Bismillahirrahmanirrahiem...
Senin, 05 Juli ‘10
Pagi ini, sekitar pukul sembilan pagi aku dan kawan – kawan sekamar tampak terlihat rapi sekali. Belajar dari kejadian kemarin yang hampir saja kita sekamar tertinggal bs untuk rilah ke maktabah. Hari ini
kita akan diajak jalan – jalan ke ma’alim iskandariyah atau tempat2 bersejarah di alexandria. Pada kesempatan kali ini, kita harus mendapatkan kursi paling depan sebelum orang lain datang menyerbu bus. Benar saja, kita termasuk orang2 yang pertama berada di dalam mobil. Dan ternyata kawan2 kamar lainpun sudah mulai turun sebelum jam sepuluh tiba. Rencananya rihlah pertama hari ini akan kita mulai ke benteng Qithbay di ujung selatan pantai Alexandria. Ini adalah benteng terkuat yang ada di sepanjang laut mediterania. Dibangun pada abad ke lima belas oleh sultan Asyraf Saifuddin Qithbay. Pernah mengalami renovasi beberapa kali dan setelah melalui masa sekitar dua tahun dari tahun 882 H sampai 884 H dengan memakan dana sekitar seratus ribu dinar emas baruah benteng ini dapat di selesaikan. Benteng ini juga termasuk salah – satu situs bersejarah dari situs2 lainnya yang berada di sekitar Alexandria. Bangunan benteng megah peninggalan puluhan abad silam ini masih berdiri tegap di ujung semenanjung pantai Iskandariyah. Masih sangat terawat, tidak berdebu dan tidak ada yang rusak. Berbeda dengan situs2 yang berada di Kairo. Semuanya berdebu dan malahan hampir rusak, seperti Piramid Giza yang hanya tinggal atasnya saja yang utuh setelah diterjang gempa beberapa puluh tahun dahulu. Rata2 di Kairo tempat bersejarah tidak terawat dengan baik. Sangat memprihatinkan sekali, sungguh aku sendiri sangat iba dan tidak tega ketika misalnya aku ziarah ke makam imam ibnu hajar al asqolani. Sungguh tidak ada seorangpun yang akan menyangkan bahwa itu adalah makam ulama besar pensyarah kitab Imam Bukhari. Atau ketika berkunjung ke mesjid alabaster, yang hampir pudar warna aslinya oleh lapisan debu. Padaal kalau disapu dan dibersihkan akan menambah nilai keindahan dan keunikannya.
Berbeda sekali dengna pemandangan yang sekarang sedang aku saksiksan sendiri di benteng Qithbey ini. Sangat bersih, rapi, dan masih sangat terawat. Lama kita lalui di sini dengna berjepret – jepret di setiap sudutnya. Tidak terlepas di atas benteng menembus pemandangan laut merah yang membentang luas di sampingnya. Jepret2an seakan tidak cukup dilakukan sekali – duakali di daera ini. Ingin rasanya mengabadikan setiap inci dan setiap jengkal dari situs yang satu ini. Tapi sayangnya, sedari awal rihlah aku sendiri lebih banyak menjadi photorafer daripadai modelnya. Aku sendiri sebenarnya kecewa sekali dengan ketidak adilan ini, tapi sudahlan. Padahal aku yang punya kamera, tapi kawan2 seakan tidak mau untuk bergantian memoto, sehingga tidak heran kalau potoku lebih sedikit dibanding dengan photo mereka. Selalu saja begini, dulu ketika aku rihlah ke piramid juga seperti ini. Padahal apa susahnya gantian memoto, toh tidak rugi dan tidak ada yang dirugikan. Hanya menekan tombol beberapa kali apa susahnya, bukannya mereka diuntungkan dengna kameraku.” Hhhhuhhhhhhhhhh......” kadang aku tidak terima, tapi yah sudahlah.
