Dengan Orang – Orang Fakir...

           Manusia zaman sekarang, banyak terpengaruh dengan budaya dan pemikiran untung – rugi. Sehingga dalam kehidupannya manusia terbagi menjadi dua ;
  • Orang kaya ; yaitu mereka yang leluconnya mendadak akan tetapi banyak orang yang tertawa terpingkal – pingkal setelah mendengarnya. Sedikit dianggap salah dan jika terjadipun tidak pernah diambil pusing.
  • Orang miskin ; yaitu mereka yang tidak bisa membuat orang lain tertawa, bahkan tersenyum sekalipun. Kesalahannya sangat banyak, tidak terhitung. Jika berbuat salah, orang – orang akan segera berteriak saling bersahutan untuk mengadilinya.
         Padahal Rasulullah saw, tidak pernah membeda – bedakan sikapnya baik kepada orang – orang fakir, maupun orang kaya.
          Anas berkata : Suatu kali datang seorang pria bernama Zahir bin Haram dari pelosok arab menghadap Nabi saw di Madinah. Ia datang dengan membawa beberapa makanan dari kampungnya berupa keju dan mentega untuk dihadiahkan kepada Nabi saw. Maka tatakala ia akan pulang ke kampungnya Nabi saw memberikan oleh – oleh berupa kurma dan semisalnya.  Tampak kecintaan beliau kepada Zahir bin Haram, beliau berkata : “ sesungguhnya Zahir adalah saudara kita dari kampung, dan kita saudara dia di kota.” Padahal Zahir berpenampilan buruk.


          Keluarlah Zahir membawa barang dagangan dari kampungnya menuju Madinah. Sesampainya di rumah Nabi, ia tidak menemukan beliau sehingga ia langsung menuju pasar untuk melakukan perdagangan. Ketika Nabi saw mengetahui Zahir tengah datang ke rumahnya dan tidak menemukannya, beliau pergi menyusul Zahir ke pasar. Di pasar beliau melihat Zahir sedang berteriak – teriak menawarkan barang dagangannya. Tampak keringat mengalir membasahi pelipis Zahir yang mengenakan pakaian tradisional dari kampungnya.
Diam – diam Nabi saw mendekapnya dari belakang sehingga Zahir tidak melihat kedatangannya. Tidak tahu siapa yang mendekapnya, maka terkejutlah ia sambil meronta ia berkata ;
“ lepaskan saya, siapa ini...? “
             Nabi saw diam saja tidak menjawab pertanyaannya dan tidak melepaskannya. Zahir berusaha melepaskan dari cengkraman Nabi saw dan berusaha melihat ke belakangnya. Setelah ia tahu bahwa yang mendekapnya Nabi, ia merasa tenang dengan kedatangnnya.
Kemudian ia sengaja menempelkan punggungnya agar senantiasa dalam dekapan Nabi saw. Dengan suara lantang sembari berugurai Nabi saw berkata :
“ saudara – saudara..! silahkan siapa yang mau membeli budak...? siapa yang membeli budak..? “ sambil menawarkan Zahir yang sedang berada dalam dekapannya.
             Zahir yang mengetahui dirinya seorang fakir, miskin, buruk rupa dan tidak ada yang menarik darinya, berkata :
“ Sungguh wahai Rasulullah, engkau tidak akan menemukan orang yang akan membeliku. Karena budak sepertiku tidak akan pernah laku.”
“ di hadapan Allah sesungguhnya engkau termasuk orang kaya wahai Zahir..!”
           Maka tidak heran sama sekali bagaimana Rasul saw memiliki hati orang – orang fakir. Karena memang beliau memperlakukan seorang Zahir saja dengan penuh kasih, tidak membedakannya dengan orang yang lebih kaya darinya.
          Banyak dari orang – orang fakir yang terkadang mendapatkan perlakuan tidak layak dari orang – orang kaya. Dengan kebakhilannya memberikan sebagian harta atau makanan untuknya. Akan tetapi, walau begitu mereka – fakir miskin – masih saja bersikap lemah lembut kepada si kaya.
          Betapa banyak orang – orang miskin yang senantiasa tersenyum indah kepada anda. Bahkan anda merasakan sendiri kehangatan sikap dan penghormatannya.
Mereka yang selalu mengangkat kedua tangannya di pertiga malam.
Mereka yang senantiasa memohonkan kebaikan untuk anda..
          Betapa banyak pula orang – orang kaya yang lari dari si fakir, bahkan menutup pintunya rapat – rapat jika melihat ia melintas di halaman rumah. Sungguh jika saja ia memohon untuk memusnahkan kekayaan anda, niscaya Allah akan mengabulkannya. Maka tersenyumlah selalu dengan mereka...

2 komentar:

abahtahya mengatakan...

"Tersenyumlah sebelum senyuman itu jadi bencana". Kitu cek sakaol. Dan du'a si Fakir pun bisa melanda siapa saja. Ya Allah, ampunilah hamba yang durjana ini. Jazakallah khayran katsiran, atas pencerahannya. Barakallahu fiik.

Unknown mengatakan...

Abah Tahya linggih dimana ayeuna.? Lawas teu aya kabar. Salam Baktos Abi di Bandung

Posting Komentar