Pesona Gadis Mesir ( 1 )

  Bismillahirrahimanirrahiem....
         Mukanya bersih berseri, hidung yang bangir mancung menambah pesona tersendiri bagi pemuda yang sedang berdiri di hadapanku. Bodi atletis dibalut jubah stelan khas ala Afghanistan. Walau berjenggot lebat, tapi tampak rapi dan manambah wibawa. Siapapun yang melihatnya akan merasakan ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari sinar wajahnya. Senyum hangat senantiasa tersampul dari kedua bibirnya.
“ namaku Hutsam “ sambil mengulurkan tangan padaku.
“ Ismi Faruk, Ahlan wa marhaban fi Mashr..” jawabku.
         Hutsam adalah kawan baruku dari Afghanistan. Dia baru seminggu tiba di Mesir berdua dengan kawannya Wahid. Dia senang sekali ketika kusalami dan kubantu merapikan kamar barunya.

“ Orang Indonesia baik  - baik dan ramah. Kami sangat senang sekali. kamu adalah orang pertama yang menyalami kami. “

“ Subhanallah, berarti dari pagi tidak ada yang peduli kepada mereka  berdua. ” batinku berkata. Sedari pagi Hutsam dan Wahid membenahi kamar baru mereka, di sampingnya terdapat kamar orang Nigeria dan Somalia. Dipinggirnya lagi kamar orang  Cote Divore, setelahnya kamar orang maroko di susul kamarku dan kamar orang India. Mungkin mereka sedang sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Tidak ada salahnya aku membantu kawan baruku. Lagian mereka pastinya sangat membutuhkan uluran dan sambutan dari penghuni asrama ini. Ditambah ba’da isya ini aku tidak punya kegiatan. Aku hanya tergerak oleh jiwa kepedulianku terhadap sesama. Bukannya merupakah salah satu kewajiban umat muslim untuk saling meringankan beban orang lain. “ man naffasa an mukminin kurbatan ..... “ man Farroja an mukminin...” dan sederet lain hadist yang mengusung nilai – nilai sosial. Tapi entahlah, selama di sini memang seakan yang mampu bertahan dan berdikarai atas kemampuan sendirilah yang mampu mengarungi kehidupan seterusnya. Maka celakalah orang – orang yang mudah tergantung kepada orang lain. Tidak mampu mengatur pribadi sendiri hingga keadaannya terombang – ambing dibawa arus masa.
      
          Sejak kejadian itu, mereka berdua sering mengunjungi kamarku. Sekedar untuk bersilaturrahmi dan mengajakku menghadiri haflah yang diadakan oleh kawan2 afghanistan yang lain. Tidak jarang aku diajak jalan – jalan memutari peradaban kota Mesir dari mulai piramid hingga ke Alexandria. Tapi selama ini tawaran mereka belum bisa aku terima melihat satu dan dua hal kegiatan yang kumiliki.

       Tampaknya Hutsam lebih supel dibanding Wahid. Dia lebih mudah bergaul dan lebih cepat berkawan dengan siapapun. Dari bahasapun, hutsam lebih lancar dari wahid. Tidak heran tatkala suatu hari aku bertemu di mesjid Al Azhar.  Ketika kutanya , dia ternyata sudah mulai menyetorkan hafalan kepada Syeikh Nabil di mesjid Husein. Karena waktu setornya sama denganku  kami sering berangkat bersama dari buuts menuju Darasa setiap pagi.
         Mungkin karena seringnya berjalan bersama, Hutsam semakin akrab denganku. Acapkali dia berman ke kamar sekedar untuk menanyakan pelajaran atau berbincang – bincang. Tak jarang dia datang sambil membawa banyak makanan dan buah – buahan. Hinga aku kenal watak dan kepribadian dia yang ramah dan sopan.

         Orang – orang Afghanistan memang terkenal sangat keras dan multazim sekali dalam menjalankan syariat. Mereka sangat bersemangat dalam urusan akhirat. Sepertimana yang kulihat dari semangat yang terpancar dari kawanku yang satu ini. Padahal umurnya masih di bawahku tapi semangatnya sangat jauh sekali.

