Siapakah Orang Yang Paling Anda Cintai..?

           Seseorang yang memiliki potensi tinggi dalam halnya bersosialisasi, adalah ketika ia seringkali melakukan kegiatan sosial dan melaluinya dengan sikap profesional. Sehingga orang yang dihadapinya merasa nyaman setiapkali berada di dekatnya. Merasa puas acapkali berbicara dengannya. Dengan kelembutan, keramahan dan perhatian yang anda berikan ini, orang akan semakin merasa tertarik dengan gaya anda. Buatlah seakan – akan mereka adalah orang yang paling anda cintai, sehingga dengan sendirinya merekapun akan bersikap sama terhadap anda. Terlebih jika anda dapat membuat sensasi yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya kecuali dari anda seorang. Maka tak ayal lagi hati mereka akan bertekuk lutut di hadapan anda.

          Alangkah indahnya dan akan bertambah sempurna jika potensi itu anda lakukan pula terhadap keluarga anda. Sepertimana halnya bergaul dengan orang lain, dari gaya bicara, sikap dan cara memberikan perhatian, coba anda lakukan hal ini kepada ayah anda, atau istri anda, anak – anak anda, sanak saudara, kawan kerja, bahkan setiap orang yang hanya sekali betemu sumur hidup. Seperti pedagang asongan saat anda membeli barang – barangnya, atau pegawai terminal, dan lain sebagainya.
           Tidak diragukan lagi, bahwa orang – orang seperti mereka di atas, dapat ditaklukan dengan sikap dan kemampuan sosialisasi yang terlatih. Sehingga anda memiliki posisi yang sangat dicintai di setiap hati mereka. Anda menjadi orang yang paling mereka senangi di antara orang lain. Tentunya hal ini akan tercapai setelah anda mengetuk dan membangunkan perasaan mereka sehingga mereka tersadarkan bahwa anda adalah orang yang patut dicintai.
          Sebagaimana Rasul saw yang merupakan qudwah bagi seluruh manusia. Jika ditelusuri dari sejarah kehidupan beliau, maka anda akan menemukan bagaimana rasul saw memperlakukan tamunya, bagaimana rasul saw bertutur kata di depan lawan bicaranya. Sikap ramah tamah, rendah hati, dan daya potensi bergaul dengan orang lain sangat menakjubkan bagi setiap orang yang membacanya. Sehingga setiap orang yang berhadapan dengannya merasakan kesejukan dalam hati, dan merasakan bahwa dialah orang yang paling cintai.   Dengan begitu merekapun akan mencintai Rasul saw karena dengannyalah mereka mampu menyadari rasa cinta yang dimiliki, sehingga dapat mencintainya melebihi dari diri sendiri.
Adalah Amru bin ‘ Ash, salah seorang singa arab yang pernah ada di bumi arab kala itu. Dia adalah sosok yang sangat cerdik, pintar dan bijaksana. Dialah satu diantara empat singa islam yang aumannya dapat merontokkan sendi – sendi musuh. Sebagai ketua dari kaumnya ia tidak ragu untuk memeluk agama baru Muhammad dan meninggalkan agama nenek moyangnya.
          Ada satu kesan mendalam yang dialami Amru bin ‘ Ash selama berkumpul dan bergaul dengan kehidupan barunya di antara nabi Muhammad saw. Tidak pernah terlewat setiapkalai ia bertemu dengan beliau, tampak wajah rasul yang berseri, tersenyum penuh cinta kepadanya.  Hingga ia menyangka bahwa ia mendapatkan posisi khusus di hati rasul. Keramah - tamahan dan kelembutan perangainya membuat semua orang merasa seakan – akan memiliki ikatan batin yang sangat dekat. Jika Amru bin ‘Ash memasuki ruangan atau majlis Rasulullah saw, tampak muka Rasul berseri menatapnya seakan gembira melihat kedatangannya. Jika rasul memanggilnya, maka tidak pernah beliau memanggil kecuali dengan nama yang paling disukai olehnya.
           Melihat semua keajaiban perangai ini, maka Amru bin ‘Ash merasa sangat mendapatkan perhatian penuh dari baginda rasul saw. Hingga suatu hari ia ingin memastikan tentang apa yang ia rasakan selama ini. Dengan semangat ia mendatangi Nabi saw dan duduk di samping beliau sambil berkata ;
Amru : “ wahai Rasulullah saw, siapakah orang yang paling anda cintai ..? “
Rasul : “ Aisyah ... “
Amru : “ Tidak, maksud saya dari laki – laki selain keluargamu wahai rasul. “
Rasul : “ Ayahnya ( Abu bakar shidik ) “
Amru : “ selain dia....? “
Rasul : “ Kemudian Umar bin Khatab ..”
Amru : “ Selain dia..? “

