari acara wawancara dan ceramah keagamaan yang diadakan saluran tersebut. Dengan mahirnya ia meningkatkan kemampuan yang ia miliki dengan segala fasilitas yang ada. Sehingga mampu menghantarkan kepada hal – hal yang tidak dia bayangkan sebelumnya. Ya, dia berhasil membuat lukisan yang menarik, memiliki kemampuan dialektika yang bagus, pemahaman yag luas, cepat tangap, orasi yang mengesankan, dan dapat membuat orang lain merasa puas.
Sementara di sisi lain, anda dapat lihat orang yang menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menonton acara sinetron bersambung yang tidak ada akhirnya. Menonton cerita remaja – remaji sejoli yang mengumbar kisah cinta, sandiwara umum, atau filem horor yang menakutkan. Bahkan kisah – kisah yang tidak ada nilai pendidikannya sama sekali.
Coba anda bandingkan kondisi dan kemampuan orang pertama, dan orang yang kedua, sama – sama dengan alat dan fasilitas yang sama. Lihatlah kondisi dan kemajuan dari kedua orang tadi setelah lima, atau sepuluh tahun kemudian. Siapakan yang akan memiliki perubahan yang lebih baik..? manakah potensinya yang semakin terlatih.Dalam kemampuan mencari solusi..? Pengetahuan yang luas..? Kemampuan memberikan kepuasan terhadap orang lain..? Kemampuan menghadapi berbagai masalah .?
Tidak diragukan lagi dia adalah orang yang pertama bukan.? Bahkan anda dapat menyaksikan perbedaan yang sangat mencolok di antara keduanya. Referensi yang disebutkan orang pertama rata – rata ilmiah, dan realita. Sedangkan orang kedua anda dapat melihat kebanyakan referensi mereka terbatas pada perkataan para selbritis, atau syair – syair lagi\u yang mereka hafal. Malahan sempat beberapa waktu kebelakang, saya berjumpa seseorang yang berkata : “ Allah swt bersabda : “ wahai hamba – hambaku, melangkahlah karena akupun senantiasa menyertai setiap langkahmu”. Kemudian saya tegur ia bahwa ini bukan dari ayat – ayat alquran. Sekonyong – konyong mukanya berubah secara drastis. Tampak memerah seketika, diam seribu bahasa. Baru setelahnya aku mengetahui bahwa ungkapannya itu merupakan perkataan dari seorang aktor Mesir dalam filem sinetron. Benar, sebuah bejana/ teko akan menyiramkan apa yang ada di dalamnya. Pribahasa ini tampaknya tepat sekali untuk orang ini.