         Sudah hampir setengah tahun aku tidak melihat Hutsam al afghani, baik di mesjid maupun di kuliah. Terakhir kubertemu dengannya ketika dia berkunjung ke kamar Wahid. Waktu itu dia menyampaikan sudah sampai juz delapan belas. Dan rencananya akan meneruskan ke qiro’ah Asyrah kepada  syeikh Nabil.

“ subhanallaah...” hatiku tak kuasa menahan haru ketika melihat anak baru yang sudah memiliki semangat seperti dia. Aku saja tidak berani mengambil Qiro’ah Asyroh langsung setelah kuselesaikan Qiro’ah Hafs an ‘Ashim kepada syeikh Asyraf. Aku lebih memilih untuk melanjutkan membaca dengan bacaan riwayat Imam Warsy. Disamping memantapkan hafalan juga supaya terbiasa ketika menyetorkan hafalan dengan berbagai riwayat. Jika hafalannya belum kuat, bisa repot sekali ketika membaca dengan regam sepuluh bacaan. Karena disamping hfalan alquran juga harus hafal matan syatibiyah, karya Imam As Syathibi. Dua tahun aku menyetorkan hafalan dengan bacaan imam Hafs an ‘Ashim kepada syeikh Asyraf di Darasa. Tahun ini aku melanjutkan kepada bacaan imam Warsy masih kepada beliau di serambi mesjid ja’farie.

          Mungkin karena sudah mendekati musim ujian akhir tahun, Hutsam sedang tarkiz membaca muqorror kuliah. Akupun sedang gencar – gencaranya membantai diktat kuliahku di tahun ketiga ini. Madah imtihan akhir sanah kali ini cukup lumayan, sekitar sebelas maddah. Aku harus konsentrasi penuh dalam memahami dan menguasai setiap madahnya. Mudah – mudahan tahun ini lulus, supaya tahun depan bisa pulang ke tanah air.

          Sekitar sebulan penuh kita dibantai oleh imtihan al azhar. Kepala terasa masih hangat bahkan masih mengeluarkan asap hafalan yang sempat kita godok kurang lebih selama tiga puluh hati. Biasanya anak – anak akan kabur dari bu’uts dan pergi mengunjungi kawan – kawan yang ada di daerah. Empat bulan jatah liburan kita setiap akhir tahun. Cukup lama sekali untuk ukuran liburan kuliah. Mau diisi apa saja selama emat bulan itu, kalau tidak pintar2 mengatur waktu akan rugi sekali. aku sendiri banyak mendapatkan tawaran untuk mengisi liburan musim panas kali ini. Ada yang mengajakku bekerja di villa orang mesir dengan gaji yang sangat menggiurkan. Ada juga yang mengajakku bekerja di kafe, pabrik dan bahkan terjemahan. Aku sudah tidak ada lagi minat untuk kerja, tahun ini tahun terakhirku. Aku ingin fokus dulu kepada hafalan dan alquranku. Ada kawan yang mengajakku ikut daurah alquran di syeikh ma’sharawi, di azhar, giza, bahkan ma’adi. Aku coba ke ma’adi ikut daurahnya syeikh Sayyid Harun. Kalu jadi, berarti sore hari aku pergi ke beliau dan paginya aku masih sambil melanjutkan qiro’ahku kepada syeikh Asyraf di Darasa. Lumayan, sambil memantapkan hafalan sekaligus mendapatkan pengalaman baru. Walaupun, kalau dilihati dari kalkulasi ekonomik, aku tidak  bisa menjamin bisa membayar biaya administrasi daurah syeikh Harun yang berjumlah 1500 pound Mesir. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran mahasiswa. Kalaupun harus menabung membutuhkan waktu satu tahun lebih dari minhah azhar yang hanya 90 pound/ bulan. Tapi Laa Haula saja, insyaallah Allah akan membukakan jalan. Yang terpenting kita melangkah saja dulu, urusan itu biar aku pasrahkan saja kepada yang maha kuasa. Dia maha tahu apa yang kulakukan adalah di jalan – Nya dan dalam rangka mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada – Nya.

ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (03:02 ) الطـلاق ﴿)
   
          Banyak tawaran, banyak peluang dan kesempatan yang ada di depanku dalam mengisi kekosongan beberapa bulan kedepan. Kalau saja tidak cermat dalam memilih bisa salah langkah dan bahkan menyesal di kemudian hari. Aku sudah putuskan untuk ikut daurah syeikh sayyid Harun di ma’adi. Aku , taufik dan Asrizal memberanikan diri melawan gelombang itu dengan menyisir daerah ma’adi untuk mendaftar sebagai peserta daurah tahun ini. Tidak peduli ongkos transportasi tiga pound setiap harinya, syeikh yang mutasyadid, tidak dikasih makan, terkadang pulang larut malam. Tekad kami sudah bulat, tidak ada ragu lagi, kami pasrahkan setiap langkah perjuangan kami kepada Allah.
         Malam ini, selepas shalat isya aku tidak berlama – lama di mesjid. Setelah qiro’ah satu juz aku langsung menuju kamarku di imarah arba’ah. Aku harus menyelesaikan tulisanku. Bulan ini harus sudah rampung dan selesai diedit. Biar bisa kuberikan kepada pihak penerbit yang memintaku menyerahkan naskah nya awal bulan depan.

       Cuaca panas nampaknya semakin menjadi – jadi. Walaupun sudah malam, namun hawa panas tidak pernah ada habisnya. Kubeli air mineral yang masih dingin untuk menemaniku malam ini. Beberapa makanan ringan tidak terlepas dari incaranku.

         Kulihat komputer tua yang setia menemani hari – hariku selama di negri pasir ini. Walaupun tidak bisa dipakai main PS, tapi sungguh keberkahannya sangat kurasakan sekali. Walau untuk mengkopi saja terasa sangat lambat, tapi sudah berapa buku yang kuhasilkan darinya. Walau tidak bisa banyak menyimpan file, tapi sudah berkali – kali aku diminta penerbit untuk melanjutkan proyekku.

         Kamarku memang tidak seluas kamar orang lain. Hanya berukuran  tiga kali dua setengah meter. Kubagi sepertiga untung tempat tidur, sementara seperempat lain untuk meja komputer dan seperempat lain untuk lemari pakaian. Meja komputerku adalah tempat jihadku. Di sinilah aku menuangkan ide memeras otak untuk bisa berbagi manfaat dan kebaikan bagi khalayak. Ia pula merupakan kantor sekaligus meja kerjaku.

“ assalamu’alikum “
“ tok ...tok...tok...”
Kupelankan sedikit iringan instrumen klasik yang setia menemaniku menelurkan butir – butir kontemplasi di depan komputer tuaku.
“ min...? “ tanyaku
“ tok ...tok...Ana Hutsam..! “
           Kubukakan pintu sambil memeluk kawanku Hutsan al Afghani yang sudah lama sekali menghilang dari penglihatanku.

“ kemana saja kamu, Hutsam.? Lama sekali tidak terlihat di bu’uts.? “
            Kupersilahkan dia untuk duduk sembari kubuatkan syai ahdhor untuknya. Tampak sinar muka yang kutangkap tidak secerah dahulu lagi. Serasa ada yang beda dari penampilannya kali ini. Jenggot yang dipotong bersih, kumis yang hampir hilang, dan tumbuh beberapa jerawat di wajahnya.

          Hutsam yang biasa kulihat berpakaian jubah Afghanistan dan memiliki jenggot lebat, kini benar – benar berubah beberapa derajat. Ia tidak lagi mengenakan jubah kebesarannya. Dia datang dengan memakai kemeja panjang berwarna merah dengan setengah lilitan dibagian tangannya. Dibungkus rapi oleh celana resmi berwarna gelap yang masih tampak hasil setrika. Sungguh telah berubah dari yang pernah kukenal bebebrapa bulan kebelakang.

          Sebenarnya aku masih mersa heran dengan perubahannya. Ia yang dahulu seorang yang memelihara jenggot, selalu berpakaian isbal serta berjubah, kini telah muncul dihadapanku dengan gaya dan penampilan baru. Tapi sudahlah, mungkin ada alasan khusus yang mendorong dia untuk berubah. Nanti akan kutanyakan di sela – sela obrolan malam ini.
*****


0 komentar:

Posting Komentar