HARI PERTAMA ( Mu'askar Iskandariyah )

Bismillahirrahmanirrahiem...
Kamis 01 Juli ‘10
          Alarmku berbunyi dengna nada syahdu syeikh mishari rasyid yang sedang mengumandangkan doa Qunuth. Aku terbangun dan langsung menuju hamam. Setelah shalat subuh aku lalui dengan menyeruput syai pagi asli Mesir. Sambil menunggu jam setengah tujuh, aku pastikan kembali barang2 akan dibawa, takut ada yang tertiggal. Seengah tujuh kurang lima menit, aku langsung menuju gerbang bu’uts di pinggit imaroh wafa’ rajab. Sesampainya di sana aku malah tidak melihat banyak orang, hanya si Arif saja yang sedang duduk sambil baca buku. Setelah kutanya dia katanya orang2 belum pada datang dia sendri tidak ikut sekarang, karena ari itu dia ada ujian terakhir.



Kutelpon si Mahmud, rupanya dia baru bangun tidur. Semalam habis bergadang katanya, nonton film korea. Tidak lama kemudian, datang Heris, Mahmud dan kawan2 lain dari berbagai negara. Dari pengumuman kemarin yang kulihat di dapur, waktu pemberangkatan akan dilaksanakan pada pukul setengah tujuh tepat, tapi nyatanya hingga pukul setengah delapan bahkan hampir pukul depalan pagi, masih belum pada kumpul semua. Ya, ssudah menjadi kebiasaan memang yang namanya jam ngaret. Tidak untuk orang Indonesia maupun orang Mesir. Budaya ngaret sudah menjadi tradisi juga di negara Musa ini.
         Dipunggungku tampak segembol tas besar berisi bekal dan pakaian selama satu minggu di alexandria.   Tadinya, dengan tergopoh – gopoh aku merasa sedikit khawatir ketika sampai di depan gerbang tidak kutemukan bus rihlah dan orang2 di sana. Aku pikir aku sudah ketinggalan. Mungkin sudah berangkat beberapa menit sebelumnya, pikirku. Aku setengah tegang, melihat tidak ada seorangpun di sana. Apalagi mobil yang biasa dipakai untuk rihlah tidak tampak keliatan. “ waah....kayaknya aku terlambat neh....”
Bertambah saja rasa panik dan takutku. Namun setelah beberapa lama datang orang2 yang ikut mu’askar. Sedikit – demi sedikit mereka semakin banyak dan ternyata rombongan belum pada berangkat. Baru aku bisa tenang dan rikelks. Kulalui waktu meenunggu dengan banyak bercengkrama bersama orang bangladesh, dan kawan2 di sampingku.
          Sekitar jam delapan lewat seperempat kita mulai berangkat dari bu’uts menuju Alexandria. “ bismillahi majreha wa mursaha.....” gumamku dalam hati. Aku duduk di sebelah Mamud el timori, satu – satunya orang Timor Timur yang ada di Mesir. Hidupnya sangat ajaib, seakan keberuntungan selalu bersamanya di manapun dan kapanpun dia berada. Aku sendiri takjub dengan sepak terjang dan kisah perjalanan hidupnya. Dia memang terlahir di Timor Timur, tapi dia maah hafal daerah2 sekitar jawa timur, jakarta bahkan daerah Mesir sekalipun. Terlebih lagi dia hampir sudah menjelajahi semua tempat pariwisata dan tempat bersejarah yang ada di Mesir. Kalau dipikir2 dari mana dia dapat dana, dan kesempatan untuk itu semua. Padahal sama sekali dia tidak dikirim dari indonesia. Sedangkan orang2 yang mendapat kiriman sendiri belum pernah mejelajah seperti yang dilaukan oleh eltimori ini. Subhanallaah........
          Selama di perjalanan Mahmud banyak memberitahuku tempat2 bersejarah sekaligus nama2 daerah yang kita lewati. Sesekali dia menunjukkan rute menuju ke salah – satu tempat bersejarah dari daerah yang kita lewati. Saking nikmatnya dibuai kursi mobil dan goyangannya di sepanjang perjalanan, ditambah suara Mahmud yang seakan mendayu – dayu ditelingaku. Membuat diriku tidak sadar kalau aku sudah sampai di alam mimpi. Seakan aku sudah melihat keindahan kota Iskandaria dan menghirup udara segar dari pantainya. Perjalanan Kairo – Alexandria memang boleh dibilang cukup lama dan melelahkan. Apalagi kalau naik kereta api, bisa membuat panas pantat dan terasa jenuh selama di perjalanan. Biasanya kalau pakai mobil tramco atau mobil travel bisa nyampe 4 jam. Kalau lewat kereta api atau lainnya biasanya nyampe 5 jaman atau mungkin lebih. Perjalanan yang sangat menjenuhkan bukan..