         Kemudian Nabi saw, menyebutkan beberapa nama sahabat yang terdahulu masuk islam dan sahabat yang sangat besar pengorbanannya untuk islam.
Amru bin ‘Ash hanya bisa terdiam membisu khawatir namanya disebutkan di akhir – akhir.
Bisa kita lihat dari kisah diatas, bahwa Rasul saw dengan kelembutan dan keramahannya mampu menarik hati seorang Amru bin ‘Ash yang merasa seakan orang yang paling dicintainya. Padahal ketika ditanya namanya tidak disebutkan pertama kali diantara orang – orang yang rasul cintai. Di sinilah keberhasilan rasulullah saw. Bagaimana mengambil hati Amru dengan potensi akhlaqiyah yang dilakukannya kepada para sahabat. Bahkan rasul saw, seringkali menyambangi rumah para sahabat dan meinggalkan kesibukan pribadinya. Untuk menyampaikan kepada mereka betapa ia sangat mencintai mereka.
          Tatakala islam telah mengalami kejayaannya, ruang ekspansi terbuka lebar ke seluruh semenanjung Arabia. Dengan pesatnya Rasul saw menyebarkan ajaran islam ke berbagai pelosok. Tidak terlepas kepada satu suku di arab yang bernama “ Tha’i “. Suku ini dikuasai dan dipimpin oleh seorang raja bernama Adiy bin Hatim at Tha’i. Maka disusunlah ketika itu sebuah rencana untuk menaklukan suku ini. Rasul saw mengirim beberapa pasukan dan da’i untuk menyampaikan ajaran islam setibanya di sana.