Mungkin ini merupakan kali terakhir aku berada di Mesir, tapi satu yang aku sangat sayangkan dari kawan2. Mereka belum bisa mengatur kecerdasan emosionalnya, sehingga yang ada di benak mereka “ yang penting aku enak “. Sudah aku bahas tentang sikap seperti ini dalam artikel sebelumnya. Aku berusaha tidak ambil pusing dengna sikap mereka, toh setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Aku hanya pasrahkan saja dan berusaha menghibur sendiri dengna berbagai cara yang bisa kulakukan.
Sebelumnya aku tidak terlalu menampakkan kekecewaanku kepada kawan2 perihal memoto ini, tapi dalam kesempatan ini aku sangat kecewa sekali dan tidak bisa menguasai emosi. Sehingga aku sedikit menghindar dari mereka, aku lebih memilih join ke kelompok lain dan berphoto ria dengan mereka. Maaf kawan, bukan maksudku menghindarimu.....aku hanya ingin mendapatkan hakku dengan baik. Aku tidak menyalahkan mereka ketika merka enggan untuk masak, atau enggan untuk mencuci barang2 bekas makan mereka sendiri. Tapi, bukannya selama ini aku sudah brusaha sabar sekali sob....
Oke, kita kembali lagi ke jepret2 di benteng qitbey.....
Tidak lama kita lalui berjepret ria di situs ini, karena panitia rihlah tampak tergesa2 ke arah kami sambil memberitahu untuk cepat2 menuju bus, karena akan menuju ke situs lainnya. Aku yang sudah terpisah dari kawan2 sekamarku langsung menuju bus dengan selamat, semantara si Mahmud dan kawan2 lain hampir saja terlambat. Malahan si Mahmud sendiri tertinggal di benteng qitbay. Setelah berada di dalam bus barulah mereka sadar kalau si Mahmud tertinggal ketika sedang memberli es krim tadi. Kucoba menelpon si Mahmud, tapi sial hapenya tidak aktif. Mungkin hapenya tertinggal di kamar.
Setelah dari benteng kami menuju kebun binatang yang ada di alexandria. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah satu. Kita hanya dikasih waktu sekitar setengah jam. Pukul satu lewat sepuluh nanti harus sudah kumpul lagi di dalam bus depan gerbang. Akhirnya, aku mengajak si Heris untuk mengambil photo di sekitar sini. Aku sengaja memisahkan diri untuk menghemat waktu dan agar bisa leluasa menjelajahi setiap jengkal dari kebun binatang ini. Lagian Furkan sendiri membawa kamera, Cuma sampai saat ini entah mengapa jarang dipakai.
Pertama kali aku ambil gambar seekor binatang gajah. Gajah merupakan binatang yang sangat langka di timur tengah. Oleh karena itu aku lebih memilih binatang gajah dahulu yang harus diabadikan. Setelahnya kita menuju kandang burung onta, dan sekaligus mengabadikan beberapa moment di sana. Seterusnya kita menjelajah setiap kandang yang ada di sana, hingga jam menunjukkan pukuli satu lewat lima menit.
Sebenarnya, kita kurang puas dengan fasilitas yang ada di kebun binatang ini. Beteapa tidak, hewan2 yang ada di sana sama sekali tidak aneh. Sedikit saja hewan2 yang dianggap menarik di sana. Selainnya hanya binatang biasa yang sering kita jumpai di sekitar kita seperti kambing, ayam, merpati, kucing, anjing de el el . sama sekali kurang menarik. Sebelum jam satu seperempat kita langsung menuju gerbang untuk mencari kursi bus paling depan. Kalah tidak, kita bisa tertinggal seperti si Mahmud.