           Kembali aku tersadar setelah dibangunkan oleh Mahmud yang duduk di sampingku. Ternyata kita sudah sampai di kota yang bernama Alexandria. Ini merupakan pemandangan pertama kalinya bagiku. Menyaksikan suasana laut dan keindahan pantai alexandria. Tidak begitu lama kemudian kita sudah sampai di depan gerbang asrama al azhar cabang Alexandria,” Madinatul Bu’uts Al Islamiyah Far’ ul Iskandariyah “.
Kembali hatiku dikejutkan dengan pemandangan di depanku. Betapa tidak, ketika melihat pintu gerbang yang begitu indah, lebih indah dari gerbang bu’uts yang ada di Kairo. Jauh terawat dan terpelihara. Ketika memasuki daerah asrama, tampak lapangan putsal yang sangat rapi sekali. Aku lihat di samping kiriku ada satu lapangan putsal, satu lapangan basket, satu lapangan tenis dan dua lapangan volley ball. Semuanya sangat indah, rapi dan terawat sekali. Ditambah lagi lapangan itu dicat dengan warna yang cerah, membuat kaki dan tangan kita tidak sabar ingin menendang dan menampar bola. Di samping kanan aku lihat ada lapangan sepak bola yang cukup luas beralaskan rumput hijau yang jarang sekali kita jumpai di Kairo. Di depannya tampak asrama thulab berebrntuk huruf U dihiasi taman di tengah2nya dan berbagai macam bendera dunia sebelum di bagian depan.
          Setelah kita bergegas mencari kamar, dan mendapatkan tempat yang pas kita lalui dengan beristirahat. Selepas shalat dhzuhur kita sekamar yang berjumlah tujuh orang menuju dapur untuk makan siang. Setelah makan baru kita lanjutkan kembali istirahat kami hingga menejlang ashar. Di hari pertama ini tidak ada acarra yang diadakan oleh panitia rihalah. Memang khususs diperuntukkan untuk istirahat dan beres2 munkin.
Selepas shalat ashar, karena tidak ada kegiatan akhirnya kita lalui dengan jalan2 di pantai Alexandria. Subhanallaaah....merupakan pertama kali buatku, jalan2 di pantai alexandria. Berbeda dengan si Mahmud yang sudah tujuh kali ke alex. Kita telusuri seputar pantai sambil sedikit jepret2 di sana – sini. Di sepanjang pantai terliat sangat penuh sekali degnan pengunjung. Ribuan tenda didirikan di sekitarnya sebagai tempat berteduh bagi para pengunjung. Sekaligus lahan usaha bagi masyarakat sekitar. Kalau kitamah masuk lewat pantai yang gratisan saja, tidak jauh dari tempat2 mereka. Malah terletak ditengah2 tempat2 yang disewakan.
          Begitu melihat air laut yang melambai2 menyapa kita yang hanya berjepret2 di pinggira, Mahmud el timori tidak kuasa lagi menahan gejolaknya untuk merasakan belaiah ombak dan pelukan pantai alexandria. Dengan tanggap dia langsung melempar dirinya ke pelukkan hangat sang ombak. Dengan menirukan gaya tongkat dilempar aku sempat mengabadikan potonya ketika sesaat sebelum menyentuh air laut. Aku sendiri sebenarnya merasa tertantang dan tergoda sekali akan indahnya pemandangan pantai iskandariah. Deburan ombaknya sekana memanggil2ku untuk meneguk nikmatnya tenggelam dalam pelukannya. Lambaian ombaknya membuat kaki dan tanganku terasa linu untuk dipijatnya. Tapi tidak, hari ini aku tidak berpakaian renang. Biar kali ini aku lalui dengan melihat si Mahmud saja yang tengah asyik bermesraan dengan pantai iskandariah.