          Alangkah terkejutnya pasukan islam tatkala tiba di daerah kaum Tha’i. Tidak ada perlawanan dari kaum yang dipimpin oleh ‘Adiy bin Hatim itu. Tidak ada tentara berjajar menghadang kawanan tentara muslimin. Sehingga dengan mudahnya umat islam dapat menguasai daerah itu tanpa banyak menghabiskan energi. Dari awal tiba di daerah ini, pasukan muslimin memeprlakukan masyarakat dengan sikap ramah – tamah selama di sana.  Dengan maksud agar meredam tindakan anarkis jika pasukan berbuat semena – mena. Selanjutnya pasukan menawan beberapa orang dari kalangan bani Tha’i dan dibawa ke hadapan Nabi saw di Madinah. Salah satu dari tawanan yang dibawa itu merupakan saudara perempuan dari ‘Adiy bin Hatim. Sementara dia sendiri, sebagai seorang raja dari kaumnya malah melarikan diri ke negri Syam. Maka rasulullah saw merasa terkejut sekali mendengar kabar larinya ‘Adiy bin Hatim sewaktu tentara muslimin menggempur daerah kekuasaannya. Bagaimana bisa dia meninggalkan penduduknya diserang orang lain..?
           Beberapa lama ‘Adiy bin Hatim berhasil melarikan diri dan berada di negri Syam. Tapi rupanya semakin lama semakin bertambah rasa kalut yang berkecamuk dalam batinnya.  Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke negri asalnya. Dengan setengah hati ia memberanikan diri untuk menemui Rasulullah saw di Madinah yang telah menawan sebagian kaumnya. Demi kemaslahatan kaumnya dan untuk membuat kesepakatan antara kedua belah pihak.
‘Adiy menceritakan kisahnya tatkala memasuki kota Madinah ;
“ Tidak seorangpun dari orang Arab yang paling besar kebenciannya kepada Muhammad selain diriku. Aku seorang penganut nashrani tulen, disamping aku sendiri merupakan seorang raja dari kaumku. Apalah Muhammad itu dibanding denganku.
Setiap kali aku mendengar kabar tentangnya, terasa panas kedua telingaku. Darahkupun mendadak terasa mendidih mengaliri sekujur tubuhku. Tidak ada daya dan upaya kala itu selain melarikan diri dan meminta perlindungan dari kerajaan Roma. Akan tetapi aku kurang betah berlama – lama tinggal di sana. Sehingga aku berpikir untuk kembali ke negri asalku.
           Sungguh, seandainya orang ini ( Muhammad ) seorang pembual, tentu tidak akan dapat menyelakaiku barang secuilpun. Jika ia benar – benar seorang nabi, maka tentunya aku akan mengetahuinya dengan pasti. Aku putuskan untuk menemuinya . . .
Maka tatkalau aku memasuki kota Madinah orang – orang langsung bersahutan memanggil namaku.
“ lihatlah, itu ‘Adiy bin Hatim .... ! lihat, itu ‘Adiy bin Hatim....! “
Aku tidak mempedulikan teriakan mereka, aku terus berjalan melewati mereka hingga tiba di mesjid dan menemui Muhammad. Dia berkata :
“ Apakah kamu ‘ Adiy bin Hatim....? “
“ benar, ini saya “
         Maka sekonyong – konyong nampak rasa gembira dari raut muka nabi atas kedatangannya. Padahal ia adalah seorang yang sangat membenci nabi saw. Bahkan dia merupakan seorang nashrani tulen yang tidak mudah untuk digoyahkan dalam hal keyakinan. Dialah yang menentang kaum muslimin dan memeranginya. Dia pula yang lari dari peperangan saking bencinya akan islam. Akan tetapi walau begitu latar belakangnya nabi Muhammad saw justri sangat berbangga dan bahagia sekali dengan kehadirannya. Beliau menemuinya dengan muka yang ramah dan senyuman yang hangat, bahkan menggandeng tangannya sambil berjalan menuju kediaman beliau. ‘Adiy bin Hatim melihat sendiri dengan kedua matanya sosok nabi Muhammad saw, berjalan menggandeng tangannya, sama tidak ada beda.
          Muhammad saw seorang pemimpin Madinah dan sekitarnya, dan ‘ Adiy bin Hatim seorang pemimpin daerah pegunungan Tha’i dan sekitarnya....
Muhammad saw pemeluk agama samawi, islam. ‘ Adiy yang juga seorang pemeluk agama samawi, nashrani...
          Muhammad saw, memiliki kitab yang diturunkan dari langit, alqur’an. Begitu juga ‘Adiy yang memiliki kitab samawi, injil. Dalam benaknya, tidak ada perbedaan mencolok dengan sosok Muhammad kecuali dalam kekuasaan dan pasukan.
Di pertengah jalan terjadi tiga hal penting dalam catatannya ;
          Ketika mereka berdua sampai pada suatu tempat, tiba – tiba datanglah seorang wanita kepada nabi saw setengah memanggil ;
“ wahai Rasulullah..! saya memiliki sedikit keperluan dengan anda. “
Maka Nabi saw melepaskan tangannya dari ‘Adiy bin Hatim kemudian menghampiri wanita itu dan mendengarkan permintaannya.

          ‘Adiy bin Hatim, seorang raja yang mengetahui banyak penguasa dan mentri tertegun melihat apa yang sedang disaksikannya. Kemudian ia membandingkan sikap beliau dengan beberapa perlakuan raja dan penguasa yang ia ketahui. Lalu berkata ; “ wallahi, tidak ada seorang raja di muka bumi ini yang berakhlak seperti dia. Sungguh ini adalah akhlak para nabi.”

         Selesai si wanitu itu dengan keperluannya, Nabi saw kembali berjalan
dengan ‘ Adiy menuju rumahnya. Tidak beberapa jauh setelah peristiwa itu, datang kembali seorang laki – laki menghampiri Nabi saw.

          Tahukah anda apa yang dikatakan orang ini kepada Nabi saw. Apakah ia berkata : “ wahai Rasulullah, saya memiliki banyak harta dan sedang mencari fakir miskin untuk menyumbangkan sebagiannya “. Ataukah orang itu berkata : “ duhai Rasulullah, kali ini panenku lancar dan banyak yang tersisa, apa yang harus saya lakukan....? “

          Andai kata – kata diatas yang didengar oleh ‘Adiy kala itu, sehingga membuatnya terkesan bahwa kaum muslimin hidup dalam kecukupan. Tapi tidak, bukan kalimat itu yang dia dengar. Orang itu berkata ;
“ wahai Rasulullah, aku mengadu kepadamu dari kelaparan dan kemiskinan yang ku alami..”

