Serakahkah diriku...

Bismillahirrahmanirrahiem.....

“  Huhhhh.......!”

          Dadaku terasa sempit setelah menerima uang dari cik Yusuf. Sudah tiga kali dia mengulur2  waktu pengambilan gajiku. Baru hari ini gajiku dibayar setelah dua bulan kebelakang aku mengundurkan diri sebagai salah – satu pekerja di kafe dia. Hatiku kembali menggerutu tidak menentu menerima gajiku yang mendadak turun dari 40 pound menjadi 25 pound saja. Sungguh tidak adil dan tidak bisa diterima. Aku bekerja sebagai 
koki di sana tapi kenapa gajiku sama dengan gaji karyawan lain yang bukan koki. Aku malas untuk mengemis kepadanya sekedar meminta lebih . Cukup aku tanya kenapa gajiku sedikit, tanpa banyak debat dan adu mulut.

          Apapun alasannya, itu keputusan dia. Aku sudah memintanya untuk sedikit ditaikkan namun hatinya memang tidak pernah bisa baik. Kupasrahkan  semuanya kepada Allah. Semoga dia diberikan balasan yang setimpal dari apa yang telah dia lakukan kepada orang2 yang telah didholiminya. Aku hanya bisa menunggu hari pembalasan itu tiba menimpanya.

         Suasana di dapur KSP terlihat seperti biasanya. Aku yang sedang tertegun menerima uang dari cik Yusuf masih agak bingung menyikapi keadaan. Di depanku berdiri seorang manusia yang diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memegang sebagian harta, namun dia tetap congkak. Ya, dia tetap sombong dan tidak pernah bisa melihat kebawah. Aku tidak mau terlihat sebagai seorang pengemis di hadapannya. Rizkiku di tangan Allah.

          Tidak lama aku langsung berlalu meninggalkan orang kaya ini sambil mencoba menghibur diri dengan sedikit bercanda kepada kawan2 yang sedang bekerja menyiapkan pesanan. Ku coba pergi ke depan restoran untuk sedikit menghirup udara segar dan berusaha agar tidak melihat wajah si congkak itu. Hatiku tetap terasa bergemuruh tak karuan, hingga aku sendiri agak bingung bagaimana agar kembali tenang. Kupikir tidak cocok berlama2 di restoran yang penuh dengan kedhzoliman ini.

Aku bergegas berjalan keluar restoran, namun ketika sampai di pintu Holid memanggilku.

“ ya Iwan...fein Inta? “

“ ana maugud ho..! “

“ laa ‘ah! Inta mafisy hoolis! “

          Sebentar kulalui dengan berbincang bersama kawanku Holid si pemuda Mesir. Umurnya baru dua puluh tahun, tapi dia rajin bekerja. Saking rajinnya dia lebih memilih tetap bekerja daripada melanjutkan kuliah.

“ zayyaka ya Ridho...” sapaku kepada penjaga gerbang lalu pergi meninggalkan restoran yang banyak memakan korbang ini.

          Di sakuku sekarang ada sekitar 750 pound Mesir sebagai gajiku selama 30 hari ketika masih bekerja tiga bulan lalu. Entah mengapa hatiku merasa sakit sekali menerima uang ini. Seakan tidak menerima dengan rizki yang telah Allah berikan kepadaku hari ini. Aku sudah berjuang untuk menghibur diri dan menerima semua ketentuan Allah yang telah ditetapkan untukku. Tapi lagi – lagi hatiku terasa sempit jika teringat si congkak dan perbuatannya. Aku mencoba untuk merenung sebentar. Semuanya pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat kuambil agar hatiku tidak gelisah terus menerus.

 “ tiiiid....!! “

         Suara klakson mobil yang hampir menyerempetku. Aku terkejut bukan main ketika tiba2 sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depanku. Semakin tidak karuan lagi ketika kulihat pengemudinya turun dari mobil sambil memarahiku.

“ bus ‘uddamak ya wala ‘! bitfakar eh..!! isha suwayya..!! “

“ ma’lesy royis..ana ma syuftusy hagah gambi..” jawabku sambil berlalu meninggalkannya.

         Aku harus menerima semua ketentuan yang Allah tuliskan padaku hari ini. Rizkiku sudah tertulis di lauh mahfuz. Buat apa gelisah, buat apa bimbang. Semuanya sudah pasti. Hanya nafsu manusia saja yang membuat hati menjadi beku dan kasar. Beku dari hikmah yang Allah sampaikan melalui berbagai kejadian dalam kehidupan. Kasar dari menerima ketentuan yang sudah dituliskan. Aku tidak boleh serakah.

         Perkiraanku aku akan mendapat sekitar 1200 pound Mesir untuk gajiku selama 30 hari. Namun ternyata aku terlalu takabbur dengan ilmu Allah. Yang berlaku bukanlah ketentuan dan segala perencanaanku, akan tetapi kehendak Allah. Aku terlalu jauh membuat planning dengan rencana akan menabungkan uang itu dan bahkan aku berniat untuk menukarnya dengan dolar.

         Sebelum gaji ini di tanganku hatiku sudah lelah terelbih dahulu dengan memikirkan bagaimana cara mentransfer dan melalui jasa siapa. Melihat rupiah sedang menguat dan dolar semakin turun. Jika aku kirim menjadi rupiah, maka otomatis akan menghasilkan nominal yang lebih kecil. Tapi subhanallah, hari ini Allah telah menghilangkan kebingunganku itu dengan memberikan rizki dengan jumlah yang tidak disangka sebelumnya. ‘ala kuli hal, aku hanya bisa bersyukur atas semua nikmatnya.