          Sekitar pukul setengah tujuh sore, baru kita pulang ke asrama. Walau sudah sore, tapi langit alexandria tidak menampakkan kegelapan dan suasana malam akan tiba. Kalau di Indonesia, mungkin seperti masih jam setengah lima sore atau jam empatan. Musim panas ini memang malam hari terasa sangat pendek sekali. Maghrib saja pukul delapan malam, sedangkan isya pukul setengah sepuluh malam. Selepas shalat isya sekitar pukul sepuluh an. Biasanaya jika dilalui dengna masak malam selesai masak sekitar pukul setengah dua belas bahkan bisa pukul dua belas malam. Tidak heran jika kawan2 termasuk aku sendiri sulit tidur malam di musim panas.
          Kembali dari jalan2 kita lihat di lapangan sudah ramai dengan kawan2 yang sedang olah – raga. Tanpa menunggu aba2 lagi kami bertiga, aku , Mahmud, dan Heris langsung menyerbu lapangan bola volley. Sangat menyenangkan sekali, kita lalui sore ini dengan bermain volley hingga menjelang maghrib. Net nya terasa sangat pendek sekali, sehingga membuat setiap pukulanku tidak pernah gagal menembus daerah lawan.
          Setelah shalat maghrib, baru kita berkunjung kepada kamar2 kawan seangkatan yang masih di ma’had iskandariyah. Yaitu Jahidin, Muttaqin, Iqbal dan Ziya’ul Haqq. Pertama kali kita menuju kamar Iqbal, kemudian ke kamar Jahidin dan stelahnya ke kamar Muttaqien. Di sana kita lewatkan dengan temu kangen dan makan2. Saking keasyikannya sampai2 tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Akhirnya kami mohon pamit dan kembali ke kamar untuk istirahat.
          Sebenarnya banyak ‘ibrah dan pelajaran yang aku ambil di sela2 kunjungan kami ke kamar kawan2. Tapi mungkin akan dibahas nanti. Muttaqien, Jahidien merupakan satu angkatan dengan kita. Sampai ke negri Musa ini tanggal lima, atau enam desember tahun 200 lalu. Hanya saja dari sekitar 90 orang waktu itu hanya mereka berempat yang tidak bisa masuk kuliah. Muttaqien dan jahidien disebabkan karena ijazah mereka yang kadaluarsa. Sedangkan azhar membatasi ijazah paling lama tiga tahun setelah masa dikeluarkan. Sementara dua orang lagi, Iqbal dan Ziya’ul Haqq, memang dari Indonesia dulu mendaftar sebagai murid SMA di alazhar. Karena mereka baru selesai MTS.
           Kita sekarang sudah di tahun tiga akhir, kalau lulus nanti berarti kita sudah memasuki tahun ke empat. Tinggal satu tahun lagi masa belajar kita di Mesir. Sementara mereka baru selesai kelas tiga Tsanawiyah atau kelas tiga Aliyah/ SMA dan setingkatnya jika di samakan dengan di Indonesia. Tahun ini, jika lulus mereka akan mulai memasuki bangku kuliah.
           Sungguh bukan hal yang ringan untuk menerima keputusan azhar saat pertama kali mereka tidak bisa memasuki bangku perkuliahan. Tapi degnan kesabaran dan kelapangan hati mereka, aku melihat banyak kelebihan yang mereka miliki dari pada orang2 yang langsung masuk kuliah. Ayyan maa kaanal amr, aku yakin mereka akan mereasakan banyak kemudahan dibanding kita selama belajar di perkuliahan al azhar nanti.
“ huaaaahhhh......!!! “
          Terasa kantuk semakin menerjang dua kelopak mataku. Membuatku sempoyongan ketika menulis ini. Aku paksakan untuk menulis penutupan pada catatan hari pertama ini. Aku sudah lelah kawan, hari ini cukup menyenangkan semoga hari2 berikutnya lebih menyenangkan lagi. Amiin.....
Hari pertama sudah selesai sampai di sini, besok kita mulai lagi hari ke dua ya...tunggu saja cerita berikutnya.
Sambil memeluk diary dan masih mengenakan sarung merah aku jatuhkan tubuhku ke atas ranjang baru. Kepalaku tepat berada di atas bantal panjang yang tidak empuk dan tidak juga keras. Setelah itu aku tidak sadar lagi aku berada di mana. Nfasku terasa seakan lambat, lemah, dan tidak bertenaga.
“ HZZZZZZZ........HUZZZZZZZZZZ....HZZZZZZZZZZZZHHHHHHHHHHHHH....ZZZHHH...HHHZZ ”

JUM’AT 02 JULI ’10
Alexandria 01.40 pagi W.I
Madinete el bo’utse el Islamea far’ iskandariyah

0 komentar:

Posting Komentar