         Sepanjang hari orang ini kelaparan dan tidak mendapatkan makanan untuk istri dan anak – anaknya, sementara para tetangga di sekitar tidak ada yang mau peduli. Padahal kondisi mereka semua berkecukupan.
Dengan jelas ‘Adiy bin Hatim mendengar semua keluhan dari orang itu. Kemudian Rasul saw berkata kepada orang tersebut mengenai permasalahannya lalu kembali meneruskan perjalanan.

           Tidak begitu lama dari kejadian kedua, tiba – tiba datang lagi seseorang
setengah memanggil Nabi saw : “ wahai Rasulullah, tolonglah kami dari para perampok. Yakni, saking banyaknya orang yang memsuhi kita di luar Madinah kami selalu tidak merasa tenang setiap kali hendak keluar karena seringnya terjadi perampokkan yang dilakukan orang – orang kafir terhadap muslimin. “

           Tidak beberapa lama Nabi saw berkata – kata kepada orang itu, kemudian kembali melanjutkan perjalanan dengan ‘Adiy bin Hatim.
Dalam perjalanan ‘Adiy bertanya – tanya dalam hatinya : “ Saya seorang raja dan memiliki kemulyaan di tengah masyarakatku dan tidak memiliki musuh yang selalu membuat mereka tidak nyaman. Lalu mengapa agama ini masuk kepada rakyat jelata, yang notabena fakir miskin dan dianggap kalangan yang lemah.”

          Sampailah keduanya di rumah Nabi saw, dan tidak ada sesuatu yang dilihatnya kecuali sebuah bantal yang digunakan untuk duduk. Disodorkan oleh Nabi saw kepadanya dan mempersilahkannya untuk duduk sambil berkata ; “ silahkan duduk “. Akan tetapi ‘Adiy enggan memakainya dan kembali menyodorkannya kepada Nabi saw ; “ Tidak, silahkan anda saja yang menggunakannya ”. Nabi saw dengan halus menolak bantal itu dan kembali mempersilahkan ‘Adiy untuk duduk di atasnya hingga akhirnya ia menerima.

           Kemudian mulailah Nabi saw menyeru ‘Adiy bin Hatim untuk memeluk islam.
“ Wahai ‘Adiy masuklah ke dalam agama islam, niscaya engakau akan selamat.. . “
          Rasulullah saw terus mengajak dengan ungkapan di atas hingga tiga kali. ‘Adiy berkata : “ sasa tetap pada agama saya.”
“ aku lebih mengetahui agamamu dari dirimu wahai ‘Adiy..” ungkap Nabi.
“ bagaimana bisa begitu..? engkau lebih mengetahui agamaku dibanding diriku sendiri..? “
“ Ya, bukankah engkau seorang rukusiyah ..? “

         Rukusiyah sendiri adalah semacam aliran dalam ajaran nashrani yang sudah tercampur dengan ajaran majusi. Maka dengan kelebihan yang Allah berikan kepada Nabi saw beliau tidak langsung menyebut ‘Adiy sebagai seorang nashrani. Dengan menanyakan misalnya “ bukankan engkau seorang nashrani..? “, akan tetapi Nabi malah bertanya yang lebih spesifik lagi. Yaitu dengan menanyakan aliran yang dia anut dalam ajaran nashrani.

          Sebagaimana jika anda ditanya oleh orang – orang Eropa “ kenapa anda tidak memeluk agama nashrani..? “. Dia tidak mengatakan kepada anda “ bukankah anda seorang muslim..? “ atau “ bukankah anda seorang suni..?”. akan tetapi dia akan bertanya “ bukankah anda Syafi’iyah...? atau Hambali..?”. Maka dengan gaya dan cara dia bertanya anda dapat memastikan bahwa ia memiliki pengetahuan luas tentang islam. Begitupun yang diajarakan oleh maha guru kita Rasulullah saw ketika bertanya kepada ‘Adiy tentang agamanya.