Jam satu dua puluh, kita berangkat meninggalkan lingkunagn kebun binatang menuju asrama al azhar madinatul bu’uts al islamiyah far’ul iskandariya. Sesampainya di asrama sekitar pukul dua siang kurang seperempatan. Dari arah bus kami langsung menyerbu math’am yang sudah ramai dipenuhi orang2. Setelah makan siang, baru kami kembali ke kamar, kemudian shalat dhuhur dan istirahat. Setelah shalat ashar, kita tidak ada kegiatan lagi. Semua kegiatan yang diadakan oleh panitia sudah habis, tinggal satu lagi. Yaitu malam pembagian hadiah besok malam. Selepas shalat ashar aku tidka pergi kemana2, sementara sebagian kawan2 yang lain, seperti Gunawan dan Furkan lebih senang jalan2 sore di pinggiran pantai Alexandria.
Baru setelah shalat maghrib, ada acara terakhir yang harus kami lalui, yaitu pembagian hadiah dari perlombaan yang diadakan panitia selama ini. Alhamdulillah aku mendapatkan dua hadiah di acara ini, aku memenangkan juara satu lomba karikatur dan juara satu pula lomba makalah diniyah. Sementara Mahmud mendapatkan hadiah atas partisipasinya ketika acara bersih2 di hari kedua kemarin. Owh, rupanya ini alsan mengapa peserta bersih2 di suruh menuliskan nama. Semetara kawan2 sekamarku yang lain tidak ada yang aktif di perlombaan lainnya. Baru setelah acara ini kami adakan haflah terakhir yaitu acara makan malam di Alexandria. Kami akhirnya mengumpulkan uang, masing2 tiga puond untuk membeli ikan. Setelah terkumpul aku , Furkan dan Heris pergi membeli ikan bakar, sementara yang lain menyiapkan nasi dan lain2.
Sebenarnya kami masih mereasa asing di daerah iskandariyah, tapi kita jelajahi saja setiap terminal dan tempat2 yang terlihat ramai sambil bertanya di mana tempt yang menjual ikan bakar. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya kami berhasil menemukan tempat yang kita cari2. Kita membeli ikan bakar sekitar satu kilo setengah. Kemudian membeli satu botol besar mirinda, dan shipsi. Bru setelah itu kita kembali lagi ke asrama. Itupun setelah lama sekali kita berkeliling. Mahmud sedari tadi, sudah menelpon untuk cepat2 pulang, katanya kawan2 sudah mengantuk. Tapi kita belum juga mendapatkan ikan bakar yang dicari.
Pulang ke asrama sekitar pukul dua belas malam, dan langsung saja kita menyantap makan malam terakhir kali ini. Sebelum disantap kita sempat mengabadikan menu dan masakan terakhir kali ini. Nasi, telor dadar, ikan bakar, sambal, dan shyipsi. Di tambah satu botol mirinda besar.
Oya, sewaktu perjalanan pulang tadi, kami sempat ribut dengan pemuda mesir yang menjual hawawis. Pasalnya kita yang membeli dan memesan hawawis pertama, tidak dilayani dengna baik, malah tidka dianggap sama sekali. Akhirnya setelah ngamuk sana – sini, aku ambil kembali uangku, tidak jadi beli. Setelah berhasil aku ambil aku maki si pemuda mesir yang berbohong di hadapan banyak orang sambil berlalu meninggalkannya. Entah mengapa, yang jelas orang2 Indonesia, malaysia, thailand dan negara2 Asia lainnya. Lebih sering dipermainkan oleh orang2 mesir. Aku pikir jarang sekali orang2 Arab yang berprilaku baik dengan orang2 asing, hatta dengan orang mesir sendiri. Ya, memang tidka semua orang Mesir jahat, tapi orang2 yang berperilaku baik di negara Fir’aun ini hanya mereka2 yang sudah berusia lanjut. Adapun para pemudanya, aku pikir tidak ada yang bersifat baik, Illa qoliilaa.
selepas santapan malam tadi, kita langsung istirahat menunggu hari esok datang membawa segudang pengalaman. Oya, aku belum shalat isya, setelah gosok gigi, wudhu dan shalat isya, baru aku rebahkan tubuhku di atas kasur ranjang baru. Hehehe..^_^

0 komentar:
Posting Komentar