“  اللّهمّ إنّ هذه النّعة منك  وحدك, لا شرـيك لك فلك الحمد ولك الشّــكر ..

اللّهــمّ زدهــا نعـمةَ واحفظـهـا من الـزّوالــ  "



      Perlahan hatiku mulai cair dan bisa menerima apa yang aku alami hari ini. Sambil berjalan menuju pasar Abduh Basya mulutku bergumam meniru suara Syeikh Mishari Rasyid membacakan surat al baqarah juz tiga.

       Aku ingin membeli MP4 atau MP3 untuk merekam khutbah jum’at di berbagai mesjid di Negri para Ambiyai ini. Aku masih mempunyai waktu sekitar setahun setengah lagi untuk menggunakan waktu sebaik2nya. Semoga Allah memberikan umur yang panjang dan bermanfaat serta dipenuhi dengan keberkahan.

         Sekitar lima belas menit kulalui sambil muroja’ah juz tiga tidak terasa di depanku sudah berjejer kounter2 HP. Rupanya aku sudah sampai di pasar Abduh Basya. Kulihat dari kounter pertama hingga terakhir untuk melihat harga MP4 yang agak bersahabat dengan kondisi kantongku.

          Di kounter terakhir aku menemukan banyak pilihan untuk macam2 MP3, MP4 sampai MP5. Kulihat ke arah atas sebelah pojok kanan. Ada sebuah Mp4 berwarna biru – hitam berkafasitas 2 gyga bite.

“ habibi...MP4 di, bikam...? “

@  @  @  @



“ ko ga ada radionya ya...? “ gumamku dalam hati.

          Tanganku tidak behenti mengotak – atik MP4 yang baru saja kubeli dengan harga 110 pound Mesir. Fiturnya terlalu sederhana sehingga tidak heran dengan beberapa menit aku sudah faham cara pengoperasiannya. Dikarenakan tidak ada radionya terpaksa aku simpan dalam saku jasket. Mulutku kembali bergumam mengulangi beberapa ayat awal surat ali Imran meneruskan hafalan tadi yang belum selesai.

                Alangkah indahnya hidup dengan hati yang selalu tunduk dengan ketentuan – Nya. Kebahagiaan bukan terletak pada tempat dan waktu. Akan tetapi pada diri kita sendiri. Kita yang menciptakan. Kita yang merubah. Kebahagiaan bukan hanya di dalam istana yang megah, ataupun rumah mewah dengan aneka ragam buah2an dan makanan. Jika hati tidak pandai bersyukur, maka tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di dalam gedung berlapis emas sekalipun. Sebaliknya, sekalipun di dalam penjara dan hanya memakan roti kering. Bisa tampak indah dan menyenangkan. Berapa banyak ulama2 yang hidup di bawah tekanan penguasa hingga mendekam di dalam penjara untuk sekian lama. Namun keadaan demikian malah semakin membangkitkan semangat mereka dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kepada sang pencipta. Aku memang bukan bagian dari mereka, tapi tidak ada salahnya untuk mengikuti jejak dan manhaj mereka dalam menciptakan kehidupan yang kehadirannya laksna kupu2.

“ wan..!! kemana ajee..ente ? “  tiba2 ada orang memelukku dari depan. Aku penasaran siapa orang ini. Ketika dia melepasakan pelukannya baru aku bisa melihatnya dengan jelas.

“ oy...!! ente Mud !! alaaaaaaaaaaah......kangen ane sama ente neh..! tumben ada di bu’uts “

“  dari mana.? Udah ikut ane yuk ! kita makan di Thailand “

                Rupanya si Mahmud kawanku dari Timor Timur. Semenjak  menjadi ketua ikatan mahasiswa mesir  ma’had Darunnajah dia jarang sekali ada di Bu’uts. Paling hanya sekali dalam seminggu itupun sekedar mengisi absen agar takhallufnya tidak terlalu banyak. Tadinya aku memang berniat mampir di rumah makan Thailand, tapi ternyata sedang ada renovasi.  Namun tidak disangka di depan gerbang Bu’uts aku bertemu dengan si Mahmud. Akhirnya kita makan di rumah makan milik orang China tidak jauh dari  RM Thailand.

                Sudah hampir tiga bulan aku tidak pernah betemu dengan si Mahmud. Tidak heran selama perjalanan menuju RM China,  ketika makan bahkan hingga sampai ke kamarnya kita lalui dengan ngobrol sana – sini. Mahmud adalah salah – satu orang yang masuk dalam catatanku divisi SOSOK. Perjalanan hidupnya kalau boleh bilang “ ga masuk akal “ dan dipenuhi dengan keberuntungan. Tentunya semua itu bukan suatu kebetulan, melainkan sudah terrencana dan tertulis dalam kisah hidupnya di buku besar bernama “ ‘illiyyuun “. Semuanya adalah cerminan dari cinta kasih sang maha pengasih.

Kairo, Rabu 04 Mei 2010 Jam 01.55 Am

Madinet El Bo’uts El Islamea

1 komentar:

abahtahya mengatakan...

Subhanallah, alhamdulillah wa syukrillah. Sebuah pemahaman yang utuh, yang patut ditiru oleh siapapun yang ingin selalu dekat dengan Allah. Barakallahu fiik.

Posting Komentar