“ bukankah engkau seorang rukusiyah..? “
“ Ya, benar “ jawab ‘Adiy bin Hatim
“ sesungguhnya kalian ( rukusiyah ) jika berperang maka akan membagi harta rampasan menjadi empat, bukankah begitu..? “
“ benar..” jawab ‘Adiy
“ hal seperti ini sesungguhnya dilarang dalam ajaran agamamu.”
“ benar..” jawab ‘Adiy setengah gelisah
“ akupun tahu mengapa engkau tidak mau memeluk agama islam. Hatimu selalu bertanya bagaimana engkau masuk agama yang mayoritas pemeluknya orang – orang lemah, tidak memiliki kekuatan dan senjata, bahkan diisolasi oleh masyarakat arab. Wahai ‘Adiy, tahukah engkau tentang Hirah...? “
“ belum pernah melihat, tapi pernah kudengar tentangnya..”
“ sungguh aku bersumpah demi dzat yang menguasai jiwaku, suatu hari nanti seorang perempuan akan pergi dari Hirah melakukan thawaf di baitullah tanpa didampingi oleh seorang penjagapun.”

           Maksud Nabi di atas adalah gambaran seorang muslimah yang ingin melakukan ibadah haji tanpa harus dikawal oleh tentara dan penjaga kecuali hanya ditemani oleh muhrimnya saja. Kemudian dalam perjalanannya musimah ini akan melewati perkampungan beberapa kabilah dan tidak akan ada satu oranpun yang akan menghalangi perjalanannya. Tidak ada seorangpun yang berani merampas dan mencuri harta perbekalannya. Karena kaum muslimin kala itu sudah menjadi komunitas yang memiliki kekuatan dan ditakuti lawan. Hingga orang – orang tidak berani berurusan dengan seorang muslimpun karena takut kaum muslimin menggempurnya.

          Maka tatkala ‘Adiy bin Hatim mendengar penuturan Nabi tersebut, terlintas dalam bayangannya seorang perempuan berjalan berhari – hari dari Irak ke Mekkah. Pastinya akan melewati arah selatan dan semestinya melewati perkampungan yang dihuni oleh kaumnya, yakni bani tha’i. Seketika ‘Adiy terkejut dengan bayangan yang ada dibenaknya.
Kemudian Nabi saw kembali berkata ;
“ dan suatu hari nanti Allah akan menaklukkan kerajaan Hurmuz..”
“ apa.? Kerajaan Hurmuz..?” seakan ia tidak percaya
“ ya, dan dia akan menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah.”
Nabi saw meneruskan ;
“ dan jika engkau ditakdirkan memiliki umur panjang wahai ‘Adiy, akan engkau lihat seseorang yang keluar dari rumahnya dengan membawa segenggam emas atau perak di tangannya akan tetapi tidak juga ia mendapatkan orang yang mau menerimanya.”

          Maksudnya suatu saat akan ada orang kaya yang keluar rumah mencari orang – orang miskin untuk menerima sedekah darinya. Akan tetapi ia tidak bisa menjumpai seorangpun dari mereka untuk memberikan harta sedekahnya.
Kemudian Nabi saw menasihatinya dan menyebutkan tentag hal ikhwal akhirat.

“ Dan akan tiba masanya saat setiap dari kalian akan bertemu dengan Allah swt di mana tidak ada yang dapat menjadi penolong atas diri masing – masing. Maka saat ia melihat ke arah kanannya, yang ia lihat hanya neraka. Kemudian ia tengok ke arah kiri, juga tidak nampak kecuali jahannam..”
‘Adiy bin Hatim terdiam seketika...

“ Wahai ‘Adiy, apa yang menghalangimu untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah.? Apakah engkau melihat ada tuhan yang lebih agung dari – Nya “
“ Sungguh aku kini seorang muslim yang hanif, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku besaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. “ ucap ‘Adiy dengan mantap.

          Maka seketika pula muka nabi berseri penuh suka cita.
‘Adiy berkata : “ wanitu itu, sungguh telah keluar dari Hirah dan benar – benar melakukan thawaf di Mekkah. Kemudian takluknya kerajaan Hurmuz, sungguh aku adalah bagian dari mereka yang berhasil menaklukkannya. Demi dzat yang meguasai jiwaku, sesungguhnya aku menunggu yang ketiga, karena Rasulullah telah memberitahukannya.”

          Perhatikanlah bagaimana sikap Nabi saw yang menyeru seorang ‘Adiy sang pemimpin dari kaumnya dengan penuh kelembutan, dengan penuh kasih sayang. Hingga tidak dapat dipungkiri oleh ‘Adiy atas kebenarannya sebagai pembawa risalah islam dan dengan tegas menyatakan diri masuk islam. Sungguh jika kita latih rasa cinta kasih dan kelembutan ini dalam bermuamalah kepada orang lain, niscaya akan kita dapatkan hati mereka.

0 komentar:

Posting Komentar