HARI KEENAM ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem.......
Selasa 06 Juli ’10
          Bangun subuh tadi, aku kebingungan harus berbuat apa. Pasalnya semua kegiatan sudah selesai dan tidak ada lagi kegiatan yang diadakan oleh panitia. Akhirnya aku lalui dengan menambah coretan di diaryku

. Sementara kawan2 lain, seperti biasa ada yang pergi jalan2 ke pantai dan ada pula yang pergi ke warnet, seperti yang dilakukan oleh si Aidhil, mau ketemu si mak cik, katanya. Ada juga yang lebih memilih berlama2 dengan pelukan bantal guling bu’uts di atas kasur empuk nan melenakan.
          Setelah sarapan pagi, barulah aku, furkan, mahmud dan gunawan pergi ke pantai untuk menikmati belaian ombak iskandariyah untuk yang terakhir kalinya. Karena besok pagi kita akan pulang ke asrama Kairo. Jadi hari ini harus aku puas2in dengan renang. Aku dan Furkan berenang di pantai yang gratis dan tidak terlalu ramai. Sementara Mahmud dan Gunawan berada di tempat yang ramai, tapi masih gratis. Hanya saja aku tidak bisa bersama mereka karena aku membawa kamera dan tidak bisa menyimpan pakaian. Akhirnya tidak lama kemudian si Heris datang ke pantai dan langsung saja aku titipkan kamera sambil mengambil photo2 terakhir kali di iskandariyah ini.
          Kali ini, aku tidak kaku lagi seprti pertama kali renang kemarin. Aku sudah agak terbiasa dan nafasku sudah bisa teratur. Gaya renangpun sudah semakin rapi hingga aku bisa berjalan sektar seratus meter dari arah perrtama aku melompat. Oya, pertama kali aku lompat terjun ke laut, Heris berhasil mengabadikan potoku tatkala terjun. Hahaha....lumayan
          Cukup lama aku dan kawan2 menikmati pantai iskandariyah yang terakhir kali ini. Sampai sekitar pukul dua belas siang kita masih terbuai dengan pulukan dan desiran ombak iskandariyah. Baru setengah satu siang kita pulang ke asrama. Setengah jam lagi adzan dhuhur berkumandang, maka kami harus sudah di asrama sebelum waktu shalat tiba. Sampai di asrama, kita langsung mandi dan setelah shalat dhuhur kita sekamar turun ke math’am secara berjama’ah. Sengaja karena selama ini, kita belum pernah mengambil memori dan mengabadikan photo2 kita di sekitar dapur. Makanya hari ini, mungkin terakhir kali kita makan di dapur iskandariyah, harus kita mafaatkan sebaik mungkin. Dan akhirnya tanpa ragu2 lagi kita mengambil beberapa kali jepretan di sekitar dapur sekaligus makanan dan menu yang di sajikan oleh math’am ini.
          Selepas acara makan siang, aku yang rencananya mau istirahat, tapi setalah melihat tetangga kamar yang akan pergi ke muntazah, akhirnya aku ikut saja dengna mereka. Karena kawan2 sekamarku sudah pada kecapean dan sedang istirahat. Tapi, sayangnya dalam rihlah ini, aku tidak membawa kamera sehingga  banyak moment yang tidak terbadikan. Hanya Azlan seorang yang membawa kamera, jadinya kita gantian berpoto di sana. Malah terkadang tidak sempat di photo sudah beranjak ke tempat lain. Hehhehe...kasian deh loh.!
         Sedari ba’da duhur hingga adhzan isya berkumandang kita masih berputar2 di sekitar daerah muntazah. Baru setelah shalat isya kita pulang ke asrama. Oya, satu hal yang perlu di catata di sini, di sela2 perjalanan kita di muntazah, kita sempat berpose dengan sepasang pengantin Mesir yang sedang jalan2 di sekitar pantai. Masih berpakaian resmi layaknya pengantin baru. Di seberang jalan kulihat seorang kameramen yang aku pikir sedang mengabadikan moment ini dari jauh. Rupanya di Mesir hal seperti ini sudah biasa. Sepasang pengantin denga mengenakan gaun pengantinnya berjalan mengelilingi pantai muntazah, sambil diabadikan. Owh....indah sekali pikirku.
           Tadinya, kita pulang mau pake tramco, tapi setelah sala – seorang dari kita yang menyarankan untuk berjalan akhirnya kita memilih untuk jalan kakin saja. Di samping tidak terlalu jauh, juga ini merupakan kali terakhir untuk jalan2 malam di sekitar pantai iskandariya.
          Selama di perjalanan pula kami lalui dengan mengobrol ria kesana kemari. Aku dan iqbal, kawanku asal padang lebih banyak mengobrol daripada kawan2 yang lain. Sambil berjalan pulang kita juga sempat membeli makanan yang ada di sekitar pantai. Popcorn, adalah salah – satu makaan yang lumayan bisa dijadikan sebagai menu pengisi tatkala kita sedang ngobrol ngalor – ngidul. Sesampainya di depan sebuah gerbang pantai yang khusus kalangan elit, boleh dikatakan begitu, karena untuk masuknya saja harus bayar. Kemudian menyewa meja juga bayar, terus memesan minuman dan lain2. Tapi, bagi kita kalangan mahasiswa dengna kondisi dompet yang selalu tipis, tidka perlu khawatir. Karena kita juga bisa menikmati apa yang mereka nikmati dari pinggiran jalan. Salah – satunya adalah nonton bola bareng. Ya, di sana dipasang layar lebar ukuran sekitar lima kali dua setengah, layar lebar yang menmpilkan pertandingan sepak bola Belanda vs Uruguay.
          Malam terakhir ini lumayan berkesan juga pikirku. Di pinggir pantai, aku masih menikmati pemandangan dua klub besar dunia yang sedang masuk di babak penyisihan. Kalau lolos di pertandingan ini, maka sang pemenang akan maju ke babak final. Melawan pemenang dari  Spanyol vs Jerman. Sungguh mengesankan.
Tapi sayang, karena baru saja setengah permainan perutku sudah bersuara tanda minta diisi. Akhirnya aku dan Iqbal memutuskan untuk pulang ke asrama sebelum acara pertandingan ini selesai. Sebelum ke asrama kita sempatkan ke warung kusyari dulu untuk sekedar mengisi perut agar nanti saat tidur tidak menderita. Heehe....
          Di pertengahan jalan setelah makan kusyari, kita sempatkan juga untuk meneguk segelas ashir ashob yang sangat terasa nikmat sekali setelah melakukan perjalanan panjang nan melelahkan. Baru setelah sampai di asrama, aku langsung gosok gigi dan ambil wudhu untuk kemudian shalat isya dan istirahat dech....
Selesai sudah cerita di hari ke enam..................


  

0 komentar:

Posting Komentar