Sebagian orang beranggapan bahwa tempat tinggal atau lingkungan sekitar, sikap dan pandangan masyarakat kepada dirinya merupakan hal mutlak. Tidak dapat dirubah lagi. Di atas itulah watak dan kepribadiannya dibangun, tidak mungkin bisa merubah sifat dasar yang bertahun – tahun tumbuh dari sana. Mereka hanya dapat pasrah menerima semua ketentuan itu, tanpa ada usaha untuk merubahnya ke arah yang lebih baik. Seperti pasrahnya memiliki postur tubuh yang pendek, warna kulit gelap, yang tidak mungkin dapat dirubah lagi.Padahal bagi seorang yang cerdas, merubah kebiasaan atau sifat buruk itu bisa dianggap lebih mudah daripada sekedar merubah pakaian. Maka watak dan kepribadian kita, sungguh tidak seperti air susu yang telah terjatuh hingga tidak dapat diambil kembali ke dalam gelas untuk kemudian diminum. Akan tetapi, ia berada dalam genggaman tangan kita. Bahkan kita dapat merubah sifat orang lain dengan metode – metode tertentu, atau mungkin saja merubah akal mereka.
Sebagaimana disebutkan oleh ulama fenomenal dari Andalus, Ibnu Hazm Ad Dhzohiri dalam kitabnya Thauqul Hamamah :
“ Tersebutlah di sebuah kota bernama Andalus, lima orang tajir ( pengusaha ) terkenal, salah satunya Ibnu Hazm sendiri. Kelima orang ini senantiasa berlomba – lomba dalam berbisnis, hingga tertanamlah dalam benak empat orang tajir yang lain untuk mencelakakan Ibnu Hazm. Mereka sangat membencinya dikarenakan satu dan dua hal yang tidak dapat mereka tandingi. Hingga suatu ketika, Ibnu Hazm keluar dari rumahnya dengan berpakaian serba putih dilengkapi dengan lilitan kain surban di atas kepala yang juga berwarna putih. Bertemulah ia dengan orang tajir pertama, setelah memberikan salam ia berkata :
“ aduhai, alangkah indahnya surbanmu yang berwarna kuning ini “ ucapnya sambil melihat surban yang dikenakan tajir itu.
“ apanya yang kuning..? kamu sudah buta ya. Surbanku berwarna putih, bukan kuning.! “ balas si tajir dengan setengah jengkel.
“ surbanmu kuning, bukan putih kawan. Tapi walau begitu tetap indah sekali kelihatannya. “
Kemudian ia berlalu meninggalkan tajir pertama menyusuri jalan seterusnya. Tidak beberapa lama ia bertemu dengan tajir kedua tidak jauh setelah kejadian tadi. Setelah mengucapkan salam hormatnya ia melirik surban si tajir ke dua ini dengan penuh pesan tersirat. Iapun berkata :
“ Aduhai, kamu tampak bersinar sekali hari ini, baju kamu sangat mempesona, ditambah keindahan surban hijau yang sedang kamu pakai ini. “
Si tajir kedua ini bersorak :
“ Hei, surbanku berwarna putih.! Bukan hijau.! “
“ Ah, tapi ia tampak hijau “ kata Ibnu Hazm.
“ pergi kau..! pergi.! “ teriak si tajir kedua.
Ibnu Hazm kemudian berlalu meninggalkan si tajir malang yang terus mengomel sendiri. Dari kejauhan terlihat si tajir terus memandangi surbannya sambil diputar – putar, dari atas hingga ke bawah apakah benar surbannya berwarna hijau. Siapakah yang salah lihat, dia atau Ibnu Hazm. Lama ia memastikan bahwa surbannya berwarna putih, bukan hijau.
Sampailah Ibnu Hazm di toko miliknya. Perlahan dia mengambil kunci dari sakunya untuk membuka pintu toko. Tiba – tiba datanglah tajir ketiga di hadapannya. Kemudian ia berkata :
“ Hai fulan, cerah sekali pagi hari ini. Secerah baju yang kau pakai itu. Apalagi ditambah surban cantik berwarna biru menghiasi kepalamu. Aduhai...aku sangat terpesona.”
Si tajir ketiga ini tampak heran, kemudian ia melihat ke arah surbannya sambil mengusap – usap kedua mata.
“ Saudaraku, surbanku berwarna putih. Bukan biru. “
“ Bukan. Surbanmu biru! Bukan putih. Tapi jangan khawatir, secara umum ia terlihat sangat indah. Tidak apa – apa. “
Si tajir sejurus kemudian berlalu tanpa pamit, surbannya dibuka sambil diputar – putar. Tidak beberapa jauh iapun berteriak ke arah Ibnu Hazm :
“ Woi..! Surbanku putih, bukan biru..! “
Duduklah Ibnu Hazm di depan tokonya setelah ditinggal oleh si tajir yang ketiga ini. Sambil melihat ujung surbannya, tiba – tiba pandangannya dikagetkan dengan kedatangan seseorang. Ya kali ini yang datang kepadanya si tajir ke empat. Sontak Ibnu Hazm bangkit dari duduknya dan langsung menyapa si tajir ;
“ Ahlan... Ahlan...wahai Fulan. Maasya Allah, dari mana kamu dapatkan surban merah ini “ sambil melihat surban milik si tajir.
“ Surban saya hijau tahu, bukan merah “
“ Ah, tidak . Anda salah lihat surban anda berwarna merah “ kata Ibnu Hazm.
“ Tidak . . Tidak . . Surbanku berwarna putih. Owh...bukan, ia berwarna hijau. Ups..bukan, warnanya hitam......Ups.....Oh...Oh.......” Tiba – tiba si tajir tertawa tanpa alasan, kemudian berteriak, kemudian menangis, malahan ia melompat – lompat tidak karuan.
Ibnu Hazm berkata : “ Sungguh, setelah kejadian itu aku tidak melihatnya lagi kecuali di pinggiran jalan Andalus dalam keadaan sudah gila. Dijadikan objek mainan oleh anak – anak kecil sambil melemparinya tongkat. “
Jika mereka saja dengan potensi dan kemampuan alami bisa merubah perangai seseorang, bahkan merubah akalnya. Apalagi anda, dengan potensi yang melalui pengajaran, dan dilatih sedemikian rupa. Disinari oleh nash – nash wahyu Ilahi. Dilatih dan dikembangkan semata – mata mengharap ridho Ilahi.
Maka mulailah..! Gunakan potensi yang anda miliki demi kesejahteraan..
Jika anda berkata pada saya : “ Saya tidak bisa. “
Saya akan menjawab : “ Cobalah..! “
Jika anda berkata : “ Saya tidak tahu caranya ..“
Saya jawab : “ Belajar...! “
Karena Nabi saw pernah bersabda : “ sesungguhnya untuk mendapatkan ilmu itu harus dengna proses belajar. Dan sesungguhnya segala impian itu bermula dari bermimpi...”

0 komentar:
Posting Komentar